Jodoh Dokter Cantik

Jodoh Dokter Cantik
Eps 37.


__ADS_3

Semenjak Viky menikah, kedua orangtua Viky juga memutuskan tinggal di Negara yang sama dengan putranya. Tanpa membuang waktu, Papih Kevin berangkat ke Rumah Sakit dan mendonorkan darahnya untuk sang putra.


Di Negara lain, Lusi juga terlihat sudah berkemas. Di temani sang Mamih, akhirnya malam itu juga Lusi memutuskan kembali demi melihat keadaan sang suami langsung. Perasaannya kian meradang cemas kala Viky tak dapat dia hubungi. Akibatnya Lusi semakin khawatir dan gelisah. Pikiran-pikiran buruk tentang suaminya pun simpang siur di khayalannya.


"Tenanglah, sayang! Mamih yakin suami mu pasti baik-baik saja saat ini!" Ucap Mamih Alina yang tak pernah lelah menenangkan sang putri.


"Mamih, Ana takut sesuatu yang buruk menimpa Viky, Mih!" Isak Lusi.


"Kau harus berpikir positif, sayang! Mamih yakin semuanya pasti baik-baik saja! sebaiknya sekarang kau tidur saja! kau pasti lelah setelah seharian ini berkeliling, bukan?!" Saran Mamih Alina.


"Tapi Ana tidak mengantuk, Mih! Ana ingin segera sampai di Tanah Air! hik...hik..." Lusi kembali terisak.


Mamih Alina hanya bisa menghela kasar nafasnya. Jika sudah begini, putrinya sama sekali tak dapat dia tenangkan lagi. Mamih Alina hanya bisa berdoa, semoga saja apa yang Lusi khawatirkan tidak pernah terjadi.


Tiba di Bandara Tanah Air, Lusi bergegas menaiki mobil yang sudah di sediakan anak buah Papih Kevin. Mereka sudah menerima kabar jika menantu bosnya itu akan pulang hari ini. Kendaraan beroda empat pun di laju kan pengemudi. Lusi sudah tak bisa menahan rasa rindu dan gelisah nya lagi. Sampai-sampai dia tidak menyadari jika mobil yang dia tumpangi berhenti di sebuah Rumah Sakit.


"Kenapa kau mengantar kami ke sini? siapa yang sakit?!" Cecar Mamih Alina pada sang supir.


"Maaf Nyonya, Tuan Kevin sudah menunggu kalian di dalam! tadi siang Tuan muda Viky di larikan ke Rumah Sakit ini karena di hantam benda tajam oleh seorang wanita gila!" Tutur sang supir menjelaskan.


Deg...


Seketika detak jantung Lusi seakan berhenti, Matanya membulat sempurna setelah mendengar kabar yang di beritahukan sang supir mertuanya itu.


"A...apa?! Vi...Viky di hantam benda tajam?! lalu bagaimana keadaannya sekarang?!" Cecar Lusi mulai tak sabar bertanya.


"Tuan muda baru saja selesai di Operasi, Nona! saat ini beliau sudah di pindahkan ke ruangan VVIP!" Tutur supir Papih Kevin.


Tanpa menunggu sang Mamih, Lusi segera bergegas turun dari mobil dan mencari ruangan sang suami. Langkahnya semakin dia percepat, bahkan Lusi sampai berlari agar cepat tiba di tempat tujuannya. Setelah mendapat informasi dari petugas yang berjaga di area ruangan VVIP, Lusi segera membuka pintu ruangan yang di yakini sebagai ruangan suaminya.


Ceklek...


Kedua orangtua Viky yang tengah menunggu di dalam pun menoleh bersamaan ke arah pintu. Senyum pun mereka terbitkan tak kala melihat keberadaan sang menantu kesayangan menghampiri.


"Mom, Pih! bagaimana keadaan Viky?!" Tanya Lusi menghampiri.


"Dia baru saja selesai di Operasi, sayang! Dokter bilang, Viky akan siuman sekitar setengah jam lagi!" Tutur Mom Regina.

__ADS_1


"Bagaimana keadaan mu, sayang? apa kau kemari sendirian?!" Sahut Papih Kevin.


"Lusi baik, Pih! Lusi kemari bersama Mamih, tapi sepertinya Mamih masih di luar!" Ucap Lusi seraya menghampiri sisi tempat tidur pasien suaminya.


Kedua orangtua Viky pun mengerti, mereka berdua akhirnya memberi ruang pada sang menantu untuk mencurahkan rasa rindunya. Mom Regina menarik tangan Papih Kevin agar keluar ruangan bersamanya.


"Pih, sebaiknya kita tunggu di luar saja!" Seru Mom Regina seraya menarik sebelah tangan sang suami.


"Iya, Mom!" Sahut Papih Kevin.


Setelah keduanya berada di luar ruangan rawat Viky, mereka bertemu dengan Mamih Alina yang baru saja sampai setelah di tinggalkan sang putri di parkiran Rumah Sakit tadi.


"Lin, apa kabar mu?! apa perjalanan kalian lancar?!" Sapa Mom Regina seraya merangkul besannya itu.


Sementara di dalam ruangan...


"Sayang, kenapa kau bisa terluka begini? apa kau sudah tak bisa menjaga diri sendiri ya?! cepatlah bangun, aku sudah kembali! apa kau tidak ingin memeluk ku?!" Ucap lusi bermonolog di depan tubuh Viky yang masih terbaring tak sadarkan diri pasca Operasinya.


Sejurus kemudian, jari jemari Viky terlihat bergerak, di susul dengan kedua netra nya yang perlahan membuka. Sepertinya perkiraan Dokter yang mengatakan jika Viky akan siuman setengah jam lagi kurang akurat. Terbukti, saat ini Viky ternyata bisa siuman lebih cepat dari perkiraan yang seharusnya.


"Sa...sayang! apa itu k...kau?!" Ucap Viky terbata.


"Awww!" Pekik Viky saat Lusi tak sengaja menekan bekas operasinya di bagian dada kanannya.


"Astaga! kenapa kau meringis? mana yang sakit, Ky?!" Cecar Lusi seraya memindai seluruh tubuh suaminya.


Grep...


Dengan cekatan, Viky menangkap pergelangan tangan Lusi yang hendak menyingkap selimutnya. meski kesadarannya baru saja pulih, namun tenaganya masih cukup kuat jika hanya untuk mencekal tangan Lusi.


"Aku baik-baik saja, sayang! kemari lah! aku ingin memelukmu!" Seru Viky seraya menarik tangan Lusi agar dia mendekat ke arah tubuhnya.


Tanpa penolakan, Dokter cantik tersebut pun mendekat dan memeluk erat tubuh suaminya, meski Viky harus sedikit meringis menahan sakit akibat luka yang tertekan oleh pelukan Lusi, Namun dia tak menghiraukannya. Viky benar-benar lega. Akhirnya dia bisa membawa kembali sang istri ke dalam pelukannya.


"Sayang, aku mencintaimu!" Gumam Viky seraya mengecup pucuk kepala Lusi.


Sejurus kemudian, Lusi melonggarkan pelukannya dan menatap intens kedua bola mata suaminya.

__ADS_1


"Kau masih harus menjelaskan semuanya padaku, Ky! kenapa kau bisa terluka seperti ini?" Tanya Lusi.


"Baiklah... tapi tidak sekarang ya, aku masih ingin istirahat, sayang! kemari lah! aku ingin tidur sambil memeluk mu!" Seru Viky memelas.


Lusi menghembuskan kasar nafasnya, namun tak urung dia pun mengikuti keinginan suaminya itu. Sepertinya Lusi juga sangat membutuhkan istirahat. Pasalnya penerbangan dadakannya dari Negeri tetangga pun cukup menguras energinya hari itu.


Beberapa menit kemudian, keduanya terlihat sudah terlelap ke alam mimpi mereka. Pemandangan mengharukan tersebut tak luput dari penglihatan orangtua mereka yang baru saja masuk kembali ke dalam ruangan tersebut.


"Kasihan nya anak menantuku! mereka pasti sangat lelah! sebaiknya kita tinggalkan pulang dulu saja, Pih! kita ajak Alina istirahat juga di rumah kita!" Tutur Mom Regina.


"Baiklah, Mom! ayo!" Sahut Papih Kevin.


"Ayo Lin! kita pulang ke rumahku, yuk!" Seru Mom Regina.


Dua bulan kemudian, di sebuah gedung peresmian perusahaan baru milik Jenny.


"Selamat Nona, akhirnya perusahaan kosmetiknya resmi di buka juga!" Ucap Lusi seraya merangkul Jenny memberi ucapan.


"Terimakasih, kau datang sendirian, ya? kemana Viky?!" Tanya Jenny seraya celingukan mencari sosok sepupu suaminya itu.


"Dia sedang menyapa beberapa rekan bisnisnya, di sebelah sana! hai baby Kea, aih... menggemaskannya! aku gendong ya!" Tutur Lusi seraya mengambil alih baby Keanza dari pangkuan baby sister nya.


"Kenapa kau tidak program hamil lagi saja?! padahal kau sudah lewat masa nifas, kan?!" Ucap Jenny yang tak sengaja di dengar Viky yang menghampiri kedua perempuan cantik itu.


"Wah! apa benar begitu, sayang?! kau sudah selesai nifas, ya?!" Sahut Viky antusias bertanya.


"Astaga! kenapa mulut mu berisik sekali, sih?! kalau orang lain mendengar, kan bisa malu aku!" Gerutu Lusi yang mengundang kekehan Jenny.


"He... aku bawa baby Kea ke Daddy-nya dulu deh, ya! permisi!" Cicit Jenny seraya meraih sang putri dari gendongan Lusi dan melengos meninggalkan pasang pasutri yang sepertinya akan memulai peperangan.


.


.


.


.

__ADS_1


.


See you next episode 😘


__ADS_2