
"aku bisa jelasin wi" ucap mas Eki memegang tangan ku namun langsung ku tepis.
"selamat atas kesembuhan anda tapi perlu anda ingat rasa sakit saya akan anda bayar mahal suatu hari Tuhan tidak tidur" kata ku yang sangat pilu. ku tinggalkan ruangan dokter itu dan menuju taman rumah sakit.
Saat di taman aku sudah tidak bisa membendung air mata ku lagi rasanya sangat sesak dada. Tidak ada yang bisa ku lakukan selain menangis untuk menumpahkan segala yang aku rasakan.
Bagaimana aku memberitahu kepada ayah dan bunda tentang semua ini yang sudah dekat hari pernikahan oh tuhan kenapa memberikan aku cobaan yang sangat berat. Ucap ku dalam hati.
Aku kaget saat ada tangan mengelus kepalaku yang tertutup jilbab dan membuat ku melihat keatas siapa yang mengelus kepala ku.
"Kamu kenapa menangis disini?" tanya seseorang.
"Tidak apa-apa" jawab ku sampai memalingkan wajah kearah lain.
"Kenapa tidak keruangan desya dia menunggu kamu dari tadi?" tanya seseorang itu walau dia sudah tau apa yang terjadi karna tidak sengaja melihat saat akan kekantin.
"Apa oprasinya sudah mulai?" bukan menjawab malah balik bertanya disaat teringat dengan sang adek.
"Belum 10 menit lagi" jawabnya santai.
"Astaga ayo kita keruangan desya sekarang" ucap ku dan langsung menarik tangan Ragil ya laki-laki yang mengusap kepala ku adalah Ragil. Saat tiba di ruangan desya ternyata sudah ada dokter dan suster yang akan membawa desya keruang oprasi.
"Kak" panggil desya lirih saat melihat ku di ambang pintu dan ku hampiri dia ku peluk tubuhnya yang sekarang sedikit gemuk.
"Kamu harus kuat oke kakak akan tunggu kamu" ucap ku dan mencium kening desya.
"Boleh kami bawa pasien" kata dokter.
"Boleh dok" jawab kami serempak.
Lalu dokter itu membawa desya keruangan oprasi dan kami menunggu hingga selesai oprasi. 5 jam oprasi baru selesai dan dokter keluar dengan beberapa suster.
"Dok gimana keadaan adek saya?" tanya ku pada dokter dengan cemas dan kawatir.
"Alhamdulillah oprasi lancar dan tinggal nunggu adek anda bangun" jawab dokter dengan senyuman.
"Sukurlah" balas kami dan bernafas lega.
"Nak gimana keadaan adek kamu?" tanya bunda kawatir baru pulang dari luar kota langsung kerumah sakit saat aku mengirim pesan tadi.
__ADS_1
"Oprasi desya lancar bun" jawab ku dan memeluk bunda dengan air mata yang deras.
"Sukurlah" kata bunda tapi dia merasa ada yang aneh dengan ku tapi bunda belum mau menanyakan sekarang karna waktu tidak tepat.
Setelah desya di pindahkan ruang rawat inap VIP aku menyuruh bunda dan ayah pulang karna pasti mereka sangat lelah dan itu di setujui oleh ayah. Saat mereka perjalanan menuju loby rumah sakit ayah melihat eki bersama wanita yang sangat mesra. Lalu ayah menghampiri tapi saat sudah dekat ayah mendengar pembicaraan mereka.
"Mas gimana dengan mbak duwi? Dan pernikahan kamu?" tanya wanita itu pada eki.
"Aku akan membatalkan pernikahan ini demi kamu" jawabnya agak berat karna eki juga sudah mulai menaruh hati dengan kesabaran duwi saat merawatnya.
"Astagfirullah jadi ini kelakuan kamu di belakang anak ku" ucap ayah yang mengagetkan mereka tapi ayah yang sudah terlanjur kecewa langsung menampar wajah eki.
Plaaak
"Ayah saya bisa jelaskan" ucap eki mencoba menjelaskan tapi tidak di hiraukan lagi hari ini ayah sudah terlanjur sangat kecewa bagaimana nasip anaknya yang 2 minggu lagi akan menikah harus gagal dan menanggung malu.
Setelah itu ayah menghampiri bunda dan pulang kerumah dia menyuruh ku pulang sesudah magrib dan ayah tidak lupa mengajak temannya itu yang jadi calon besannya kerumah beserta anaknya.
Singkat cerita kami sudah berkumpul di ruang tamu dengan diam tanpa ada yang bicara hingga aku memberanikan diri untuk bicara.
"Maaf tante om ayah dan bunda beserta yang lain keluarga yang ada di sini" ucapan ku terjeda dan mengambil udara sebanyak-banyaknya agar mampu mengungkapkan apa yang ku rasa saat ini.
"Aku menerima semua keputusan kamu wi" ucap mas eki dengan nada berat ada rasa tak rela.
"Terimakasih dan aku harap persahabatan ayah dan om tidak putus karna masalah ini" kata ku tapi ayah terlihat sangat marah tapi masih mampu menahannya tidak dengan papa mas eki dia langsung menampar dengan keras.
Plaaaaaaak plaaaaaaak plaaaaaaak
Tamparan demi tamparan yang di terima oleh mas eki dari papanya yang sangat kecewa kepada anaknya itu.
"Aku tidak menyangka kau akan menyakiti kami dan memalukan kami seperti ini dan mulai hari ini aku tidak mempunyai anak seperti mu semua aset ku bukan lagi ku ambil alih" ucap papa mas eki dengan tegas.
"Kamu begitu tega dengan duwi dia menenani mu tanpa meminta imbalan di saat kamu sakit dia mengurus mu dengan baik di saat sembuh kamu melupakan semuanya. Bagaimana jika yang dirasakan oleh duwi juga di rasakan oleh adek mu" kata tante sasmita dengan kecewa itu membuat hati mas eki bagai di tujuk beribu jarum.
"Maafkan kami yang mengecewakan keluarga mu" ucap tante sasmita kepada bunda dengan sedih.
"Sudah tidak apa mungkin mereka tidak berjodoh" jawab bunda bijak.
"Aku tau kau sangat marah pada kami yang mempermainkan anak gadis mu bro aku minta maaf sebesar-besarnya" ucap papa mas eki.
__ADS_1
"Hem" jawab ayah dingin dan beranjak pergi dari ruang tamu.
"Kami permisi pulang dulu mbak" ucap tante sasmita.
Iya silahkan" jawab bunda masih ramah.
"Maaf kan putra mama wi yang mengecewakan kamu kami pamit" pamit tante sasmita dengan pelukan ku.
"Assalamualaikum" ucap mereka.
"Walaikum salam" jawab ku.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.