
Sayangnya, hari itu ternyata Liana bukan hanya mempersiapkan keperluannya untuk ke luar Negeri, melainkan pemberangkatannya demi mengejar cita-citanya menjadi seorang Model.
Viky yang sudah berusaha mengejar, akhirnya harus menerima kekecewaan juga. Dia tidak sempat bertemu dan mengungkapkan isi hatinya pada Liana. Apa lagi sehari sebelum pemberangkatannya, Liana kehilangan ponselnya, sehingga dia kesulitan menghubungi gadis cantik itu.
****************
"Ren! Ren! kenapa kau malah melamun?!" Teguh Liana membuyarkan lamunan Siren.
"Ah... maaf! aku rasa, aku melupakan sesuatu di rumah, Li! jadi aku kepikiran benda tersebut barusan!" Sahut Siren berbohong.
"Oh begitu ya, aku pikir kau kenapa! oh iya, apa kau tau Ren?! sebenarnya aku akan di jodohkan oleh kedua orangtuaku!" Tutur Liana.
"Di jodohkan?! apa masih ada ya budaya perjodohan seperti itu di jaman modern seperti ini?!" Sahut Siren.
"Ada! ya buktinya aku ini!" Ucap Liana seraya terkekeh.
"Hm... mungkin orangtua mu ingin kau menikah dengan orang yang tepat, Li!" Sahut Siren sedikit lirih.
"Benar! dan apa kau tau, Ren?! ternyata calon yang akan menjadi suamiku adalah...Viky!" Ucap Liana dengan senyum merekah di bibirnya.
Model cantik itu sebenarnya sudah lama juga menaruh hati pada Viky, meski mereka terpisahkan oleh waktu cukup lama, namun ternyata takdir mempertemukan mereka lagi.
"A...apa?! ja...jadi kau dan Viky?!" Tutur Siren terbata.
"Benar, Ren! aku akan bertunangan secepatnya dengannya!" Sanggah Liana.
"Tidak... tidak mungkin! mereka tidak boleh bersatu, aku tidak rela mereka bersatu!" Batin Siren.
"Ren! kau kenapa melamun lagi sih?! apa kau memikirkan benda yang tadi kau lupakan itu ya?! apa kau ingin pulang sekarang?!" Cecar Liana.
"Ah... iya Li! sepertinya aku memang harus segera pulang sekarang!" Ucap Siren.
Tanpa menunggu persetujuan Liana lagi, Siren segera meraih tas miliknya dan bergegas pergi. Membuat Kalian sedikit merasa bingung dengan tingkah temannya itu.
__ADS_1
"Sebenarnya apa yang terjadi padanya?! hm... sudahlah, sebaiknya aku bersiap saja! pokoknya malam nanti aku harus tampil secantik mungkin!" Gumam Liana seraya bersiap pulang.
Satu bulan kemudian, hubungan Liana dan Viky semakin dekat, dan tepat hari ini mereka akan melangsungkan pertunangan.
Acara yang di gelar cukup meriah itu di hadiri beberapa rekan bisnis Papih Kevin dan Papih Adrian. Mereka semua nampak bahagia karena baik Papih Adrian dan Papih Kevin akhirnya bisa mewujudkan keinginan mereka untuk menjalin persahabatan menjadi sebuah keluarga dengan menikahkan putra putri mereka.
Di Minggu selanjutnya, Liana hendak menjemput sang adik di kampusnya. Sayangnya Minggu lalu itu, sang adik tengah melaksanakan ujian praktek di kampusnya, sehingga dia tidak bisa menghadiri hari bahagia Kakaknya tersebut. Dan di saat itu lah, Siren menyusun rencana untuk mencelakai Liana dengan ide liciknya.
Dengan uang yang tak sedikit, Siren meminta seorang tukang untuk memutus kabel rem di mobil yang Liana kemudikan. Saat menemui jalanan yang curam, Liana dan Lusi pun tak dapat menghindari kecelakaan lagi. Demi melindungi sang adik tersayang. Liana membanting stir mobilnya agar Lusi tak terbentur sisi jalan yang merupakan batas sebuah jurang.
Bruakkkk....
Wiuw...wiuw...wiuw...
Suara ambulan pun terdengar memekakkan telinga. Dengan segera petugas kepolisian dan tim medis mengevakuasi dua korban kecelakaan tunggal tersebut di tempat kejadian perkara.
Di saat kesadarannya yang kian menghilang, Lusi sempat melihat seorang wanita gemuk tengah tersenyum melihat ke arah mobilnya yang sudah hancur sebagian, khususnya di bagian samping yang Liana tempati mengemudi.
Siren yang sadar Lusi melihatnya pun segera bergegas pergi dari lokasi kejadian kecelakaan tunggal tersebut. Dia harap, adik dari rivalnya itu tidak mengetahui siapa dia sebenarnya.
Tiga hari kemudian, Lusi sudah di perbolehkan pulang dari Rumah Sakit. Meski begitu, dia masih harus banyak beristirahat di rumah. Kondisi mentalnya yang masih belum stabil akibat syok kehilangan buah hati, ternyata masih selalu menghinggapinya. Membuat Mamih Alina merasa iba pada sang putri, sehingga dia memutuskan untuk membawa Lusi keluar Negeri untuk sekedar healing. Agar putri tersayangnya itu bisa sedikit melupakan kesedihannya atas kehilangan calon cucu nya.
"Aku ikut ya, Mih! aku takut kalian di sana butuh sesuatu!" Seru Viky memohon.
"Tidak perlu khawatir, Ky! di sana Mamih sudah di dampingi oleh beberapa anak buah Papih kamu, ko Nak! sebaiknya kamu cari saja sampai dapat pelaku teror nya! Mamih benar-benar ingin melihat pelakunya itu di jebloskan ke penjara secepatnya!" Ucap Mamih Alina.
Viky menghela kasar nafasnya. Sebenarnya dia begitu berat berpisah dengan sang istri. Apalagi setelah kejadian kemarin itu, dia semakin bertambah khawatir dan cemas jika Lusi tak ada di dekatnya. Namun Viky juga tak bisa memaksakan kehendaknya sendiri. Saat ini Lusi memang membutuhkan healing untuk memulihkan kondisi mentalnya yang sedang terguncang. Akhirnya dengan berat hati, Viky mengijinkan istri dan mertuanya untuk pergi ke luar Negeri.
"Hm... baiklah! Viky akan secepatnya menjebloskan orang jahanam itu ke penjara, Mih! kalian berhati-hati lah, hubungi Viky segera jika terjadi sesuatu!" Seru Viky.
Di liriknya pintu kamar yang saat ini di tempati oleh sang istri. Sejak pulang dari Rumah Sakit. Lusi lebih banyak diam dan tak ingin di dekati oleh Viky. Sehingga Dokter cantik itu memilih tidur di kamar berbeda. Rasa kecewanya pada pria tampan blasteran itu masih sangat mendominasi perasaannya. Lusi benar-benar masih belum bisa menerima kenyataan jika sang jabang bayi harus terenggut dengan cara yang tragis.
"Masuklah, nak! cobalah bicara padanya sekali lagi! jika dia masih menolak, maka kau harus bersabar! semoga setelah pulang dari luar Negeri nanti, Lusi sudah bisa melupakan semua trauma dan kekecewaannya!" Seru Mamih Alina yang tak tega melihat sang menantu yang terus di abaikan oleh putrinya.
__ADS_1
"Hm... aku coba ya, Mih!" Viky menghela nafasnya sebelum melenggang memasuki kamar sang istri.
Sebenarnya rasa rindunya sudah sangat menumpuk, menunggu di curahkan. Namun Lusi sepertinya masih enggan untuk menerima rindu suaminya itu. Jangankan melepas rindu, rasanya menatap wajah suaminya saja, Lusi sangat enggan.
Ceklek...
Drop...
Viky membuka pintu dan menutupnya lagi setelah berhasil masuk ke dalam kamar sang istri. Di lihatnya, sang istri tengah termenung di depan jendela yang di buka lebar seraya memeluk kedua lutut yang Dokter cantik itu tekuk dalam posisi duduk. Dagunya yang lancip di sanggah di atas lutut. Tatapan matanya kosong, lurus ke depan, menyiratkan penuh kesedihan.
"Sayang!" Seru Viky menghampiri. Tidak ada jawaban dari bibir ranum Lusi, hanya hening yang menemani mereka di kamar tersebut.
"Sayang! aku merindukan mu!" Kali ini Viky memberanikan diri memeluk istrinya dari belakang. Pria tampan blasteran itu sudah tak bisa menahan keinginan lagi untuk kembali berdekatan dengan sang istri.
Entah memang tidak menyadari kehadiran suaminya, atau sudah tak perduli lagi. Kali ini Dokter cantik itu terlihat diam tak memberontak. Kesempatan itu benar-benar di manfaatkan oleh Viky untuk mencurahkan rindunya pada sang istri.
Dikecupnya lama kepala sang istri. Viky benar-benar sangat merindukan wanitanya itu. Rasanya dia ingin sekali membalikkan tubuh Lusi dan memeluknya dari depan. Namun dia harus bersabar, jangan sampai suasana hati Lusi berubah lagi hanya karena dia yang tak sabaran.
"Sayang, apa kau yakin akan pergi ke luar Negeri?!" Lirih Viky seraya mengendus pundak sang istri.
Lusi menggeliat, dia melepaskan pelukan Viky dan beranjak berdiri. Dokter cantik itu seakan tak menganggap keberadaan sang suami yang selalu mengharap maaf dan kasih sayang darinya.
"Sayang! tinggal lah di sini! aku janji tidak akan menganggu mu, jangan tinggalkan aku, please!" Bujuk Viky seraya menahan tangan Lusi yang hendak masuk ke dalam kamar mandi.
"Lepas, Ky! aku mau mandi!" Ucap Lusi ketus seraya menepis tangan sang suami yang mencekal nya.
.
.
.
.
__ADS_1
.