Jodoh Dokter Cantik

Jodoh Dokter Cantik
Eps 24.


__ADS_3

Setelah amukan Lusi mereda. Ariana memilih untuk menghubungi kembali keluarga Lusi dan suaminya. Hingga esok harinya, kedua orangtua Viky bersama Mamih Alina pun datang untuk memeriksa keadaan putrinya.


"Sayang, bagaimana keadaanmu, Nak?!" Tanya Mom Regina menghampiri.


"Apa Viky masih belum bisa di hubungi?!" Sahut Papih Kevin bertanya.


"Pih! sebaiknya Papih suruh anak buah Papih untuk menyusul Viky, gih!" Seru Mom Regina.


"Hm... baiklah Mom, Papih akan coba suruh anak buah Papih untuk menyusul, Viky!" Ucap Papih Kevin seraya mencari kontak anak buahnya di ponsel pintarnya.


"Mamih... bayi Lusi, Mih?!" Lirih Lusi kembali terisak saat sang Mamih menghampiri nya menggantikan Mom Regina yang pertama kali menyapanya.


"Tenanglah, sayang! kau harus ikhlas! kau harus kuat! Papih pasti sedih jika tau kamu seperti ini!" Tutur Mamih Alina seraya mendekap sang putri.


"Maafkan Mommy ya sayang, Mommy tidak bisa melindungi kalian berdua dengan baik!" Lirih Mom Regina.


Wanita paruh baya itu menatap sendu menantunya yang masih terlihat begitu terpukul pasca operasinya. Mom Regina benar-benar geram pada putranya sendiri yang tak dapat di andalkan saat istrinya sendiri membutuhkan pertolongan dan perlindungan.


"Mommy janji akan memarahi Viky habis-habisan setelah tiba, nanti!" Batin Mom Regina.


Di Desa perbatasan sendiri, Viky baru saja menerima kabar jika sang istri mengalami keguguran dan teror orang misterius lagi. Tanpa menghiraukan pekerjaannya lagi, Viky segera mengajak Rei pulang demi menemui sang istri.


"Ya Tuhan! bagaimana bisa semua ini terjadi! aku benar-benar suami yang tak berguna! aku tidak bisa melindungi anak istriku dengan baik!" Rutuk Viky dalam hatinya.


Sampai di Rumah Sakit, Viky segera mencari ruangan rawat istrinya. Pria tampan blasteran itu nampak sangat menyesal karena terlambat menemui istrinya.


Ceklek...


Pintu ruangan rawat Lusi pun di buka secara kasar. Dengan langkah yang lebar, Viky segera menghampiri istrinya yang tengah berbaring di atas tempat tidur pasien.


"Sayang! apa kau baik-baik saja?!" Seru Viky seraya mengelus pucuk kepala sang istri. Lusi terdiam, dia bahkan memalingkan wajahnya ke arah lain untuk menghindari tatapan suaminya.


"Sayang, aku mohon maafkan aku! aku benar-benar tidak tau jika kau mengalami musibah ini! sayang... kenapa kau tak mau menatap ku?!" Tutur Viky seraya menggenggam kedua tangan istrinya.


"Pergi! aku tidak ingin melihat wajahmu lagi!" Bentak Lusi seraya menyampingkan tubuhnya dan menutupinya dengan selimut.


"Sayang! aku benar-benar minta maaf! ku mohon jangan diamkan aku begini!" Ucap Viky memohon.

__ADS_1


"Kau pikir dengan maaf mu saja bisa mengembalikan bayi ku?! tidak, Viky Misael... dia tidak akan kembali lagi untuk selamanya!" Sahut Lusi diiringi derai air mata.


"A... aku tau aku salah, sayang, tapi aku juga sama hal nya dengan mu, aku juga sangat kehilangan bayi kita, sayang! aku benar-benar minta maaf! tolong jangan diam begini, sayang!" Lirih Viky sama-sama terisak.


Pria tampan blasteran tersebut pun tak kalah sedih dan terluka atas kepergian calon bayinya. Dia benar-benar sangat menyesalkan ketidaktahuan nya atas peristiwa naas semalam. Andai saja dia tidak mengalami mual muntah malam itu, mungkin Viky bisa secepatnya menolong sang istri yang tengah di landa bahaya.


"Sayang! apa kau sudah makan? aku suapi ya! makanan mu masih utuh, pasti kau belum memakannya, kan!" Seru Viky berusaha membujuk seraya menghampiri Lusi, memutari tempat tidur istrinya untuk membantu menyuapkan makanan.


Namun ternyata, Lusi masih marah pada suaminya itu. Lusi sangat kesal, karena Viky benar-benar tidak bisa dia pintai pertolongan saat dirinya di tengah bahaya semalam. Mungkin jika malam itu Viky tidak kehilangan ponselnya, akan lain lagi ceritanya. Pria tampan blasteran itu pasti segera pulang jika tau istrinya dalam bahaya.


"Pergi!!! aku tidak ingin melihatmu lagi!" Jerit Lusi.


"Sayang, ku mohon jangan begini! kau harus makan agar cepat pulih!" Sahut Viky terus berjuang membujuk sang istri.


"Pergi!! aku benci melihatmu! aku benci Viky Misael!" Teriak Lusi hingga penuh amarah.


Kedua orangtua Viky dan Mamih Alina yang sebelumnya mencari sarapan pun menghampiri mereka di ruangan Lusi. Papih Kevin segera menggiring putranya agar pergi untuk sementara waktu, hingga menantunya itu bisa sedikit tenang.


"Misa, tenanglah dulu, beri istrimu waktu untuk menenangkan diri!" Seru Papih Kevin.


"Tapi Pah, Viky masih ingin menemani Lusi!" Sahut Viky seraya menghampiri kembali sang istri yang tengah di peluk dari samping oleh Mamih Alina.


Tak lama, Dokter pun datang bersama seorang suster dan juga Ariana. Kedua orangtua Viky dan Mamih Alina pun memberi ruang pada Dokter, agar Dokter leluasa memeriksa menantunya.


"Apa yang sebenarnya terjadi, Tan?! kenapa Lusi bisa pingsan?!" Cecar Ariana pada Mamih Alina.


"Sepertinya dia masih syok atas kehilangan bayinya, Ri! dia masih terpukul dan tak bisa menerima kenyataan yang dia hadapi saat ini!" Isak Mamih Alina menjawab.


Mom Regina terus mengusap sebelah bahu besannya, berusaha memberi kekuatan juga dukungan, agar dia tidak ikut panik dan jatuh sakit.


"Sabar lah Lin, semoga Lusi lekas membaik! aku yakin, dia putri kita yang kuat dan tangguh!" Tutur Mom Regina.


"Iya, Re! terimakasih ya dukungannya! aku tidak tau lagi harus bersandar pada siapa jika bukan pada kalian!" Lirih Mamih Alina.


"Viky! sebaiknya kau ikut Papih sekarang!" Seru Papih Kevin penuh ketegasan.


"Tapi, Pih..." Sahut Viky menyanggah.

__ADS_1


"Tidak ada tapi-tapian! cepat ikut!" Seru Papih Kevin.


"Hm... baiklah!" Dengan langkah gontai, akhirnya Viky mengikuti sang Papih ke luar dari ruangan rawat istrinya.


Setelah kedua pria berbeda generasi tersebut berhasil keluar dari ruangan rawat Lusi. Papih Kevin segera mencecar putranya dengan beberapa pertanyaan. Beliau tidak habis pikir jika Viky sampai tidak tau jika istrinya mendapat teror seperti yang terjadi semalam. Bahkan, menurut Ariana yang tak lain sahabat, Lusi. Menantunya itu sudah dua kali ini di teror seperti semalam. Namun beruntungnya, ketika kejadian yang pertama, Lusi masih bisa di selamatkan olehnya.


"Vik, sebenarnya apa yang kau kerjakan di Desa terpencil itu?! kenapa kau sampai tega meninggalkan istrimu sendirian di rumah?! jika Papih tau Lusi kau tinggalkan, mungkin Papih dan Mommy pasti menginap untuk menemaninya!" Cecar Papih Kevin.


"Pih! sebenarnya, Viky juga tidak tega meninggalkan Lusi pergi, kemarin! tapi pekerjaan Viky benar-benar tidak bisa di tinggalkan! lagi pula, sebelum Viky pergi, masih ada dua ART dan satu supir yang selalu stand by di rumah! ah... iya, jika Lusi sendiri di rumah, kemana mereka bertiga ya?!" Sahut Viky seraya berpikir di akhir ucapannya.


Tiba-tiba pintu ruangan rawat Lusi di buka seseorang dari dalam, Menampilkan sosok Ariana yang tanpa sengaja mendengarkan obrolan kedua pria berbeda generasi tersebut sedari tadi.


"Semua pekerja di rumah Tuan sedang pulang ke kampung halamannya! Lusi bilang, sebelum kejadian teror itu menimpanya, Bibi Nina dan Lisa memberinya kabar sekaligus meminta ijin pulang karena Ibu dari Lisa meninggal dunia!" Tutur Ariana menyahut setelah menghampiri Viky dan Papih Kevin.


"Astaga! kenapa aku tidak tau hal itu?!" Gumam Viky.


"Apa kau tidak di beritahu sama sekali oleh istrimu?!" Tanya Papih Kevin.


"Tidak Pih! bahkan, ponsel Viky belum di temukan setelah semalam Viky tinggal ke kamar mandi karena mual dan muntah!" Jawab Viky sejujurnya.


"Pantas saja! Lusi bilang, dia sudah berusaha memberi kabar dan meminta tolong pada Tuan berkali-kali, tapi dia sama sekali tidak mendapat jawaban sekali pun dari Tuan!" Tutur Ariana lagi.


"Astaga! sebenarnya siapa yang ingin mencelakai istriku?!" Ucap Viky seraya mengusap kasar wajahnya.


"Kau harus bertindak cepat untuk menyelidiki dan menangkap pelaku teror istrimu, Vik! Papih akan membantu mu sebisa mungkin! sebaiknya kau sekarang selidiki di rumah dulu saja! cari detektif handal untuk mengungkap motif apa yang di inginkan dari teror semalam!" Seru Papih Kevin.


"Pasti, Pih! Viky pasti akan mengungkap semuanya hingga tuntas! Viky tidak akan biarkan orang yang sudah mencelakai istri dan anak ku, bebas hidup begitu saja di luaran sana!" Ucap Viky.


.


.


.


.


.

__ADS_1


See you next episode guys... 😘😘😘


__ADS_2