
"Kau harus ingat, Si! kejadian kemarin itu masih menyisakan misteri tentang siapa dalang yang ingin mencelakai mu! dan yang aku tau, selama ini suami mu tidak hanya diam! dia sudah bekerja keras mengerahkan anak buahnya demi mencari siapa orang yang sudah membuat kau dan anak kalian celaka!" Ariana menyeruput tehnya setelah menuturkan apa yang ingin dia ucapkan pada Lusi.
"Apa yang Ari katakan memang benar! sebenarnya, aku juga tidak ingin berlama-lama menghindari, Viky! apa ini sudah waktunya?! tapi aku rasa, aku memang harus pergi dulu beberapa hari ini! semoga setelah aku menenangkan diri, aku s makin mantap untuk memaafkan, Viky!" Batin Lusi bermonolog.
Malam kian larut, Lusi meminta Ariana untuk menginap di rumahnya dan menemaninya tidur malam itu. Beruntungnya Ariana libur bertugas esok harinya.
Pagi pun menyapa, kedua perempuan berprofesi Dokter dengan bidang keahlian berbeda itu pun terlihat menggeliatkan tubuhnya saat sang surya menyengatkan sinarnya melalui celah jendela yang di buka semalaman.
"Selamat pagi! hoam... tidur ku benar-benar nyenyak malam tadi!" Gumam Ariana.
"Hm... kau nampak bersemangat sekali pagi ini!" Sahut Lusi yang masih bergelung di bawah selimutnya.
"Harus dong! Ini kan hari libur ku! jadi aku akan memanfaatkan hari bebas ku ini sepuasnya seharian!" Ucap Ariana seraya beranjak dan menuju kamar mandi di kamar itu.
Lusi menatap nanar punggung sang sahabat hingga menghilang di balik pintu kamar mandi. Dia memikirkan lagi perkataan Ariana semalam yang begitu banyak membuat hatinya merasa bersalah pada sang suami.
"Aku merindukan mu, Ky! aku harap kau bisa sabar menunggu ku hingga kembali nanti!" Batin Lusi seraya menatap foto pernikahannya bersama sang suami yang terpasang di dinding kamar.
Selesai membersihkan diri, Ariana berniat pamit pada Lusi. Namun ternyata sahabatnya itu sudah tak terlihat di kamar tersebut. Ariana tak menghiraukannya. Dia pikir, Lusi mungkin saja bergegas ke dapur dan menyiapkan sarapan saat itu.
Ceklek...
Dengan penuh hati-hati, Lusi mencoba memasuki kamarnya bersama Viky. Diedarkannya kedua bola mata hazelnut miliknya itu ke segala arah kamarnya. Memindai sosok sang suami yang masih ingin dia hindari pagi ini.
"Haa... untunglah, sepertinya dia sedang mandi! aku harus bergegas mencari koper dan memasukkan beberapa pakaian yang akan aku bawa!" Gumam Lusi seraya memasuki walk in closet di kamarnya.
Cukup 3 helai pakaian yang Lusi pilih untuk di masukkan ke dalam koper kecilnya. Dia memang tak berniat pergi terlalu lama. Meski dia masih sangat kesal pada Viky, tapi Lusi tak pernah mengabaikan tanggung jawabnya sebagai istri, kecuali tanggung jawabnya di atas kasur.
"Nah... sudah selesai, tinggal apa lagi ya?!" Gumam Lusi memindai isi kopernya.
"Ah... aku belum memasukkan sabun mandi! tapi... itu kan ada di dalam kamar mandi! ha... apa aku beli di mini market saja ya?!" Gumam Lusi bermonolog.
Drop...
Suara pintu di tutup terdengar di indera pendengaran Lusi. Sepertinya suaminya itu telah selesai mandi. Seketika, Lusi panik sendiri. Dia begitu takut ketahuan jika dirinya mengendap-endap masuk ke dalam kamar mereka itu.
__ADS_1
"Aduh... bagaimana ini, pasti saat ini dia akan kemari untuk mengambil baju!" Gumam Lusi yang masih berdiri di dalam walk in closet kamarnya.
Tiba-tiba sebuah tangan kekar memeluk perutnya dengan mesra. Membuat Dokter cantik itu terkejut bukan main.
"Aaaaa! lepaskan aku! tolong!!!" Jerit Lusi.
"Sayang, tenanglah! ini aku!" Sahut Viky berusaha menenangkan sang istri.
"K...kau?! kenapa kau mengejutkan ku seperti ini?!" Gerutu Lusi.
"Seharusnya aku yang bertanya padamu, sayang?! kenapa kau bisa ada di dalam sini sekarang? apa kau benar-benar akan pergi?!" Tanya Viky lirih.
Sorot mata pria tampan blasteran itu terlihat begitu nelangsa. Viky benar-benar tidak ingin istrinya pergi, namun sepertinya dia sudah tak dapat mencegahnya lagi. Lusi benar-benar tidak bisa di rayu lagi agar tidak pergi.
"A...aku sedang berkemas! kau cepatlah pakai baju mu! aku akan melanjutkan berkemas nya, nanti!" Gugup Lusi seraya melihat pemandangan yang begitu dia rindukan beberapa hari ini.
Dada bidang suaminya yang selalu menggoda itu seakan melambai-lambai meminta dielus. Apa lagi aroma tubuh Viky yang segar begitu menusuk di indera penciumannya. Membuat Lusi hampir mabuk dan jatuh pada godaan tubuh suaminya itu.
"Astaga! kenapa tubuhnya terlihat begitu seksi?! aku bisa gila jika berlama-lama menatapnya!" Batin Lusi.
Deg...deg...
"Di...Dia mau apa? tidak mungkin kan dia akan memaksaku melakukannya di sini?" Batin Lusi.
Viky melangkah semakin dekat, hingga Lusi pun mengayun mundur langkah kakinya ke belakang tanpa sadar. Satu langkah, dua langkah, hingga ke tiga kalinya dia hendak melangkah.
Duak...
"Awwssss!" Ringis Lusi yang merasakan punggungnya yang membentur sesuatu yang keras di belakangnya itu.
Viky yang melihat tingkah istrinya itu hanya terkekeh tanpa mau berucap sepatah kata pun.
"Kenapa kau tertawa?! kau sangat senang ya melihatku kesakitan?!" Rutuk Lusi.
"Haist! istriku kenapa semakin menggemaskan, sih?!" Ucap Viky seraya mengulurkan salah satu tangannya di sela leher samping, Lusi.
__ADS_1
"Ka...kau mau apa?!" Gumam Lusi terbata.
"Kenapa? apa aku tidak boleh..." Viky menggantungkan ucapannya seraya mendekatkan wajahnya ke arah wajah sang istri yang sudah memerah sempurna bak kepiting rebus.
"Ishh... cepat minggir, aku mau keluar!" Seru Lusi mencoba berontak. Namun secepat kilat, Viky mengunci tubuh sang istri dengan kedua tangannya yang dia letakkan tepat di kedua sisi tubuh Lusi.
"Kau mau kemana? bukannya istri yang baik akan menyediakan pakaian suaminya, ya?!" Tutur Viky.
"I... itu, kau kan sudah berada di dalam ruang pakaian, kenapa kau meminta ku lagi untuk menyiapkannya?! benar-benar merepotkan!" Gerutu Lusi.
"Hm... jadi kau selalu merasa direpotkan ya selama menyiapkan pakaian ku?!" Ucap Viky sedikit membuang wajah.
"Bu... bukan begitu, hanya saja, saat ini aku benar-benar sedang repot! iya! aku juga sedang repot berkemas untuk perjalananku ke luar Negeri!" Sahut Lusi.
"Sayang!" Tanpa menunggu aba-aba lagi, Viky segera mendaratkan ciumannya di bibir ranum sang istri yang selalu membuatnya candu.
Emmm...
Lusi berusaha memberontak sampai akhirnya dia tidak sadar sudah meloloskan handuk yang melingkar di tubuh sang suami yang masih polos tanpa sehelai benang pun.
"Astaga! ternyata kau juga sangat menginginkannya ya, sayang?!" Tutur Viky setelah melepaskan pagutan bibirnya.
"Aaaaaa... kenapa junior mu cepat sekali on begitu?!" Jerit Lusi saat melihat penampakan barang pusaka suaminya yang sudah kokoh.
.
.
.
.
.
Hayoo... jangan dulu traveling ya, masih pagi guys 😁😅✌🏻
__ADS_1