Jodoh Dokter Cantik

Jodoh Dokter Cantik
Eps 25.


__ADS_3

"Pasti, Pih! Viky pasti akan mengungkap semuanya hingga tuntas! Viky tidak akan biarkan orang yang sudah mencelakai istri dan anak ku, bebas hidup begitu saja di luaran sana!" Ucap Viky.


"Tuan, maaf saya terlambat! saya baru saja menemukan ponsel milik Tuan di dalam tas kerja milik Tuan!" Seru Rei menghampiri seraya memberikan ponsel milik Viky.


"Syukurlah, terimakasih Rei!" Ucap Viky seraya memeriksa ponselnya.


Viky mulai mengecek daftar panggilan masuk dan tak terjawab di ponselnya terlebih dahulu. Setelahnya, dia mengecek pesan singkat dan juga chat di sebuah aplikasi khusus bergambar warna hijau.


"Aneh! bukannya kau bilang Lusi terus menghubungiku ya?! tapi di ponselku tidak ada sama sekali jejaknya!" Tutur Viky memperlihatkan ponselnya pada Ariana dan Papih Kevin.


"Benar! tapi, Lusi bilang dia benar-benar mengirim anda beberapa pesan dan mencoba menghubungi juga beberapa kali!" Sahut Ariana.


"Begini saja Vik, kita coba pinjam ponsel Lusi saja untuk membuktikannya!" Saran Papih Kevin.


"Papih benar! ya sudah, biar aku pinjam ponsel Lusi dulu sekarang!" Ucap Viky beranjak melangkah masuk ke dalam ruangan rawat istrinya.


Setelah mendapatkan barang yang di incar nya. Viky segera memeriksa ponsel Lusi dan membuka beberapa aplikasi untuk mengetahui kebenaran panggilan dan pesan singkat yang di kirimkan Lusi padanya. Dan betapa terkejutnya Viky, saat tau istrinya sampai membuat panggilan telepon padanya sebanyak puluhan kali. Dia benar-benar sangat menyesal karena sudah abai terhadap istrinya.


Di gulirkan nya tampilan layar persegi panjang itu. Kini, tujuan Viky mengecek pesan singkat yang di kirim sang istri. Dan lagi-lagi dia di buat terkejut. Lusi ternyata mengirimnya 5 pesan singkat, dan beberapa pesan darurat pada nomor ponselnya.


"Viky, aku takut! di rumah tidak ada siapa-siapa, Bibi Nina dan Lisa serta Milo baru saja pergi tadi sore untuk mengurus pemakaman Ibunya Lisa yang meninggal, kau cepatlah pulang! aku benar-benar takut!" Pesan pertama yang Lusi kirim untuk suaminya.


"Viky, aku melihat bayangan misterius lagi, cepatlah pulang sekarang juga!" Pesan kedua.


"Aku benar-benar sudah tidak kuat, Ky! tolong pulang sekarang juga!" Pesan ketiga.


"Lampu di rumah padam semua, Ky! aku benar-benar takut, bayangan itu kembali melintas!" Pesan ke empat.


Dan...


"Kaca jendela dapur kita pecah!" Pesan ke lima yang Lusi kirim untuk suaminya.


Viky semakin di landa rasa bersalah. Istrinya ternyata berjuang sendirian saat kejadian itu menimpanya. Viky merutuki dirinya dan menjambak rambutnya frustasi.


"Tenanglah, Vik! sebaiknya sekarang kau cari detektif handal saja! tidak ada gunanya kau merutuki kesalahan mu ini sekarang! kau harus segera bawa pelaku sesungguhnya pada istrimu sebagai bukti kau juga sangat kehilangan bayi kalian!" Seru Papih Kevin.


Sementara itu di dalam ruangan rawat Lusi. Dokter cantik itu baru saja siuman. Diedarkannya kedua bola mata hazelnut itu, memindai keberadaan sang suami yang sebenarnya dia rindukan. Namun saat ini, perasaan kesal dan marah akibat abainya Viky lebih mendominasi emosinya.


"Dia tidak peduli dengan bayi kita! dia lebih mementingkan pekerjaannya!" Batin Lusi.


"Sayang, apa kau ingin makan sesuatu sekarang?!" Tawar Nim Regina setelah melihat menantunya siuman.


Lusi menggelengkan kepalanya. Entah pergi kemana nafsu makannya. Rasanya enggan sekali menyuapkan sesendok makanan ke mulutnya yang terasa pahit. Pikirannya masih melayang pada pesan terakhir yang Viky kirimkan padanya dan membuatnya kembali kesal dan marah.

__ADS_1


"Aku sedang bekerja, sebaiknya kau cari orang lain saja! jika kau terus mengganggu, aku akan meninggalkanmu untuk selamanya!" Isi pesan yang di kirim dari nomor Viky.


"Hm... mungkin baginya pernikahan ini hanya sebatas untuk kesenangan semata! pokoknya aku tidak akan memaafkannya sampai kapan pun!" Batin Lusi bergemuruh.


...****************...


"Bagus! aku akan mentransfer sisa bayaran kalian! segera bersihkan jejak yang tertinggal di rumah itu! jangan sampai mereka menemukan bukti yang mengancam ketenangan kita!" Ucap seorang wanita bertubuh seksi.


"Akan segera kami bereskan, Nona! anda tenang saja!" Sahut si pria bertubuh tinggi besar dan berkostum serba hitam.


"Hm, sekarang kalian boleh pergi!" Ucap wanita seksi itu lagi.


"Kali ini, aku akan benar-benar memiliki mu Viky Misael! kau hanya milik ku, tidak ada yang bisa memiliki mu selain aku, hahaha..." Kelakar Siren menggenakan tawa kemenangannya yang sukses membuat Lusi membenci Viky.


Ya! Sirena lah dalang di balik semua kejadian naas yang menimpa Lusi. Dia benar-benar masih sangat terobsesi pada Viky. Dulu, saat Viky masih berhubungan dengan Liana pun, Siren lah yang memisahkan mereka.


Flash back start.


3 Tahun yang lalu. Liana yang notabenenya seorang Model, di beritahu jika asistennya telah di ganti oleh manajernya langsung. Dia sama sekali tidak menyangka, jika asisten barunya itu adalah temannya semasa Kuliah, dulu.


"Lia, aku sudah menemukan pengganti asisten untukmu, apa kau ingin melihatnya sekarang?!" Ucap sang manajer.


"Benarkah?! aku sudah sangat kerepotan di tinggalkan oleh Tesa, cepatlah suruh dia datang!" Seru Liana tak sabar.


Ting...


"Iya Tuan, ada yang bisa saya bantu?!" Sapa seorang resepsionis di sebrang telepon.


"Dil, suruh asisten baru untuk Liana ke ruangan ku sekarang!" Perintah sang manajer yang bernama Aser.


"Baik Tuan," Sahut Dila sang resepsionis menjawab.


Sejurus kemudian, pintu ruangan Aser di ketuk seseorang dari luar. Setelah di persilahkan masuk, orang yang Aser pinta menghadap pun menghampirinya dan menyapa kedua manusia berbeda gender tersebut.


"Selamat siang, Tuan! Non... loh, Liana! jadi Model yang akan aku bantu itu kamu ya?!" Ucap Asisten baru Liana yang tak lain, Siren.


Liana tak kalah terkejut saat mendapati salah satu temannya saat kuliah dulu berdiri di hadapannya. Dia benar-benar senang. Setidaknya dia bisa sedikit mengobati rasa rindu pada teman-temannya dulu saat kuliah.


"Siren! kau benar-benar tidak berubah, tetap cantik dan menggemaskan!" Ucap Liana seraya menghampiri dan memegang kedua lengan bagian atas milik Siren.


"Kau semakin cantik, Lia!" Puji Siren.


"Kau bisa saja, Ren!" Sahut Liana.

__ADS_1


"Jadi kalian sudah saling mengenal ya?! baguslah, jadi kalian berdua tidak perlu saling beradaptasi lagi!" Seru Aser.


"Tenanglah, kami ini teman semasa kuliah dulu, jadi kami sudah sangat akrab!" Ucap Liana seraya menunjukkan senyum terbaiknya.


Setelah pertemuan singkatnya itu. Liana sering bepergian ke beberapa Kota, bahkan sampai ke luar Negeri demi memenuhi beberapa kontrak pekerjaannya. Di sini, sosok Siren benar-benar sangat membantu Liana dalam segala hal pekerjaannya itu. Mulai dari menyiapkan pakaian yang akan Liana gunakan, makanan, tempat istirahat dan masih banyak lagi.


Hingga suatu hari, kedua orangtua Liana memintanya bertemu di sebuah Restoran mewah yang kebetulan terletak tak jauh dari tempatnya pemotretan. Mamih Alina dan Papih Adrian menuturkan keinginan mereka yang akan menjodohkannya dengan putra sahabat mereka yang tak lain Mommy Regina dan Papih Kevin.


Awalnya, Liana ragu dan enggan menerima usulan kedua orangtuanya itu. Namun setelah tau siapa yang akan di jodohkan dengannya, Liana benar-benar bersemangat dan menyetujui keinginan kedua orangtuanya itu.


"Sayang, bagaimana pemotretannya?!" Sapa Mamih Alina seraya mengecup pipi kanan dan kiri putrinya.


"Lancar Mih, tumben banget Mamih dan Papih suruh aku makan bareng di Restoran begini! ada apa? apa ada yang ingin kalian sampaikan ya pada Liana?!" Cecar Liana yang seakan tau apa yang tengah kedua orangtuanya inginkan.


"Putri Papih ternyata sangat pintar menebak ya! Papih dan Mamih memang ingin membicarakan sesuatu hal penting dengan mu, sayang!" Ucap Papih Adrian menyahut.


"Wah... apa itu Pih? Liana jadi penasaran deh!" Seru Liana.


"Sebenarnya... Mamih dan Papih ingin menjodohkan kamu dengan putra sahabat Papih, Nak! apa kau setuju?!" Tutur Mamih Alina bertanya.


"Menjodohkan? tapi Liana belum terpikirkan untuk menikah, Mih! Pih!" Protes Liana.


"Papih tidak akan memaksamu, sayang! tapi Papih harap kau mempertimbangkannya setelah melihat foto ini!" Ucap Papih Adrian seraya memberikan sebuah amplop berwarna coklat pada Liana.


"Permisi! maaf mengganggu waktu kalian, Tante! Om!" Tegur Siren menghampiri.


"Oh, ada apa Ren?! apa pemotretannya akan di lanjutkan sekarang?!" Tanya Liana.


"Benar Lia, jadi... apa kita bisa ke lokasi sekarang! kau harus mengganti pakaian mu dulu sebelumnya!" Seru Siren.


"Pergilah sayang! Papih dan Mamih harap kau bisa segera memberikan kami jawabannya setelah melihat foto di dalam amplop itu!" Ucap Papih Adrian.


"Hm... baiklah Pih, kalau begitu Liana kembali ke lokasi pemotretan dulu ya! kalian hati-hati di jalan, ya!" Sahut Liana seraya mengecup kedua pipi orangtuanya sebelum bergegas pergi.


.


.


.


.


.

__ADS_1


See you next episode guys 😘😘😘


__ADS_2