
"Aku sih, mau-mau saja, Nek! tapi aku tidak ingin memaksa Sandra! biar bagaimana pun, dia juga berhak menentukan hidupnya!".
"A...aku, belum siap, Nek! maaf!" Lirih Sandra ikut menimpali.
"Tapi kau mencintai cucu ku, kan?!" Tanya Nenek Wenda menelisik.
Sandra terdiam, dia tidak tau harus berkata apa. Jika dia jujur, apa Daniel akan marah padanya. Dia takut, jika ucapannya bisa membuat hidupnya sendiri sulit untuk ke depannya.
"Kau tidak mencintaiku?!" Sahut Daniel ambigu.
"Ma...maksud, Tuan?" Bisik Sandra.
"Aku mencintaimu, San! bahkan aku rasa, saat kita pertama kali bertemu, aku sudah menyukaimu!" Tutur Daniel.
"Tuan Daniel pasti sedang bersandiwara, kan? mana mungkin dia menyukai ku pada pandangan pertama?!" Batin Sandra.
"Kau tidak percaya padaku ya?! aku benar-benar menyukaimu, Sandra Amora!" Ucap Daniel seraya menggenggam kedua tangan Sandra untuk meyakinkan.
"Kau persis sekali, seperti Nenek saat muda dulu! selalu malu jika di tanya perasaan oleh pasangan kita sendiri!" Sahut Nenek Wenda yang membuat Sandra tersipu malu.
Kedua pipi cabi nya pun terlihat memerah seperti tomat. Daniel mengulum senyum melihat hal itu, dia semakin yakin, jika Sandra juga memiliki perasaan yang sama dengan dirinya.
Tiba di depan gedung apartemen. Daniel segera membukakan pintu mobil untuk Nenek dan juga Sandra. setelah membantu keduanya turun dari mobil, Daniel memapah Sandra menuju lift.
"Aku akan buatkan kalian minuman dulu, kalian duduk kah dulu di sini!" Seru Daniel berniat pergi ke dapurnya, namun segera di cegah oleh Nenek.
"Tidak perlu, Dan! duduklah dulu! ada yang ingin Nenek bicarakan dengan kalian!" Ucap Nenek Wenda.
Seketika Daniel maupun Sandra saling melempar tatap. Mereka berpikir, akan ada hal apa lagi yang akan Nenek Wenda sampaikan pada mereka. Tanpa membantah lagi, Daniel menghampiri dan duduk di samping Sandra.
"Ada apa, Nek? sepertinya Nenek akan mengatakan hal yang serius ya?!" Tanya Daniel tak sabar.
"Apa Nenek sudah mengetahui sandiwara kita ya?! duh... kalau benar, bagaimana ya?! aku tidak yakin jika nenek tidak akan marah nantinya!" Batin Sandra.
"Nenek hanya ingin menanyakan satu hal pada Sandra!" Ucap Nenek Wenda membuat Sandra panik bukan main.
"A...aku, Nek?! hal apa?" Gugup Sandra. Kedua tangannya begitu dingin disertai keringat yang mulai meluncur dari keningnya.
"Apa pekerjaanmu benar-benar seorang artis?!" Tanya Nenek Wenda.
__ADS_1
"I...itu, itu me... memang..." Gugup Sandra.
"Aku yakin kalau Nenek kali ini sudah mencurigai sandiwara kami! sebaiknya aku jujur saja dan meminta maaf padanya sekarang!" Batin Sandra.
"Memang apa? benar atau tidak?!" Tanya Nenek penuh intimidasi.
"Nek! Sandra memang seorang artis! kenapa Nenek masih menanyakan hal itu sih?!" Sanggah Daniel.
Seketika, Sandra memegang sebelah tangan Daniel yang berada di atas pada pria itu. Dia sudah putuskan, jika saat itu juga, dia akan mengakhiri sandiwara mereka. Masalah bagaimana kedepannya, Sandra hanya bisa pasrah. Yang terpenting, sekarang dia harus jujur pada Nenek Wenda.
"Diam lah dulu, Dan! aku hanya ingin memastikannya saja!" Ucap Nenek Wenda kembali menatap Sandra.
"Aku... maafkan aku, Nek! sebenarnya aku memang bukan seorang artis! aku hanya seorang pembantu di apartemen Tuan Daniel ini! maafkan aku, Nek! aku benar-benar menyesal sudah membohongi Nenek!" Tutur Sandra seraya menundukkan kepalanya, tak berani menatap sang kawan bicara.
"Apa yang kau katakan, San?! itu tidak benar, Nek! dia benar-benar seorang artis! dan dia juga kekasih Daniel!" Sanggah Daniel.
Nenek Wenda hanya tersenyum melihat tingkah keduanya. Dia malah semakin yakin untuk menikahkan keduanya saat itu juga.
Karena lama tak mendengar respon dari Nenek Wenda, Sandra pun mencoba mengangkat kepalanya untuk mencari tau apa yang terjadi.
Saat kedua netra nya bertemu dalam satu titik dengan netra Nenek Wenda. Hal pertama yang dia temui adalah tatapan teduh dari wanita tua itu. Tidak ada sedikitpun tersirat amarah di dalamnya.
"Aku suka dengan kejujuran mu itu, sayang! kau memang cocok untuk cucu ku!" Ucap Nenek Wenda yang membuat Sandra juga Daniel mengerutkan kening mereka masing-masing.
"Haist! wajah kalian benar-benar menggemaskan! kalian pikir, aku tidak tau ya dengan sandiwara yang kalian buat-buat ini?! dan kau, Dan! apa kau pikir Nenek tidak bisa menyewa detektif handal ya, jika hanya untuk menguntit keseharian mu?!" Ucapan Nenek Wenda. Detik berikutnya, barulah Daniel paham dengan ucapan sang Nenek.
"Ja...jadi, Nenek sudah tau dari awal?!" Tutur Daniel yang di jawab anggukan oleh Nenek Wenda.
"Ya Tuhan, bahkan Nenek sudah tau semuanya, itu berarti, Nenek tau siapa aku sebenarnya?! tamatlah riwayatku!" Batin Sandra.
"Nenek, saya benar-benar minta maaf, saya benar-benar tidak berniat membohongi, anda! sumpah! jadi, Nenek mau kan memaafkan saya! dan Nenek tidak akan menuntut apa pun, kan?! dari saya." Tanya Sandra bimbang.
Nenek Wenda malah terkekeh. Dia benar-benar tak habis pikir dengan reaksi Sandra yang begitu ketakutan dia tuntut balik atas penipuannya.
"Aku tidak akan menuntut mu! tapi aku hanya ingin kau bertanggung jawab!" Ucap Nenek Wenda.
"Tanggung jawab?! maksud Nenek?!" Tanya Sandra.
"Kau sudah membuat cucuku jatuh hati, padamu! jadi kau haru mau menikah dengannya!" Tutur Nenek Wenda dengan santainya.
__ADS_1
Daniel tersenyum penuh kemenangan, ternyata Nenek nya itu memang yang terbaik, selalu tau apa yang dia inginkan. Beda halnya dengan Sandra yang masih, syok. Dia masih tak bisa menerima kenyataan yang sedang dia alami saat ini, rasanya terlalu cepat berlalu begitu saja.
"Me... menikah? tapi... Tuan, apa kau benar-benar menyukaiku?! aku kan hanya seorang pelayan, aku juga tidak memiliki harta yang berlimpah seperti kekasih-kekasih Tuan sebelumnya!" Tutur Sandra beralih menatap Daniel.
"Kau bisa memiliki harta yang berlimpah setelah menikah dengannya! dan aku yakin, kau pasti akan membawa keberuntungan untuk Daniel! aku sendiri sudah melihatnya, sudah lama aku tak melihat cucu ku seceria seperti saat bersama Lusi, dulu! apa lagi setelah gosip murahan yang model gila itu sebar, Daniel semakin berubah dingin dan cuek, senyumnya luntur entah kemana!" Aku Nenek Wenda menjeda ucapannya.
"Tapi, setelah dia bertemu dengan mu! senyumnya selalu terhias meski kadang dia sendiri tak menyadarinya!" Kekeh Nenek Wenda di akhir ucapannya.
Blush...
Seketika, pipi Sandra merona, dia begitu tersanjung mendengar Tutur kata Nenek Wenda.
"Jadi, kau mau kan menikah denganku?!" Tanya Daniel menyela.
"A...aku," Gumam Sandra yang masih nampak ragu.
"Aku janji! aku akan segera selesaikan gosip itu secepatnya! yang penting kau percaya padaku sekarang! bayi yang di kandung Sunny benar-benar bukan bayi ku! kau percaya kan, padaku?!" Seru Daniel seraya memegang kedua sisi lengan atas Sandra.
"Hm... aku percaya padamu, Tuan!" Ucap Sandra.
"Hei! kenapa kau memanggilku lagi dengan sebutan Tuan?! panggil aku sayang saja seperti tadi, ok!" Protes Daniel yang membuat Nenek Wenda terkekeh melihat tingkah bucin cucunya.
Setelah meluruskan semua permasalahan. Nenek Wenda berpamitan pada Sandra dan Daniel. Kini keduanya tengah duduk di sofa ruang TV. Menikmati momen kebersamaan yang baru terjalin secara resmi.
"Sekarang kan kita sudah resmi jadi pasangan kekasih, jadi..." Tutur Daniel menggantung ucapannya seraya memangkas jarak posisi duduknya dengan Sandra.
"Ja...jadi apa, Tuan? ups!" Sahut Sandra salah menyebut seraya membekap mulutnya sendiri oleh tangannya.
"Astaga! kenapa kau selalu menggemaskan begini?! aku jadi tidak sabar ingin segera menikahi mu!" Ucap Daniel seraya melepas bungkaman tangan di mulut Sandra.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Masih cerita Daniel dan Sandra dulu ya guys... Lusi sama Viky nya lagi puasa dulu katanya 😁✌🏻
Gak kerasa udh hari Senin lagi nih, vote nya kalau boleh tebar di sini ya biar mom tambah semangat up, jangan lupa sertakan like dan komen terbaik kalian juga... see you next episode 😘😘😘