
Masih flash back.
"Hm... baiklah, Pih! kalau begitu Liana kembali ke lokasi pemotretan dulu ya! kalian hati-hati di jalan, ya!" Sahut Liana seraya mengecup kedua pipi orangtuanya sebelum bergegas pergi.
Di lokasi pemotretan saat ini, Liana nampak profesional menunjukkan beberapa pose memukau. Model cantik itu, semakin menebarkan aura terbaiknya hingga pemotretan pun selesai.
"Bagus! hari ini benar-benar memuaskan! terus pertahankan kharisma mu itu ya, Li!" Seru sang fotografer.
"Ok!" Sahut Liana seraya melenggang menghampiri Siren yang sudah mengayunkan sebotol air putih untuk Modelnya.
"Kerja bagus, Li! aku benar-benar tak menyangka! ternyata bakat mu di bidang Model benar-benar sangat keren!" Ucap Siren seraya mengudarakan kedua jari jempol tangannya.
"Kau terlalu berlebihan, Ren! aku masih harus banyak berlatih, ko!" Sahut Liana seraya meraih ponselnya.
Di ketiknya beberapa huruf di papan keyboard ponsel miliknya. Senyum merekah pun tak henti Liana perlihatkan di bibir ranumnya.
"Sepertinya kau sedang bahagia, ya? ada hal apa sih? kau sampai tersenyum sepanjang hari begini?!" Tegur Siren yang mulai penasaran, karena Liana sejak tadi asik berbalas chat entah dengan siapa. Namun di lihat dari wajahnya yang selalu berseri-seri, Siren jadi menduga jika Liana sedang jatuh cinta.
"Aku memang sedang bahagia hari ini, Ren! lihatlah! apa kau masih mengenali pria di foto ini?!" Ucap Liana seraya menunjukkan foto seseorang yang begitu di kenali oleh dua perempuan itu.
"Siapa?".
Deg...
Setelah melihat foto yang di tunjukkan Liana. Siren merasa sedikit gelisah. Entah mengapa, hatinya seakan tidak tenang jika Liana membicarakan pria impiannya sejak duduk di bangku kuliah dulu.
"Dia Viky Misael Andreas, Ren! kau masih ingat dia, kan?!" Ucap Liana.
"I...ini Misa yang pernah menolong ku bersama mu waktu itu ya?!" Tanya Siren seraya mengingat kejadian saat dirinya di bully oleh teman-teman kampusnya.
Lamunan Siren.
Karena tubuhnya yang gemuk. Tidak jarang, Siren sering menjadi bahan bully teman-temannya. Seperti yang pernah dia alami saat keluar dari toilet beberapa waktu silam. Tanpa aling-aling, Siren di siram air bekas pel oleh teman-temannya. Tubuhnya yang sudah menggigil dan basah kuyup menjadi tontonan yang menghibur bagi teman-temannya itu.
Beruntung di saat itu, Liana yang tak lain sang bintang kampus, melihatnya. Tanpa berpikir panjang, Liana menghampirinya dan berusaha menolong Siren.
"STOP!!! apa yang kalian lakukan padanya?! Siren juga teman kita! kenapa kalian memperlakukannya seburuk ini?!" Bentak Liana.
"Sudahlah cantik! kau jangan membelanya, wanita gendut ini memang sangat pantas menerima perlakuan kita ini, benarkan teman-teman?!" Sahut salah satu teman Liana yang menyiram Siren.
"Astaga! mereka benar-benar sudah tidak punya perasaan, ayo! sebaiknya kita ganti pakaianmu sekarang!" Seru Liana.
__ADS_1
Disaat Liana dan Siren hendak berdiri, salah satu teman wanita Liana hendak melempar telur busuk ke arah Siren. Namun beruntungnya lagi, kali ini Siren di tolong seorang pria tampan yang tak lain, Viky.
Pluk...
"Haist!!! kenapa kau muncul tiba-tiba?!" Umpat teman wanita Liana tadi.
"Apa kalian berdua baik-baik saja?!" Tanya Viky.
"Kami baik-baik saja, Sa! pakaianmu jadi kotor gara-gara kami, sebaiknya kita semua pergi dari sini sekarang, ayo!" Seru Liana seraya membantu Siren beranjak berdiri.
Namun gadis gendut itu enggan beranjak karena malu kemeja yang dia kenakan tembus pandang karena basah terkena air siraman pel tadi. Tanpa di duga, Viky melepas jaket levis yang dia kenakan untuk gadis gendut itu.
Deg...
Detak jantung Siren tiba-tiba saja berpacu cepat saat Viky memakaikan jaket miliknya di tubuh gemuk Siren.
"Dia baik sekali padaku?! apa dia suka padaku?! ha... jangan bermimpi Ren! kau ini gadis gemuk yang sangat jelek!" Batin Siren.
Setelah mereka bertiga pergi dari kampus, Liana mengajak Siren ke apartemennya. Gadis cantik itu memberikan sedikit pengetahuan merias diri pada gadis gendut itu. Hingga suatu hari, Siren kembali ke kampusnya dengan dandanan barunya.
"Hei lihatlah! ada badut dari mana itu?!" Seru salah satu mahasiswa seraya menunjuk ke arah datangnya Siren.
"Ahahaha... dandanannya benar-benar aneh!" Kelakar beberapa mahasiswa lainnya.
"Mana? astaga?! ada apa dengan wajahnya?! ptsss!" Ucap Viky seraya menahan tawanya.
"Hei, kau tidak boleh begitu! dia pasti sakit hati jika tau kau menertawakannya!" Tegur Liana.
"Ups! sorry!" Ucap Viky seraya menutup mulutnya sendiri dan menghentikan kekehannya.
"Benar-benar sempurna! dia tidak hanya cantik paras saja! tapi hatinya juga begitu baik dan tak kalah cantik dari penampilan cantiknya!" Batin Viky penuh kagum.
Tiba-tiba Siren menghampiri mereka dengan raut wajah yang sudah memerah.
"Lia... apa ada yang salah ya dengan penampilanku?!" Tanya Siren.
"Sebenarnya kau itu sangat cantik, Ren! kau sudah sempurna tanpa polesan pun!" Ucap Liana penuh keteduhan.
"Lia benar, Ren! sebenarnya cantik itu tidak harus selalu dari penampilan saja! kau itu sudah memiliki hati yang cantik, jadi kau harus percaya diri! jangan biarkan orang-orang menindas mu lagi, kau pasti bisa!" Sahut Viky seraya memegang kedua sisi bahu Siren.
Pandangan mata yang memberi semangat dari Viky ternyata telah di salah artikan oleh Siren. Gadis gemuk itu pikir, Viky memiliki perasaan padanya, sehingga dia pun semakin mengagumi sosok pria tampan blasteran di hadapannya.
__ADS_1
"Dia benar-benar pangeran tampan ku!" Batin Siren ambigu.
Semenjak hari itu perasaan suka Siren semakin tumbuh besar untuk Viky. Apalagi hari-hari selanjutnya dia selalu habiskan dengan bersama kedua anak manusia yang selalu baik padanya. Membuat Siren semakin memiliki waktu kebersamaan bersama sang pria impian.
Hingga pada saat hari itu tiba, saat Siren sudah membulatkan tekadnya untuk mengungkapkan isi hatinya. Viky di ajaknya bertemu di tempat biasa mereka bertiga berkumpul. Kebetulan, Viky pun ingin membicarakan sesuatu pada Siren juga hari itu.
"Apa kau sudah menunggu lama?!" Tanya Viky yang baru saja tiba.
"Ti...tidak, aku juga baru saja tiba barusan!" Sahut Siren terbata.
"Ha... syukurlah! apa Liana tak ikut dengan mu?!" Tanya Viky seraya memindai sekeliling mereka mencari orang yang dia tanyakan.
"Lia sedang mengurus persiapannya untuk keluar Negeri! jadi dia tidak bisa ikut kita berdua berkumpul di sini!" Sahut Siren menjawab.
"Hm... apa dia sudah mau berangkat ya?! sepertinya aku harus segera mengungkapkan perasaan ku ini secepatnya!" Gumam Viky yang masih bisa di dengar oleh Siren.
Tiba-tiba dekat jantungnya serasa terhenti. Nafasnya menjadi sesak menusuk hingga ke hatinya. Siren yang awalnya sudah sangat yakin dengan tekadnya untuk mengungkapkan rasa sukanya itu terlihat kalah sebelum berperang. Gadis gendut itu berusaha menutupi rasa sakit hatinya dengan berpura-pura kuat di depan pria yang dia sukai.
"Apa kau menyukai Lia?!" Tanya Siren.
"Entahlah, tapi sepertinya aku tidak akan bisa tenang jika tidak mengatakan perasaan ku ini padanya!" Tutur Viky.
Siren menghela kasar nafasnya, mencoba menahan kekecewaan atas apa yang dia terima saat ini.
"Kalau begitu, pergilah Vik! kejar dia, dan katakan perasaanmu padanya!" Seru Siren.
"Aku tidak yakin dia menyukaiku juga Ren! aku ragu, aku takut dia tolak!" Lirih Viky.
"Kalau kau tak mencobanya, bagaimana kau bisa tau jawabannya! pergilah!" Seru Siren lagi yang sudah tidak kuat menakan bulir bening di pelupuk matanya.
"Ya! kau benar Ren! terimakasih, ya! kalau begitu aku pergi dulu!" Viky segera bergegas dari hadapan Siren.
.
.
.
.
.
__ADS_1
See you next episode...