
"Terus apa wi" ucapnya frustasi.
"Aku ingin memantaskan diri agar bisa bersanding dengan mu" ucap ku sendu.
"Tapi tidak perlu pergi wi" ucapnya tegas.
"Aku tidak ingin kamu melihat aku dengan kasihan mas dan selalu membantu ku" ucap ku tegas karna sudah jengah dengan mas Ragil tidak memahami aku.
"Aku tidak paham jalan pikiran mu wi" katanya tambah frustasi.
"Mas semua orang tidak ada yang menghargai aku karna kamu selalu menolong ku. Mereka selalu bicara kalau aku memanfaatkan kamu dan harta mu" kata ku tidak kalah frustasi.
"Kenapa kamu lebih peduli ucapan mereka dari pada perasaan ku" katanya sendu.
"Kamu egois mas tidak memikirkan perasaan aku" ucap ku kecewa dan pergi dari ruangan itu menuju ruangan keluarga dan di sana menunggu aku.
"Gimana nak kamu berhasil menyakinkan Ragil" tanya mama.
"Tidak ma maaf lebih baik aku pulang karna besok harus berangkat" jawab ku sendu.
"Ya nak tidak apa-apa nanti mama bantu menjelaskan" kata mama menenangkan ku.
"Iya ma kalau bisa dia menemui aku sebelum berangkat ma" ucap ku sedih.
"Iya nak nanti mama usahakan" jawab mama.
"Aku pamit pulang ma dek" pamit ku dan memeluk mereka bergantian di atas sana terlihat mas Ragil memandang aku.
"Hati-hati" kata mereka.
"Assalamualaikum" ucap ku, bunda dan ayah.
Tuhan semoga ini jalan yang terbaik untuk semuanya aku tidak ingin mereka terbebani oleh ku. Maaf mas aku harus pergi semoga kita bisa bertemu lagi. Ucap ku dalam hati dengan memandang rumah mereka tak terasa air mata ku sudah terjun bebas.
"Sabar nak semoga ini jalan yang terbaik" ucap bunda mengemangati aku.
"Kamu harus bisa nak agar tidak di cemooh oleh orang terus" kata ayah tegas.
__ADS_1
"Iya yah aku akan berusaha agar tidak memalukan kalian lagi" tekat ku.
Sampai di rumah aku masuk kamar mulai berkemas untuk pergi besok hari. Hingga selesai aku baru membersihkan diri dan berbaring di ranjang yang akan sangat aku rindukan nanti nya.
Semoga kamu bisa mengerti keadaan ku mas dan aku akan selalu meminta kepada tuhan agar kamu adalah jodoh ku. Ucap ku dalam hati.
***********
Di tempat lain yaitu di rumah Ragil anak dan ibu sedang duduk berhadapan seperti di sidang ya sidang masa depan lebih tepatnya.
"Apa kamu tidak bisa memahami duwi nak?" tanya mama lembut.
"Aku tidak bisa mengerti ma kenapa dengan harus pergi lama" ucap laki-laki itu frustasi.
"Kamu tau saat mama sama almarhum papa masih muda kami berpisah lama karna papa mu orang tidak kaya. Dan dia meninggalkan mama untuk memantaskan diri agar layak bersanding dengan nya, awalnya mama tidak setuju dengan papa yang harus pergi tapi di saat mama tau kenapa papa pergi mama menyesal karna tidak bisa mengerti keadaan papa. Di saat mama di hina karna mempunyai pasangan yang miskin papa mu bertekat agar dia segera sukses dan bisa di banggakan oleh mama dan tidak bikin mama malu" jelas mama panjang lebar.
"Tapi ma kan bisa menggapai kesuksesan bersama tanpa harus pergi" protes Ragil.
"Iya kamu benar tapi harga diri mereka akan terluka karna selalu dapat bantuan dari kita dan mereka tidak akan pernah di akui oleh dunia" tegas mama.
"Aku tidak bisa ma seperti ini" ucapnya lirih.
"Aku gak mau ma jika dia pergi aku gak akan rela" sengit Ragil.
"Sudah renungilah dulu semoga keputusan kamu tidak membuat kamu menyesal kemudian hari dan duwi harap kamu bisa datang di saat jam 06.00 pagi" ucap mama dan pergi dari ruang kerja Ragil menuju kamarnya karna sudah lelah di tambah anak laki-laki nya bikin kesal.
Apa yang harus aku lakukan sekarang wi melepaskan kamu? atau menunggu mu? Sungguh aku delema sekali. Ucap Ragil melihat kearah jendela ruang kerjanya.
**********
Kembali lagi ke duwi. Pada esok hari dimana hari ini dia akan pergi untuk memantaskan diri. Sekarang sudah siap semua mulai dari koper, bekal, dll yang di siapkan bunda. Sudah jam 06.05 tapi belum ada tanda-tanda akan kedatangan Ragil dan dengan berat hati duwi harus menelan kekecewaan yang teramat besar. Di naiki mobil taxi yang sudah ku pesan dan berpamitan kepada bunda dan ayah dengan penuh derama.
Tiba di bandara aku menunggu pesawat yang akan berangkat jam 07.30 itu artinya masih ada waktu setengah jam lagi untuk bersantai.
Apa kamu benar tidak akan datang mas dan memilih mengakhiri hubungan ini. Ucap ku dalam hati dengan air mata yang menetes ke pipi.
"Maaf mbak bisa saya duduk di samping anda?" tanya laki-laki yang bertopi dan bermasker.
__ADS_1
"Silahkan mas" jawab ku singkat.
"Mbak mau kemana?" tanya laki-laki itu.
"Dekat-dekat sini saja" jawab ku seadanya dan ku tatap matanya seperti kenal dan sanvat familiar tapi punya siapa.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.