
Di kediaman Nenek Wenda. Saat ini, Daniel tengah berusaha memanjat pohon mangga di taman belakang mansion. Bukan tanpa alasan, Daniel memanjat pohon itu di jam istirahat malam seperti ini. Itu semua Daniel lakukan atas permintaan sang istri yang tengah hamil muda. Rupa-rupanya, Sandra tengah menginginkan mangga muda yang begitu lebat berbuah di taman belakang mansion.
"Sayang! besok saja ya petik mangga nya, aku benar-benar tidak bisa melihat jelas jika gelap seperti ini?! aw! mana banyak semut nya lagi!" Ucap Daniel dari atas pohon mangga.
"Aku maunya sekarang, ya sekarang! Nenek, Daniel sepertinya sudah tidak sayang lagi pada kami!" Rengek Sandra.
"Cup... cup... cup... Daniel sayang pada kalian ko, sayang! Dan, ayolah! kau panjat lagi sampai dapat mangga nya! Nenek tidak mau ya, jika sampai cicit Nenek nanti ileran!" Seru Nenek Wenda membela sang cucu menantu.
"Astaga! kenapa Nenek malah ikut mendukungnya?!" Gumam Daniel di atas pohon.
Mau tak mau, Daniel melanjutkan memanjatnya demi mendapatkan mangga yang di inginkan sang istri. Setelah bergelayutan ke sana, kemari. Akhirnya Daniel mendapatkan mangga mudanya beberapa buah dan segera turun dari pohon untuk memberikannya pada Sandra.
Namun saat dia sudah turun. Daniel tak mendapati istri dan Neneknya di sana. Akhirnya Daniel melenggang ke ruang televisi. Saat tiba di sana, Nenek Wenda meletakkan satu jari telunjuknya di depan bibir, pertanda jika Daniel tak boleh berisik dan mengganggu Sandra yang kini tengah tertidur pulas di atas pangkuannya.
"Sttttttttt! bawa saja mangga nya ke dapur, biar besok saja dia memakannya! sepertinya Sandra benar-benar lelah menunggu mu memanjat. Sekarang cepat pindahkan dia ke kamar kalian!" Seru Nenek Wenda dengan suara mirip berbisik namun masih terdengar begitu jelas oleh Daniel.
Daniel menghela nafasnya sebelum menyimpan mangga. Tau begitu, besok saja dia memanjat pohonnya. Tapi sepertinya sudah terlanjur juga, yang penting istrinya tak merengek lagi memintanya untuk di petik kan mangga lagi. Dan lagi, Nenek tak akan menyalahkannya jika anaknya kelak ileran.
"Selamat tidur sayangku, selamat tidur juga sayangnya Daddy!" Ucap Daniel seraya mengecup kening dan perut Sandra bergantian.
****************
Bulan berganti. Kini, kandungan Lusi menginjak usia 9 bulan. Tinggal beberapa hari lagi bayi yang di kandungnya lahir ke dunia. Viky semakin protektif dan siaga dalam segala hal untuk kelahiran bayinya. Seperti hari ini, Viky tengah mengemaskan pakaian Lusi dan bayinya, juga keperluan melahirkan lainnya di sebuah ransel khusus yang sudah Lusi beli jauh-jauh hari.
"Kainnya bawa satu lagi, Pa!" Seru Lusi seraya menunjuk kain khusus untuk bayi yang sudah tertata rapi di sebuah lemari kecil berisi perlengkapan bayinya kelak.
"Yang mana, Mam?! yang ini, ya?!" Tanya Viky memastikan seraya memperlihatkan kain yang dia pilih.
"Iya, Pa! sabun mandi dan handuknya sudah juga kan?!" Sahut Lusi bertanya.
"Sudah sayang, biar Papa simpan di sudut sini ya! jadi jika waktunya tiba nanti, Papa tidak akan sulit mencarinya lagi!" Tutur Viky seraya menyimpan ransel yang sudah dia kemas untuk keperluan melahirkan sang istri dan bayinya kelak di sudut dekat pintu kamar khusus bayinya.
"Terimakasih ya, Pa! Mama dan bayi kita benar-benar beruntung memiliki Papa yang super pengertian!" Sanjung Lusi tulus seraya merentangkan kedua tangannya meminta pelukan sang suami.
Tanpa menunggu lama, Viky pun menghampiri Lusi yang sejak tadi terduduk di sofa khusus Ibu menyusui, yang dia beli beberapa bulan lalu. Pria tampan blasteran itu mendekap hangat sang istri seraya menghujani pucuk kepala dan wajah Lusi dengan kecupan.
"Sekarang kita istirahat ya, Papa boleh kan tengok baby kita sekarang?! mumpung masih siang Mam!" Bujuk Viky seraya menggiring sang istri ke kamar mereka.
Lusi tak membantah lagi, dia mengerti. Mungkin kedepannya setelah melahirkan nanti, Viky pasti sulit untuk meminta jatahnya, sehingga Lusi pun membiarkan sang suami untuk memuaskan keinginannya itu.
Keesokan harinya, Lusi tengah membantu Bibi dan Lisa menyiapkan sarapan di ruang makan. Meski Viky sudah melarangnya masuk ke area dapur, tapi tetap saja Lusi langgar. Alasannya, dia selalu ingin menyiapkan sarapan untuk suaminya sendiri secara langsung.
"Nyonya, biar Lisa saja ya yang buatkan sandwich nya, Bibi takut di marahi Tuan! Nyonya istirahat saja ya! biar Bibi dan Lisa yang menyiapkan semuanya!" Seru Bibi mencoba mencegah.
"Tidak apa-apa, Bi! lagi pula aku hanya membuat sandwich, ko! kalian tenang saja, aku yang akan membela kalian jika Viky berani memarahi." Tutur Lusi seraya asik mengoles selai di atas roti yang akan dia buat sandwich untuk suaminya.
Namun, tiba-tiba saja perutnya terasa kencang dan berdenyut hebat. Seketika Lusi menjatuhkan peralatan mengoles roti yang masih dia genggam tadi.
"Akhhh!" Pekik Lusi.
Prakkk...
"Astaga! Nyonya! Lis, cepat kau panggil Tuan, sepertinya Nyonya sudah mau melahirkan!" Seru Bibi seraya membantu Lusi untuk duduk sementara di kursi meja makan.
"Akhhh... astaga! ternyata sakitnya benar-benar luar biasa," Racau Lusi.
Sementara itu, Lisa baru saja sampai di depan pintu kamar majikannya. Namun, saat hendak mengetuk pintu, Viky lebih dulu membuka pintunya dan bertanya tentang keberadaan istrinya pada Lisa.
"Lis, dimana Lusi?!" Tanya Viky dengan stelan santainya.
"Tu... Tuan! Nyonya ada di ruang makan, sepertinya Nyonya mau melahirkan!" Ucap Lisa.
"Apa?! astaga! kau, cepat ambil ransel yang ada di kamar bayi ya! aku akan melihat keadaan Lusi dulu!" Sahut Viky seraya bergegas mencari sang istri di lantai bawah.
"Akkkhhhhh!!! Ya Tuhan, Bibi! aku tidak tahan lagi!" Racau Lusi yang sudah di banjiri peluh.
__ADS_1
"Sabar Nyonya, sebaiknya Nyonya atur pernafasan saja sekarang! bukannya Nyonya sudah terbiasa ya memberikan instruksi seperti ini pada Ibu yang mau melahirkan?!" Seru Bibi mencoba menenangkan Lusi sebisa mungkin.
"Sayang, apa yang terjadi?!" Ucap Viky menghampiri.
"Pa! perut Mama sakit sekali! sepertinya anak kita sudah tak sabar ingin melihat dunia!" Lirih Lusi.
"Ya sudah! sebaiknya kita ke Rumah Sakit sekarang ya! Milo! cepat bantu saya gendong Nyonya!" Seru Viky.
"Siap Tuan!" Jawab Mili yang ternyata sudah siaga bersiap di belakang Viky setelah memanaskan mobil majikannya sesuai pemberitahuan Lisa sebelumnya.
Mobil dilajukan sedikit kencang oleh Milo, sesuai permintaan Viky. Setelah kurang lebih menempuh waktu 20 menit. Akhirnya, Lusi tiba di Rumah Sakit dan segera di larikan ke ruangan bersalin.
"Itu seperti Ana! iya, itu memang dia! apa dia sudah mau melahirkan ya?! tapi kenapa dia tidak mengabari ku?! kan aku bisa menyiapkan semuanya untuknya jika memberi tahu dulu!" Gumam Ariana seraya mengejar Suster yang membawa sang sahabat masuk ke ruang bersalin.
"Akhhh! sakit Pa! aku tidak kuat lagi!" Pekik Lusi setelah masuk ruangan bersalin.
"Sabar sayang, aku yakin kau pasti bisa! kau kuat, kau hebat! kau pasti bisa melahirkan putri kita!" Seru Viky memberi semangat.
"Ana! apa pembukaannya sudah sempurna?!" Sahut Ariana menghampiri.
" Ari! akhhh! ternyata kontraksi melahirkan sangat menyakitkan, Ri! akkhhh!!" Ucap Lusi seraya memekik di sela ucapannya.
"Haist! sekarang kau tau juga kan bagaimana rasanya Ibu melahirkan! hm... sebaiknya sekarang kau atur pernafasan seperti arahan yang selalu kau berikan pada setiap pasien melahirkan mu!" Saran Ariana.
Lusi pun mencobanya, dia berusaha tenang dan kuat menghadapi kontraksi yang dia rasakan. Perlahan, dia menghirup dalam-dalam nafasnya dan menghembuskan nya secara perlahan, terus dan terus seperti itu Lusi lakukan. Hingga akhirnya air ketubannya terdengar meletup pecah.
Plukk...
"Astaga! Dokter! tolong! sepertinya air ketuban istri saya sudah pecah!" Jerit Viky panik.
"An, selamat berjuang ya! aku akan mendoakan kalian dari luar!" Ucap Ariana seraya bergegas keluar dari ruangan bersalin untuk memberi ruang pada Dokter yang akan menindak sahabatnya itu.
Setengah jam Lusi berjuang, namun masih tak mendapatkan hasil yang di inginkan. Bayi cantik mereka seakan masih malu-malu untuk menampakkan dirinya di dunia. Viky semakin tak tega saat melihat wajah Lusi yang sudah sangat pucat menahan rasa sakit melahirkan putrinya. Ya, saat pemeriksaan jenis kelamin putrinya 4 bulan yang lalu, bayi Lusi dan Viky ternyata berjenis kelamin perempuan.
"Sayang, kau pasti bisa, kau pasti kuat, sayang!" Ucap Viky menguatkan.
"Sayang, buka mata mu! jangan menakuti ku seperti ini! sayang!" Ucap Viky seraya menepuk-nepuk pipi sang istri.
"Tuan! tidak apa-apa! jika rasa mulasnya terasa kembali, Dokter Lusi pasti akar segera sadar lagi!" Tutur Dokter menenangkan Viky.
Dan benar saja, tak berselang lama. Lusi membulatkan kedua matanya seraya menggenggam erat tangan Viky. Dengan mantap, Lusi menarik dalam nafasnya kembali dan menghembuskan ya secara perlahan, Berulang kali Lusi lakukan, dan sepertinya saat ini dia sudah sangat yakin dan siap untuk melahirkan putrinya ke dunia.
Oekkkk......
Tangis bayi cantik pun pecah ketika seluruh tubuhnya sudah berhasil keluar dari perut sang Ibu. Bulir bening tiba-tiba saja membanjir tanpa di minta dari kedua mata Viky dan Lusi. Kedua orangtua baru itu terharu bahagia dan begitu bersyukur atas lahirnya putri pertama mereka.
"Putri kita sangat cantik sayang, terimakasih sudah berjuang melahirkannya! aku janji akan menjaga kalian dengan baik di sepanjang hayat ku!" Tutur Viky seraya mengecup kening Lusi yang kini tengah menahan tubuh putrinya di atas dadanya guna melakukan inisiasi menyusu dini (IMD).
Setelah di bersihkan, Lusi dan bayinya di pindahkan ke ruangan perawatan VVIP. Tak lama berselang, kedua orangtua Viky dan Mamih Alina datang menjenguk putri mereka yang baru saja melahirkan.
Rona bahagia nampak jelas terlihat di wajah mereka. Menyambut kehadiran sang cucu yang sudah lama di idam-idamkan. Di susul oleh keluarga sang sepupu. Yakni keluarga Kenny, yang datang bersama anak dan istrinya serta Mom Bella dan Papah Oscar.
"Selamat ya, Vik! akhirnya kalian menjadi orangtua juga sekarang!" Ucap Kenny seraya menepuk sebelah bahu sepupunya.
"Terimakasih, Kenn! kapan kalian menyusul membuat adik untuk Kenji dan Keanza?!" Tanya Viky.
"Mommy! adik bayinya sangat cantik! Ken, ingin jadi pelindungnya setelah besar nanti!" Celoteh Kenji, yang tak lain putra pertama Kenny dan Jenny.
"Da...da...da..ca...ca..ca," Sahut Baby Keanza yang seolah cemburu perhatian Kakaknya beralih pada Putri Lusi.
Seketika gelak tawa semua orang di ruang rawat Lusi pun menggema. Menggambarkan kebahagiaan mereka yang semakin lengkap setelah kehadiran malaikat-malaikat kecil mereka yang begitu menggemaskan.
Enam bulan kemudian. Di kediaman Nenek Wenda.
"Daniel, cepat! istrimu sudah pecah ketuban ini!" Teriak Nenek dari dalam mobil yang siap dilajukan.
__ADS_1
"Iya, Nek! ini juga sudah ko! ayo jalan, Kris!" Sahut Daniel seraya memegangi tangan sang istri yang terlihat tersiksa dengan rasa sakitnya.
"Sayang, aku sudah tidak kuat! akhhh!" Pekik Sandra.
"Tahan sebentar lagi, sayang! kita hampir sampai, Kris cepatlah! tambah lagi kecepatannya!" Tutur Daniel.
"Utamakan keselamatan, Kris!" Tambah Nenek Wenda.
Tujuh menit kemudian, mereka pun tiba di Rumah Sakit dan di sambut Lusi yang sudah di telepon sebelumnya oleh Daniel.
"Ayo bawa ke ruang bersalin segera!" Seru Lusi.
Ke dua Suster yang menemani Lusi pun segera mendorong blankar Sandra ke dalam ruangan bersalin. Setelah tiba di dalam, Lusi segera memberi arahan kepada Sandra untuk mengejan langsung. Beruntungnya, persalinan Sandra terbilang sangat mudah dan lancar. Hanya butuh tiga kali mengejan, bayi tampan milik Sandra dan Daniel itu akhirnya telah lahir ke dunia.
"Selamat ya, Dan! bayi kalian laki-laki!" Ucap Lusi seraya menyerahkan bayi Sandra dan Daniel kapada sang Ibu setelah di bersihkan Suster.
"Terimakasih ya, An! sayang, lihatlah bayi kita! dia benar-benar tampan seperti ku, kan?!" Tutur Daniel percaya diri.
"Haist! Cicit ku tampan karena Oma nya yang cantik!" Sahut Nenek Wenda.
Sandra yang masih di bersihkan, sempat menitikkan air mata. Dia masih tak percaya bisa melahirkan putranya yang merupakan keturunan dari keluarga terpandang seperti keluarga suaminya.
"Sayang, terimakasih sudah berjuang melahirkan putra kita! aku semakin mencintaimu, San!" Kecup Daniel di kening dan bibir Sandra sekilas.
"Haist! dasar kamu, Dadd! ini kan di Rumah Sakit!" Rutuk Sandra yang merasa malu karena sempat di lihat Suster yang masih ada di ruangan bersalin.
"Memangnya kenapa? tidak boleh ya aku cium istriku sendiri?!" Ucap Daniel dengan entengnya.
"Haist! sudahlah, aku ingin segera menimang putra kita, Dadd! oh iya, apa kedua orangtuamu sudah di hubungi?!" Tutur Sandra.
"Astaga! aku lupa sayang, aku telepon dulu sebentar ya!" Ucap Daniel seraya merogoh saku celananya untuk mencari benda pipih canggihnya.
Setelah menemukan benda yang di gemari sejuta umat itu. Daniel segera mencari kontak orangtuanya dan memberikan kabar kelahiran putranya itu.
"Mih, Sandra sudah melahirkan, Mamih cepat kemari ya!" Ucap Daniel via telepon.
"Astaga! kenapa kau baru bilang sekarang! dasar anak bandel! ya sudah, Mamih akan ke Rumah Sakit sekarang bersama Papah, kau kirimkan nama ruangannya via chat ya!" Tutur Mamih Daniel seraya menutup sambungan telepon dengan anaknya secara sepihak.
"Haist! dasar Daniel! bisa-bisanya dia tidak memberitahuku jika menantuku melahirkan!" Gerutu Mamih Daniel seraya mencari kontak sang suami dan berniat mengajaknya menjenguk sang menantu juga cucu mereka.
Kebahagiaan yang sempat keluarga Lusi rasakan beberapa bulan lalu. Kini tengah di rasakan juga oleh Keluarga Daniel. Mereka benar-benar bersyukur atas kelahiran cucu sekaligus cicit pertama meraka itu.
.
.
.
...-Tamat-...
.
.
.
Kali ini benar-benar sudah habis ya guys, terimakasih sudah mengikuti cerita receh Mommy ini sampai selesai. Salam sehat selalu untuk kalian semua ya guys... lanjut di novel Mommy yang lainnya yuk, khususnya yang masih on going nih...
Nah... kalau yang ini udah tamat juga ya guys... dan di cerita novel yang ini juga ada cerita asal mula kisah Viky juga nih... yuk mampir juga 🤗🤗🤗
Selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankan ya guys... 🙏🏻🙏🏻🙏🏻
__ADS_1
Semoga amal ibadah kita semua di terima Allah SWT. Aamiin Allahumma Aamiin... 😇😇😇