Jodoh Dokter Cantik

Jodoh Dokter Cantik
Eps 38.


__ADS_3

"He... aku bawa baby Kea ke Daddy-nya dulu deh, ya! permisi!" Cicit Jenny seraya meraih sang putri dari gendongan Lusi dan melengos meninggalkan pasang pasutri yang sepertinya akan memulai peperangan.


Sepeninggalan Jenny, pasangan suami istri itu ikut meninggalkan tempat yang mereka tempati tadi. Lusi lebih memilih mendekati stand makanan untuk sekedar mengganjal perutnya yang terasa mulai lapar.


"Hm... makan apa ya?! emm... donut aja deh!" Gumam Lusi seraya meraih piring tipis kecil yang tersedia di stand makanan.


"Sayang, kau sudah lapar, ya?! sebaiknya kita pulang saja yuk! lagi pula acaranya juga sudah hampir selesai, ko!" Seru Viky yang sejak tadi membuntuti istrinya.


"Sebentar lagi, deh! aku ingin mencicipi dulu donut nya, Ky! apa kau juga mau?!" Tawar Lusi seraya mendekatkan piring donut nya ke arah sang suami.


"Tidak! aku kurang suka makanan manis, sayang! sebaiknya kau cepat habiskan saja, aku akan mengajakmu makan malam di Restoran termewah setelah ini!" Tutur Viky.


"Tidak mau ya, ya sudah!" Ucap Lusi seraya melahap donut yang sudah dia ambil.


Satu gigitan lolos sempurna di mulut Lusi. Meninggalkan bekas sedikit krim strawberry di ujung bibirnya. Dengan sigap, Viky segera membersihkan sisa krim tersebut dengan ibu jarinya.


"Kau makan seperti anak kecil, sayang! apa donutnya enak?!" Ucap Viky mulai tergiur.


"Ini donut ternak yang pernah aku makan, Ky! emm..." Sahut Lusi seraya menggigit donutnya kembali.


"Astaga! aku bukan tergiur oleh donutnya, sayang! tapi aku benar-benar tidak tahan melihat bibirmu yang begitu menggoda saat mengunyah makanan itu!" Batin Viky.


Sekuat tenaga, Viky menahan keinginannya untuk meraup bibir ranum istrinya itu. Jika tidak, sudah di pastikan Viky tidak akan mendapatkan jatah buka puasanya nanti malam.


Uhuk...uhuk...


Tiba-tiba saja Lusi tersedak. Tanpa menunggu di perintah, Viky segera meraih gelas berisi minuman dan memberikannya pada sang istri.


Gluk...gluk...gluk...


"Ha... lega nya! terimakasih ya, Ky!" Ucap Lusi setelah meneguk minuman yang Viky berikan.


Tanpa Viky sadari, ternyata minuman yang dia berikan tadi merupakan minuman beralkohol. Padahal istrinya itu paling tidak bisa meneguk minuman yang mengandung zat tersebut. Sedikit tertelan saja, Lusi pasti akan langsung mabuk, apa lagi ini. Lusi meneguknya hingga tandas.


"Kenapa kau terlihat tampan sekali malam ini?!" Racau Lusi mulai kehilangan kesadarannya.

__ADS_1


"Kau baru sadar ya kalau suami mu ini tampan?! haist! untung kau istriku! kalau bukan, sudah pasti sudah aku usir sekarang!" Sahut Viky yang masih belum menyadari jika istrinya sudah mabuk.


"Aku ingin ke toilet! awas minggir!" Ucap Lusi seraya mendorong tubuh suaminya.


"Astaga! kenapa dengan istriku?!" Gumam Viky seraya meraih gelas yang tadi dia berikan pada Lusi.


Di ciumnya aroma minuman tersebut. Setelah tau penyebab istrinya bertingkah aneh seperti tadi, Viky segera menyusul Lusi yang sudah berjalan cukup jauh dari tempatnya berdiri tadi. Sesekali, Lusi terlihat berjalan limbung dan hampir tersungkur. Beruntungnya, Viky segera menghampiri dan membawanya kembali pulang saat itu juga.


"Astaga! kenapa aku bisa ceroboh?! dia kan paling tidak bisa minum alkohol?!" Gumam Viky seraya memapah Lusi ke arah mobilnya.


"Tuan! apa anda butuh bantuan?!" Seru Rei menghampiri.


"Cepat bukakan pintu mobilnya, Rei!" Sahut Viky seraya m nahan tubuh istrinya yang semakin tak sadarkan diri.


Dengan gesit, Rei membukakan pintu mobil bosnya dan membantu Viky merebahkan Lusi di bangku belakang. Awalnya, Viky berniat mengemudikan mobilnya sendiri. Namun, secepatnya dia urungkan setelah melihat Lusi meracau tak jelas seraya mencoba membuka lengan gaun yang dia gunakan.


"Astaga! sayang! kita belum sampai di rumah! haist! Rei, kau antar kamu dulu, deh!" Seru Viky.


Rei pun mematuhi perintah bosnya. Setelah duduk di kursi kemudi, Rei segera menyalakan mesin dan bersiap mengantar bosnya ke tempat yang di tuju. Selama di perjalanan, Lusi terus meracau kata-kata yang membuat junior Viky terbangun. Belum lagi, sentuhan-sentuhan menggelitik nan menggoda Lusi yang dia daratkan di berbagai titik tubuh suaminya itu.


Tak lama, mobil yang Rei kemudikan pun tiba di kediaman Viky dan Lusi. Di bukakan nya lebar-lebar pintu mobil dan juga pintu rumah Viky oleh Rei. Setelahnya, asisten andalan Viky itu meminta ijin untuk undur diri.


"Viky Misael, aku mencintaimu... kenapa kau malah berdiri terus di sana! cepat masuk! apa kau tidak ingin buka puasa ya?!" Racau Lusi di atas tempat tidurnya.


Viky yang baru saja menutup pintu kamar mereka pun tersenyum penuh kemenangan. Akhirnya yang dia tunggu-tunggu bisa di eksekusi juga. Tanpa menunggu apa pun lagi, Viky segera melepas pakaiannya hingga menyisakan underwear nya saja. Sejurus kemudian, dia beralih membantu Lusi melucuti pakaiannya.


"Sayang! malam ini kita cetak Viky junior lagi ya! semoga saja, Tuhan segera memberikan pengganti bayi kita secepatnya!" Gumam Viky sebelum melancarkan aksinya mengeksekusi sang istri.


Disaat Viky hendak mendaratkan ciumannya, tiba-tiba saja Lusi menutup mulutnya rapat-rapat seraya beranjak menuju wastafel.


Hoek...


Hoek...


Hoek...

__ADS_1


Muntahan makanan yang tadi sempat di tampung perut Lusi pun tercecer kembali lewat mulut mungilnya. Setelah merasakan pengar yang luar biasa, Akhirnya Lusi memuntahkan isi perutnya yang terasa di peras habis.


"Sayang! kau tidak apa-apa, kan?!" Tanya Viky menghampiri.


"Ha... kepalaku pusing sekali, Ky! badanku juga sangat lemas!" Keluh Lusi.


"Aku panggil Ariana ya! sepertinya kau butuh bantuannya, sayang!" Seru Viky seraya mencari benda pipih kesayangannya.


"Jangan! dia pasti sedang tidur nyenyak sekarang, dia baru saja pulang bertugas soalnya!" Cegah Lusi yang tak ingin mengganggu waktu istirahat sahabatnya.


"Lalu kau bagaiman?! apa kita ke rumah sakit saja?! aku tidak tega melihatmu seperti ini, sayang!" Tutur Viny gelisah.


"Aku punya pereda pengar di dalam laci meja dekat tempat tidur, Ky! tolong ambilkan sekarang juga ya!" Pinta Lusi.


"Kau menyimpan obat pengar di laci?! astaga, sejak kapan?!" Tanya Viky seraya menghampiri meja samping tempat tidur.


"Sudahlah! itu tidak penting, mana kemari kan!" Tadah Lusi.


Viky segera menyerahkan obat pereda pengar pada sang istri. Entah sejak kapan obat tersebut tersimpan di laci meja kamarnya. Namun yang Viky sayang kan saat ini, Lusi ternyata langsung tertidur pulas setelah meneguk obat tersebut. Membuat eksekusinya gagal total tak terealisasikan.


"Yahh... sepertinya jatah puasaku malam ini gagal lagi!" Sesal Viky.


Malam semakin larut, akhirnya Viky pun ikut membaringkan tubuhnya di samping sang istri yang sudah terlelap nyenyak. Mungkin dia harus sedikit bersabar lagi sebelum menanam benih Viky juniornya.


.


.


.


.


.


See you next episode...

__ADS_1


__ADS_2