
"Ayah sama bunda lebih baik pulang karna hari sudah sore biar aku saja yang menemani desya di sini" ucap ku karna tidak ingin ayah dan bunda kelelahan dan jatuh sakit.
"Kalau begitu kami pulang dulu nak kamu jangan lupa makan" ucap bunda.
"Iya bunda ku sayang" jawab ku dan menyalami tangan mereka.
"Assalamualaikum" ucap ayah dan bunda.
"Walaikum salam" jawab ku. Dan kembali merebahkan tubuhku di sopa hingga terlelap karna kelelahan. Hingga 2 jam lamanya aku tidur bahkan dokter masuk kedalam ruangan desya aku tidak menyadari. Ku buka mata ku dan betapa terkejut melihat ada dokter sedang memeriksa desya.
"Bagaimana keadaan adek saya dok?" tanya ku.
"Sudah lebih baik hanya saja demamnya hanya turun sedikit" jawab dokter itu
"Lalu bagaimana dok?" tanya ku mulai kawatir.
"Tidak apa-apa nona kita lihat sampai besok pagi baru mengambil tindakan lebih lanjut" jelas dokter.
"Hufff baik dok terimakasih" jawab ku lesu dan menatap desya sendu.
"Saya permisi dulu nona" pamit dokter itu lalu keluar bersama suster.
"Silahkan dok" jawabku.
"Kak" panggil desya matanya sudah berkaca-kaca.
"Kenapa sayang hem" tanya ku.
"Maaf karna merepotkan kakak" ucapnya sambil terisak.
__ADS_1
"Hey kakak tidak merasa di repotkan kok" jawab ku.
"Pasti mahal biaya rumah sakit kita pulang saja yuk kak" ucap anak berusia 7 tahun itu.
"Tidak kok sayang kan pakai BPJS" jawab ku sambil tersenyum.
"Sekarang kamu tidak usah mikirin apa pun lebih baik kakak bersihkan badan kamu biar segar" ucap ku agar dia tidak berpikiran aneh-aneh.
"Ayo kak" ajaknya antusias. Lalu ku lap badannya dan mengganti baju dan menyisir rambutnya.
"Sekarang sudah cantik dan wangi" ucap ku tersenyum manis.
"Hehehe iya kak tinggal kakak yang belum mandi dari pagi" ucapnya terkekeh.
"Astaga bener juga. Ya sudah kakak mau mandi dulu kamu tunggu sini oke gadis manis" ucap ku dan masuk kamar mandi dan melakukan ritual mandi. Setelah selesai aku keluar dan tidak mendapati desya. Ku telusuri semua lorong rumah sakit dan berhenti di taman rumah sakit karna aku sepertinya sudah menemukan dia bersama seseorang yang ku kenal.
"Sayang kenapa keluar tanpa bilang kakak sih" ucap ku kesal karna desya tidak mematuhi ku.
"Kamu mau apa kesini bikin rusuh tau tidak" ucap ku ketus ada rasa marah dan kesal karna mencari desya keliling rumah sakit.
"Maaf aku hanya ingin menjenguknya saja" alasan nya.
"Tapi tidak perlu keluar juga kamu tau rasanya jantung ku mau copot" kata ku kesal.
"Maaf sekali lagi" ucapnya lirih.
"Kami tidak bermaksud membuat kamu kawatir" ucap wanita yang menjadi calon istri aziz.
"Hah kalian tidak bermaksud tapi tindakan kalian itu salah" kata ku kesal.
__ADS_1
"Maaf wi" ucap aziz lirih.
"Sudah lah kalian tidak akan paham" ucap ku.
"Desya ayo sayang kita masuk keruangan udaranya tidak baik buat kamu" lanjut ku tegas.
"Baik kak" jawab desya dengan kepala tertunduk. Lalu ku bawa desya tanpa memperdulikan mereka lagi. Rasanya sesak dada ku. Ingin menangis tapi tidak mungkin karna ada desya. Sampai di ruangan ku bantu desya berbaring dan ku tatap wajah yang sudah tidak terlalu pucat itu.
"Hiks... Hiks.... Hikss..." tangis ku sudah tidak tertahan lagi.
"Hiks maaf kak aku janji tidak membuat kawatir lagi" ucap desya sambil memeluk ku. Masih ku tumbahkan semua kekesalan dan kemarahan ku tadi dengan tangis ku hingga setelah jam baru aku sudah menangis dan melihat desya sudah terlelap karna terlalu lama menangis.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.