
"Baguslah! pokoknya kau harus selalu waspada pada gadis itu, aku tidak mau istriku berpikiran macam-macam jika tau dia mengganggu kita lagi!" Ucap Viky kembali fokus pada Ipad-nya yang sedari tadi dia gunakan untuk mengecek saham miliknya.
"Saya berani menjamin Tuan, Nona Memei pasti tidak akan berani berulah lagi kali ini!" Sahut Rei dengan pasti. Dia benar-benar sudah memegang kunci paten gadis Desa itu.
Di Kediamannya, Lusi baru saja merebahkan tubuhnya di atas sofa panjang di depan TV. Kali ini, demi mengusir rasa bosannya karena di tinggal sang suami ke luar Kota, Lusi memilih melihat beberapa tayangan di TV. Namun bukannya terhibur, dia malah semakin bosan dan beranjak dari duduknya menghampiri taman di belakang rumahnya. Dia berniat menyiram tanaman yang selama ini selalu di urus oleh tukang kebunnya.
"Sepertinya tidak buruk juga menyiram tanaman! Pak Lee, aku mau menyiram tanaman! bisa kah Pak Lee tunjukkan selang yang sering di gunakan?!" Seru Lusi berteriak pada tukang kebunnya yang bernama Pak Lee.
"Tentu Nyonya, akan saya bawakan!" Sahut Pak Lee seraya mengambil selang yang akan di serahkan pada Lusi.
"Ini Nyonya!" Ucap Pak Lee seraya menyerahkan selang yang Lusi minta.
"Terimakasih, Pak!".
"Sama-sama Nyonya, kalau begitu saya pamit ya! kebetulan saya sudah selesai!" Pamit Pak Lee yang selalu pulang ke rumahnya sendiri setelah selesai bekerja.
"Silahkan, Pak! hati-hati ya!" Sahut Lusi seraya memutar keran air yang sudah terpasang selang untuk menyiram tanaman.
Sejurus kemudian, setelah Pak Lee pulang. Bibi Nina dan Lisa menghampiri Lusi dengan derai air mata. Kedua wanita berbeda generasi namun bersaudara itu terlihat begitu sedih setelah mendengar kabar jika Ibunya Lisa baru saja meninggal.
"Permisi Nyonya!" Sapa Bibi Nina menghampiri seraya merangkul keponakannya yang tengah menangis sendu.
"Ada apa, Bi?! kenapa Lisa menangis?!" Tanya Lusi menghentikan kegiatannya menyiram tanaman.
"Nyonya, Ibunya Lisa baru saja meninggal, kami berdua berniat ijin pulang untuk melayat," Tutur Bibi Nina.
"Astaga! aku turut berduka Lisa. Lalu kalian mau berangkat kapan?! biar supir mengantar kalian, ya!" Sahut Lusi bertanya.
"Terimakasih Nyonya, tapi kami menumpang angkutan umum saja, kami tidak ingin merepotkan!" Sungkan Bibi Nina.
"Kalian ini bicara apa sih?! aku tidak merasa direpotkan, ko! justru aku tak enak pada kalian, karena aku tidak mungkin meninggalkan rumah saat Viky tidak ada! aku titip salam untuk semua keluarga kalian saja ya, bicarakan saja pada Milo apa yang kalian butuhkan selama di sana! aku minta maaf karena tak bisa ikut melayat!" Tutur Lusi.
__ADS_1
"Terimakasih banyak Nyonya, kami benar-benar sangat berhutang budi pada anda!" Ucap Bibi Nina tulus.
"Sudahlah! sebaiknya kalian berkemas saja sekarang, biar aku panggil Milo untuk bersiap juga!" Seru Lusi seraya meletakkan selang yang sedari tadi dia pegang.
Kedua ART Lusi pun hanya bisa patuh, mereka segera melenggang kembali ke kamarnya untuk berkemas. Sedangkan Lusi sendiri menghampiri Milo, supir pribadinya untuk mengantar kedua ART nya tadi, serta memerintahkannya agar membantu segala apa pun yang di butuhkan Bibi Nina dan Lisa selama di sana.
"Lo, kau antar Bibi Nina dan Lisa pulang ya! dan berikan apa pun yang mereka butuhkan selama di sana!" Perintah Lusi pada sang supir.
"Siap Nyonya!" Sahut Milo menjawab.
Ketiga pekerja yang selalu berjaga di rumah Lusi pun akhirnya pergi meninggalkan rumah majikannya, menyisakan Lusi dengan kesunyian di rumah mewahnya itu.
"Ha... sekarang, rumah benar-benar sepi! Viky sedang apa ya sekarang?! aku benar-benar merindukannya saat ini!" Gumam Lusi seraya meraih ponselnya yang tergeletak di atas meja ruang TV.
Setelah menemukan kontak sang suami, Lusi segera menghubunginya. Namun sayangnya, Lusi tak mendapat jawaban dari sambungan telepon itu.
"Kenapa tidak di angkat?! apa dia tidak tau ya kalau aku sedang rindu! ish... menyebalkan! aku benar-benar bosan sekarang!" Gerutu Lusi seraya beranjak ke kamarnya. Dia memilih merebahkan tubuhnya di atas kasur dan tidur demi menghilangkan penatnya.
Namun saat dia tengah berjalan di lorong rumahnya yang menuju dapur. Lusi seperti melihat bayangan seperti saat di Rumah Sakit. Bayangan itu melintas kembali di sepanjang jendela yang terpajang di ruang dapurnya. Seketika bulu kuduk Lusi meremang. Dia merasa ketakutan bukan main, apa lagi saat ini tidak ada seorang pun yang menemaninya di rumah mewahnya itu.
"Astaga! siapa itu?!" Teriak Lusi demi mengusir rasa takutnya.
Srett...
Bayangan itu kembali melewati beberapa jendela. Sosoknya terlihat seperti seorang pria bertubuh tinggi besar dengan kostum serba hitam. Persis seperti yang di lihat Lusi saat di Rumah Sakit beberapa hari lalu.
"Ya Tuhan, bayang itu lagi!" Gumam Lusi. langkahnya Oun melambat seraya mengedarkan pandangannya ke segala arah.
"Viky! iya! aku harus menghubunginya untuk meminta bantuan!" Gumam Lusi lagi seraya merogoh saku bajunya untuk mencari benda pipih andalannya.
Setelah menunggu beberapa detik akhirnya sambungan telepon mulai terhubung, namun masih belum ada jawaban. Dengan sabar, Lusi menghubungi suaminya lagi. Dia benar-benar ketakutan saat ini.
__ADS_1
Di saat dia berusaha menghubungi sang suami, tiba-tiba salah satu kaca jendela dapurnya terdengar pecah di lempar sesuatu. Membuat Lusi yang tengah ketakutan semakin terkejut dengan peluh yang sudah membanjiri sekujur tubuhnya.
Prangggg...
"Ya Tuhan! Viky, kau kemana sih! kenapa kau masih tidak mengangkat teleponku!" Gerutu Lusi di sela takut bercampur kesal.
Detik berikutnya Lusi melempar ponselnya ke sembarang arah, karena terkejut melihat sosok bayang tadi menghampirinya.
"Si...siapa kau! jangan mendekat!" Gagap Lusi seraya melangkah mundur dengan perlahan.
Sosok tinggi besar itu tak menggubris pertanyaan Lusi, dia semakin melebarkan langkahnya menghampiri Lusi.
Karena semakin takut, Lusi memilih berbalik dan bersiap untuk berlari sekencang mungkin. Namun malang tak dapat di hindari, ketika dia hendak berbalik, kakinya terhilir. Membuat tubuhnya tersungkur kehilangan keseimbangan dan membentur ujung meja.
"Arrrgghhh!!!" Pekik Lusi.
Seketika, Lusi menjerit kesakitan. Di pegangan nya perut yang mulai terlihat membesar itu. Di saat bersamaan darah segar pun mengalir deras dari area inti tubuhnya.
"Ya Tuhan, bayiku! maafkan Mommy sayang! Mommy harap kau bisa bertahan," Lirih Lusi di sela rasa sakit yang menjalar di seluruh tubuhnya.
Lusi berusaha meraih kembali ponselnya. Dengan sisa tenaga yang ia punya. Dia merangkak, demi bisa meraih kembali benda pipih miliknya.
.
.
.
.
.
__ADS_1
See you next episode 😘😘😘