
"Tuan..." Seru Sandra yang sudah di sulap menjadi cantik dan menawan. Bahkan jejak wajah pelayan yang sebelumnya melekat di diri gadis itu, kini terlihat lenyap entah kemana. Tergantikan dengan Sandra yang baru, yang sangat cantik dan juga modis.
Perlahan, Daniel memutar badan ke arah Sandra. Mencari tau sosok yang sudah di make over oleh pihak Salon. Setelah melihat penampakannya. Seketika, matanya membulat sempurna tanpa mau berkedip. Tidak Daniel pungkiri, Sandra memang benar-benar cantik dengan tampilan barunya.
"Apa dia benar-benar si gadis aneh tadi ya? kenapa dia bisa secantik ini sekarang? pasti karena perawatan yang mahal dan terbaik dari Salon ini yang sudah menggubahnya!" Batin Daniel.
"Cantik sekali! sepertinya Nenek akan langsung meminta mu menikah hari ini juga, Dan!" Seru Lusi yang sama-sama sudah melihat penampilan baru dari Sandra.
Sandra nampak tersipu mendengar pujian dari Lusi, dan hal itu membuat Daniel semakin gemas melihat tingkahnya.
"Kau benar!" Gumam Daniel masih menatap intens ke arah Sandra. Namun sejurus kemudian.
"Tidak...tidak... itu tidak boleh terjadi, aku hanya akan mengenalkannya saja hari ini, itu pun hanya sebagai pasangan sandiwara! hei, kau jangan terlalu besar kepala ya! ayo pergi! sepertinya Nenek sudah menunggu terlalu lama!" Seru Daniel seraya meraih pergelangan tangan Sandra dan membawanya pergi dari Salon.
Tentunya lewat pintu belakang Salon. Karena di depan, masih banyak paparazi yang menunggunya keluar dari tempat perawatan kecantikan itu. Lusi yang juga sudah selesai, akhirnya mengikuti untuk pergi ke kantor suaminya.
"Kau benar-benar tidak mau sekalian? perusahaan suami mu kan satu arah dengan Mansion Nenek!" Tawar Daniel setelah ketiga orang dewasa itu sampai di belakang Salon.
Beruntungnya, pihak Salon sangat mengerti. Mereka segera memerintah penjaga Salon di depan untuk membawakan mobil Daniel ke belakang gedung Salon. Di susul oleh supir Lusi, Milo. Keduanya begitu gesit dan tanggap pada kondisi darurat seperti saat itu.
"Aku sudah di tunggu supir, Dan! kalian bergegas saja. Kasihan Nenek jika harus menunggu lama. Sampaikan salam ku juga untuknya ya! bye!" Tutur Lusi seraya memasuki mobil yang sudah siap dilajukan oleh supirnya.
"Nona Lusi ternyata sangat baik dan... cantik. Tidak heran jika Tuan Viky begitu setia padanya! sepertinya pria mana pun, juga akan takut kehilangannya jika menjadi kekasihnya." Batin Sandra.
"Ayo! sebaiknya kita juga bergegas!" Tegus Daniel yang entah mengapa sikapnya berubah lebih lembut pada Sandra.
"Baiklah!" Sahut Sandra seraya memasuki mobil Daniel yang sebelumnya sudah di bukakan pintunya oleh Daniel.
Keberangkatan keduanya dari Salon, ternyata lancar dan mulus. Para paparazi yang sedari tadi menunggu di depan Salon pun tak ada yang mencurigainya. Sehingga, baik mobil Lusi atau pun mobil Daniel, keduanya melesat lancar ke masing-masing tujuan.
...****************...
Di perusahaannya, Viky terlihat masih berkutat dengan berkas-berkas yang harus dia tandatangani. Rencana awalnya yang ingin menemui Daniel akhirnya urung, setelah sekretaris Daniel memberinya kabar, jika atasannya itu sedang tidak masuk kantor.
"Rei, tolong buatkan aku kopi, ya!" Seru Viky.
"Baik Tuan, apa anda ingin di bawakan makanan ringan juga?!" Tawar Rei.
"Tidak perlu! aku akan pulang sebentar lagi dan makan siang bersama istriku di rumah." Tutur Viky.
__ADS_1
"Baiklah Tuan! kalau begitu saya permisi dulu!" Pamit Rei beranjak untuk membuatkan pesanan Viky.
Tak lama, pintu ruangan Viky di ketuk dari luar. Viky yang masih serius memeriksa berkas, tak berniat mengalihkan pandangannya dari kertas berisi ketikan itu sedikit pun. Hanya seruan mempersilahkan masuk saja yang dia gumam kan. Viky pikir, itu pasti Rei yang membawakan kopi pesanannya.
Tok...tok...tok...
"Masuk!" Seru Viky dari dalam ruangannya.
Langkah kaki pun terdengar mendekat, bahkan secangkir kopi yang masih mengepul pun berhasil di sajikan di atas mejanya. Viky masih fokus, sampai akhirnya suara yang begitu dia kenali menegurnya.
"Apa seperti ini ya! cara seorang CEO memperlakukan istrinya yang datang?!" Tegur Lusi yang sudah melipat kedua tangannya di depan dada. Jangan lupakan juga wajahnya yang terlihat kesal, karena Viky tak menyadari kehadirannya saat itu.
Flash back start.
Sesaat sebelum sampai di ruangan suaminya, Lusi sempat melihat Rei yang baru saja keluar dari pantry. Lusi menghampirinya dan bertanya.
"Apa itu kopi untuk Viky?!" Tanya Lusi setelah berhadapan dengan Rei.
"Benar, Nyonya! apa anda juga menginginkannya? biar saya buatkan sekalian!" Sahut Rei.
"Tidak-tidak, tidak perlu, Rei! sebaiknya berikan kopi itu saja padaku, biar aku yang mengantarnya sendiri ke ruangannya! kau boleh kembali bekerja di ruangan mu!" Seru Lusi seraya merebut nampan berisi secangkir kopi dari tangan Rei.
"Sa...sayang! astaga! sejak kapan kau datang?!" Ucap Viky seraya beranjak melupakan berkas-berkas yang sejak tadi dia amati dengan serius.
"Sudahlah, ternyata suamiku tak mengharapkan kehadiranku! sebaiknya, aku pulang lagi saja deh!" Rajuk Lusi hendak beranjak dari hadapan suaminya.
Buru-buru, Viky mencekal pergelangan tangan sang istri. Tak ingin debat berkepanjangan, Viky akhirnya menarik Lusi hingga tubuh semampai nya mendarat sempurna di pangkuan Viky.
"Awww!" Pekik Lusi, saat di rasa yang dia duduki menusuk pant*atnya.
Viky hanya terkekeh saat kedua netra mereka saling beradu. Kali ini Lusi tak bisa lari dan meninggalkannya lagi.
"Diam lah, sayang! kau sudah membangunkannya! jadi sebaiknya kita bercocok tanam dulu sekarang!" Tutur Viky. Dengan sigap, dia gendong tubuh Lusi ala bridal style menuju ruang istirahatnya.
Di lain tempat, tepatnya di kediaman Nenek Daniel. Kedua muda mudi itu baru saja tiba dan berniat masuk untuk menemui sang Nenek tercinta.
"Tuan, aku benar-benar gugup! aku tidak yakin bisa menjalankan sandiwara ini!" Ucap Sandra saat Daniel baru saja menghentikan mobilnya di area parkir mansion sang Nenek.
"Tenanglah! kau bayangkan saja jika kita ini benar-benar pasangan asli! aku akan membantu mu, nanti! jadi, tenanglah! sebaiknya sekarang kita turun, ayo!" Tutur Daniel yang entah mengapa berlaku begitu manis.
__ADS_1
Sejak selesai di Salon tadi, sikapnya mendadak lembut dan penuh perhatian pada Sandra. Membuat gadis pelayan itu sedikit banyaknya terbawa perasaan.
"Ya Tuhan, andai ini benar-benar bukan hanya sandiwara!" Angan Sandra.
Ceklek...
"Ayo!" Seru Daniel yang tiba-tiba saja sudah berdiri di samping mobil dan mengulurkan tangan ke hadapan Sandra untuk membantunya turun dari mobil.
"I...iya, Tuan!" Gugup Sandra seraya berbuat membuka seat belt.
"Hei! aku kan sudah bilang, jangan panggil aku Tuan lagi, mulai sekarang panggil aku sayang saja, ok!" Ucap Daniel seraya mengedipkan sebelah matanya.
Membuat kedua pipi Sandra terasa terbakar karena tersipu. Hingga akhirnya...
"Kenapa sulit di lepas lagi, sih?!" Gumam Sandra yang masih berusaha melepas seat belt mobil Daniel.
"Ada apa? apa kau kesulitan lagi membukanya?!" Tanya Daniel yang cepat tanggap.
"Sepertinya begitu, Tuan! eh, maksudku sayang!" Ucap Sandra buru-buru mengoreksi panggilannya saat kedua netra nya melihat sosok wanita tua di depan pintu. Sandra kira, itu pasti Nenek Tuan Daniel nya.
"A...apa, apa kau memanggilku sayang barusan?!" Ulang Daniel.
"Haist! bukannya kau sendiri ya, yang tadi menyuruh ku panggil begitu!" Sahut Sandra.
"Eh, be...benar! ya sudah, kau mundur laBuh sedikit! biar aku bantu membuka seat belt nya!" Seru Daniel seraya memasukkan sebagain tubuhnya ke dalam mobil untuk mempermudah membantu Sandra melepas seat beltnya.
"Astaga! kenapa dia begitu manis saat memanggilku sayang! Ya Tuhan, sepertinya aku benar-benar jatuh cinta pada gadis ini!" Batin Daniel.
.
.
.
.
.
See you next episode 😘😘😘
__ADS_1