
Jenny dan Kenny nampak ikut tertawa melihat tingkah polos putranya. Setelah puas melepas lelah, Jenny akhirnya mengajak suami dan anak-anaknya pulang ke rumah mereka. Rencananya, Jenny akan memberitahu Viky saat makan malam nanti. Jenny berniat mengundang Viky untuk makan malam kembali di rumahnya.
Senja beranjak tergantikan malam pekat. Viky yang baru saja pulang dari Kantor Detektif merebahkan tubuhnya di atas sofa ruang TV. Matanya mengajak memejam, namun dering ponselnya memaksa pria tampan blasteran itu tetap terjaga. Diraihnya benda pipih nan canggih itu, setelah melihat siapa gerangan sang penelepon. Viky pun sedikit membenarkan posisi tubuhnya menjadi terduduk.
"Halo, Ken! ada apa? tumben kau menelepon Uncle!" Tutur Viky setelah menggeser gambar hijau di layar ponselnya.
"Uncle, Daddy mengajak Uncle makan malam lagi di rumah, sekarang! Uncle menginap di sini ya! Tante Lusi kan belum pulang!" Sahut Kenji. Si penelepon yang menghubungi Viky.
"Hm... tumben! tapi... ya sudahlah! Uncle akan ke rumah mu sekarang, tapi Uncle mau mandi dulu ya, sampai berjumpa di rumah!" Ucap Viky.
Tut...
Sambungan telepon pun terputus. Viky akhirnya segera beranjak ke kamarnya dan membersihkan diri sebelum bertandang ke rumah Kenny. Selesai makan malam, seperti biasa pasangan pasutri itu menidurkan kedua anak-anaknya di kamar mereka. Sejurus kemudian, keduanya kembali menghampiri Viky di ruang TV.
"Jadi apa yang ingin kalian sampaikan?! kalian pasti memiliki alasan bukan, mengundangku kembali makan malam?!" Tanya Viky to the poin.
"Haist! kau benar-benar tidak tau sopan santun, Vik! dasar sepupu menyebalkan!" Gerutu Kenny.
"Sudahlah! aku memang ingin menyampaikan sesuatu yang penting padamu, Vik! dan sepertinya, apa yang akan aku tunjukkan ini bisa membantumu mengungkap teror yang menimpa, Lusi!" Tutur Jenny.
Viky mendengarkan dengan seksama apa yang Jenny ucapkan. Seketika keningnya berkerut setelah Jenny membahas perihal teror yang menimpa istrinya.
"Maksud mu?!" Tanya Viky.
Jenny pun mengeluarkan sebuah flashdisk dari saku pakaian rumah yang dia kenakan. Ibu muda itu mengulurkannya pada Viky seraya memberi saran agar Viky mau menunggunya untuk mengambil laptop.
Sejurus kemudian, Jenny kembali dengan laptop milik suaminya. Dia buka lipatan benda persegi itu, dan mulai memasang flashdisk di salah satu sisinya. Viky masih memperhatikan gerak-gerik istri sepupunya itu. Dia benar-benar di buat penasaran oleh, Jenny.
"Nah... sepertinya ini file rekaman CCTV waktu tanggal kejadian deh!" Ucap Jenny seraya mengklik sebuah file rekaman CCTV di daftar yang tertampil di layar laptopnya.
"Hei! ini kan... Jenn! jangan bilang, kau yang sudah mencuri flashdisk ku, ya?!" Tuding Viky yang segera mendapat hadiah pukulan dari Kenny di salah satu lengannya.
Bugh...
"Sembarangan!!! kau pikir istriku maling, begitu?! asal kau tau ya! istri ku mendapatkan benda kecil itu tidak mudah! Jenny, bahkan hampir saja ketahuan oleh si ****** psiko itu!" Rutuk Kenny.
"******?! apa pelakunya wanita?!" Sahut Viky.
__ADS_1
"Ini... kau lihat saja dulu rekaman CCTV nya!" Seru Jenny seraya memutar rekaman CCTV.
Pria tampan blasteran itu pun akhirnya menuruti saran Jenny. Viky melihat rekaman CCTV tersebut dengan begitu serius dan jeli. Dia benar-benar tidak bisa membayangkan bagai mana takutnya sang istri yang berusaha melindungi diri beserta janin di dalam kandungannya. Setelah rekaman berhenti putar, Jenny mulai bertanya pada Viky.
"Apa kau kenal pria bertubuh kekar itu?!" Tanya Jenny.
"Tidak! apa mungkin pria itu menyukai Lusi?!" Tebak Viky.
"Apa kau yakin?! menurutku, pria itu hanya bekerja untuk seseorang!" Ucap Kenny.
Viky kembali mengerutkan keningnya, kini otaknya mencerna perkataan Kenny lebih cerdik.
"Jadi... siapa dalang sebenarnya?!" Gumam Viky mulai frustasi.
"Sirena!!! dia lah dalang dari semua bencana teror yang menimpa Lusi, Vik!" Ucap Jenny menggebu-gebu.
"Siren?! tapi apa buktinya jika dia yang menyuruh pria ini?!" Tutur Viky skeptis.
"Ada! aku sudah memiliki video percakapan Siren dan pria kekar itu tadi sore! kebetulan tanpa sengaja aku memergoki Siren saat ingin menyerahkan flashdisk di dekat toilet taman Kota!" Tutur Jenny seraya memperlihatkan kembali sebuah video percakapan Siren dan anak buahnya tadi sore.
Viky mengepalkan kedua telapak tangannya, emosinya kian memuncak ketika tau kebusukan Siren.
"Kau memang harus segera bertindak, Vik!" Ucap Kenny seraya menepuk sebelah bahu sepupunya.
"Hm... aku akan mengusut terus kasus ini, terimakasih ya! kalian benar-benar sangat membantuku kali ini!" Sahut Viky.
"Sama-sama, tapi sebenarnya itu tidak gratis, Vik!" Gumam Kenny.
"Astaga! ternyata tebakan ku benar, kau pasti menginginkan sesuatu!" Tutur Viky.
"Hei! zaman sekarang itu tidak ada yang gratis, bahkan air minum dalam kemasan gelas saja memiliki harga!" Gerutu Kenny.
"Sudahlah Kenn, biarkan saja dulu Viky menuntaskan kasusnya! masalah imbalannya, biar aku yang memintanya langsung, nanti!" Sahut Jenny yang tak ingin perdebatan sang suami dan sepupunya terulang lagi.
Malam kian larut, namun sepertinya pria tampan blasteran itu masih asik terjaga. Setelah kepulangannya dari kediaman sang sepupu. Viky memilih memutar kembali rekaman CCTV yang tersimpan di flashdisk yang di berikan Jenny.
Dia begitu sangat menyesalkan karena tak bisa menolong Lusi saat keadaan genting seperti itu. Dia benar-benar merasa tidak bisa menjadi suami yang sempurna untuk istrinya.
__ADS_1
"Sayang, aku pasti segera menjebloskan Siren ke penjara! jika perlu dia selamanya di kurung di sana!" Gumam Viky bermonolog.
Sejurus kemudian dia meraih benda pipih canggih miliknya. Di carinya kontak sang istri, dan menekan gambar telepon untuk menghubungi wanita yang dia rindukan.
Tut...
Tut...
Tut...
"Ada apa?" Jawab Lusi di sebrang sambungan telepon.
"Sayang, apa kau tak merindukanku sedikit pun?! aku benar-benar sudah tidak tahan ingin bertemu dengan mu!" Sahut Viky dengan rengekannya.
"Haist! kau benar-benar seperti anak kecil, Ky!" Ucap Lusi yang sebenarnya sama-sama menahan rindu.
Apa lagi, semenjak kepergiannya ke luar Negeri. Lusi selalu di beri nasihat oleh Mamih Alina dan juga sahabatnya, Ariana melalui sambungan telepon. Sebenarnya jauh dari lubuk hatinya, Lusi juga ingin segera kembali. Rencananya, mungkin satu atau dua hari lagi dia akan menuntaskan sesi menenangkan dirinya di Negeri orang itu. Dia sudah memutuskan untuk pulang dan memaafkan suaminya. Dia ingin mengikhlaskan semuanya dan memulai kembali kehidupannya bersama suaminya tercinta.
"Sayang... pulang ya!" Isak Viky. Tiba-tiba saja kedua netra nya dibasahi bulir bening kristal yang meluncur begitu saja.
"Ky, apa kau menangis?!" Tanya Lusi sedikit panik.
Pasalnya dia sangat tau, jika Viky tidak akan mudah menangis jika tidak ada sebab yang begitu menyakiti hati atau perasaannya.
"Aku terlalu merindukanmu, sayang! pulang ya! atau ijinkan aku untuk menyusul mu ke sana, ya!" Ucap Viky memelas.
"Kau tidak perlu menyusul ku kemari, Ky! mungkin dalam waktu dekat ini, aku akan kembali!" Sahut Lusi.
"Benarkah?!" Tanya Viky antusias. Wajahnya pun seketika berubah cerah dan ceria. Seketika, Lusi ikut gembira melihat keceriaan suaminya kembali.
"Ternyata apa yang di katakan Mamih dan Ariana memang benar! aku sangat bahagia melihat Viky kembali tersenyum seperti ini!" Batin Lusi saat melihat raut bahagia di wajah suaminya melalui sambungan video call yang mereka lakukan.
.
.
.
__ADS_1
.
.