
"Saya ingin kamu tinggalkan anak saya" kata ayah tegas.
"Saya tidak mau om" jawab Ragil lantang.
"Kamu sudah mengecewakan keluarga kami" kata ayah emosi.
"Saya minta waktu untuk membuktikan jika saya tidak bersalah om" ucap Ragil tegas dan yakin.
"Baik saya beri kamu waktu 1 minggu untuk membuktikan kalau kamu tidak salah" tegas ayah tidak ingin di bantah lagi. Aku hanya bisa diam bingung harus melakukan apa?.
"Maaf sebelumnya selama satu minggu ini saya ingin pergi dan akan kembali jika anda membuktikan anda tidak bersalah, tetapi jika anda terbukti salah saya akan pergi selamanya" kata ku setelah diam mendengarkan mereka.
"Tapi nak" bantah bunda tidak terima.
"Bun percaya pada ku semua akan baik-baik saja. Apa lagi bunda dan ayah bisa menemui aku jika aku pergi atau aku akan pulang" kata ku jelas.
"Tidak bisakah kamu menunggu seminggu baru mengambil keputusan" kata Ragil sendu.
"Maaf itu keputusan saya tidak bisa di ganggu gugat lagi" tegas ku.
"Baik jika itu keputusan kamu" kata Ragil lirih.
"Kalau begitu kami pamit pulang dulu" izin mama kepada kami dan kami hanya mengangguk saja.
"Assalamualaikum" lanjut nya.
"Walaikum salam" jawab kami.
__ADS_1
Setelah mereka pulang kami masuk kamar masing-masing dan istirahat pikiran dan fisik. Saat aku dan desya berbaring di atas kasur dia memeluk ku sangat erat seolah tidak ingin aku pergi meninggalkan dia lagi, tapi mau bagaimana lagi itu jalan hidup yang harus aku tempuh.
"Kak aku sangat mencintai dan menyayangi kakak" kata desya sendu.
"Kakak juga begitu dek" jawab ku dengan sedih karna aku tahu bagaimana kecewa, sakit, marah, dan kesal desya kepada kakak kandungnya itu.
Setelah kami bercerita cukup lama akhirnya desya terlelap sangat nyenyak. Aku turun dari ranjang pelan-pelan agar tidak membangunkan desya. Ku bediri di balkon kamar menatap bulan yang sangat terang dan angin terus bertiup membuat ku merasa dingin yang menusuk tulang. Rasa sakit yang aku rasa saat ini tidak sebanding dengan rasa dingin yang aku rasa.
Tuhan apa yang harus aku lakukan, di satu sisu aku bingung jika pergi maka bunda akan kecewa dan sedih, tapi jika aku berada di sini rasanya tidak sanggup melihat dia bersama wanita lain. Keluh hati ku dengan jeritan yang sangat menyakitkan.
"Huh cinta membuat ku bahagia sesaat dan sakit hati yang membekas" kata ku lirih dengan kesedihan.
Ku putuskan untuk masuk karna sudah merasa lega sedikit dan masuk kamar mandi dan melakukan solat tahajut untuk memintak petunjuk dan jalan mana yang harus di ambil.
Selesai solat aku melantunkan suara membaca Al-Qur'an hingga subuh saat azan berkumandang aku membangunkan desya untuk melakukan solat subuh berjama'ah.
"Dek bangun yok solat dulu" ucap ku lenbut dengan mengelus pipinya.
Saat ini kami sedang berada di dapur setelah solat subuh sedangkan ayah membaca koran dan di temani secangkir kopi dan kue bolu yang kami buat kemaren sore. Selesai memasak kami sarapan bersama dengan canda tawa. Saat kami sedang bercanda ada yang datang.
Tok tok tok
"Assalamualaikum" ucap seseorang di balik pintu.
"Walaikum salam" jawab kami lalu ayah membukakan pintu dan melihat seseorang di depan dan ternyata.
.
__ADS_1
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
.