Jodoh Misterius

Jodoh Misterius
Eps 41


__ADS_3

"Baik kabari aku jika kamu sudah bisa bertemu dengan ku" katanya lembut selembut sutra.


Hah rasanya aku akan luluh jika dia seperti ini. Ucap ku dalam hati.


"Aku akan pergi dulu ada meting. Assalamualaikum" ucapnya


"Walaikum salam" jawab ku lalu ku matikan sambungan telpon dari ragil.


Tuhan aku harus melangkah kemana lagi rasanya aku mulai lelah dengan cobaan mu tuhan. Bisakah kamu membantu ku untuk tidak mempertemukan pada orang yang salah. Jerit hati ku.


Saat aku asik melamun pintu kamar di ketuk.


Tok tok tok


"Nak bisa kita bicara sebentar" kata bunda di luar pintu kamar.


"Bisa bun" jawab ku setelah membuka pintu kamar dan melihat bunda sedang menatap ku dengan tajam.


"Ayo kita bicara di taman belakang nak" jawab bunda.


Lalu kami melangkahkan kaki menuju taman belakang yang terdapat bunga dan sayuran.


Tiba di sana aku dan bunda duduk di ayunan dengan memandang kearah tanaman yang membuat suasana sejuk.


"Wi bunda tidak tahu kamu ada masalah apa yang jelas bunda merasa gelisah sejak kamu pergi kerumah desya" ucap bunda.


"Bun" panggil ku lirih dengan mata sudah berkaca-kaca.


"Kenapa nak cerita sama bunda?" tanya bunda mulai kawatir.


"Aku bingung harus bagaimana" kata ku sendu terasa sesak dada mengingat kejadian tadi.


"Ceritalah nak" kata bunda dengan mengelus tangan ku.


"Aku kecewa kepada mas Ragil bun dia menghamili wanita tapi dia bilang kalau dia tidak merasa melakukan itu bun" jelas ku dengan air mata mengalir deras tanpa di suruh.

__ADS_1


"Nak bunda tahu kamu kecewa, marah, sakit hati tapi cobalah untuk memberikan kesepatan untuk Ragil membuktikan apa yang sebenarnya yang terjadi" kata bunda bijak.


"Solat lah nak minta petunjuk kepada Allah apa yang benar mana yang salah" lanjut bunda.


"Iya bun" ucap ku sendu.


"Kamu tinggalkan saja laki-laki itu biar ayah urus kepergian kamu" kata ayah marah yang datang tiba-tiba entah dari mana.


"Ayah" ucap kami kaget.


"Ayah tidak suka anak kesayangan ayah di sakiti seperti ini lagi, lebih baik kamu pergi dari hidupnya" kata ayah nada tinggi.


"Ayah jangan emosi dulu kita bisa bicara baik-baik" kata bunda menenangkan ayah yang sedang marah besar.


"Keputusan ayah sudah final bun" katanya lalu pergi kedalam rumah.


"Bun bagaimana ini" tanya ku takut ayah melakukan sesuatu yang membahayakan mereka.


"Bunda juga tidak tahu nak" lirih bunda karna dia sudah tahu watak ayah yang sudah marah seperti apa.


Tok tok tok


"Assalamualaikum" ucap orang diluar lalu di buka pintu oleh desya dan di silahkan masuk aku kaget sangat ternyata yang datang adalah keluarga Ragil.


"Walaikum salam" jawab kami.


"Apa kabar nyonya" tanya bunda basa-basi.


"Baik bu" jawab mama tapi dia bingung kenapa bahasanya sangat sopan tidak seperti biasanya.


"Ada yang ingin kamu jelaskan kepada saya" tanya ayah dingin kepada Ragil dengan tatapan tajam.


"Saya" dia bingung harus bicara apa.


"Saya ingin kamu tinggalkan anak saya" kata ayah tegas.

__ADS_1


"Saya tidak mau om" jawab Ragil lantang.


"Kamu sudah mengecewakan keluarga kami" kata ayah emosi.


"Saya minta waktu untuk".


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2