
"Maaf tante saya tidak bisa kembali karna hati saya sudah sangat kecewa dengan laki-laki ini karna disaat dia merasa putus asa tidak bisa sembuh dari sakitnya. Tapi saya selalu menemani dia di saat terpuruk dan dengan teganya dia menghianati saya setelah semua pengorbanan saya di saat sudah sembuh" jelas ku dengan air mata meluncur kepipi.
"Maaf wi saya menyesal" ucap mas eki lirih.
"Penyesalan kamu sudah tidak berguna bagi saya semua sudah berakhir" tegas ku.
"Kamu wanita murahan setelah tidak jadi dengan kak aziz kamu malah dengan mas eki. Dasar wanita tidak tau diri semuanya mau di ambil" ketus yasmin pada ku.
"Sebelum kamu menyalahlan saya coba kamu bertanya kepada kedua laki-laki ini saya kah yang salah atau mereka. Saya masih bisa diam jika kamu hanya mengambil dia dari hidup saya tapi tidak dengan penghinaan ini" marah ku pada yasmin yang sudah tidak bisa ku tahan lagi.
"Cih sok paling tersakiti" ejek yasmin.
"Saya tidak menyangka hanya karna kalian saya di permalukan seperti ini. Kamu Aziz pergi tanpa alasan dan tiba-tiba kamu membawa wanita dengan alasan tidak bisa menolak keinginan ibu mu dan saya menerimanya. Sedangkan kamu Eki dengan mudahnya menghianati saya setelah kamu sembuh, tidak ingatkah bagaimana putus asanya dirimu saat berada di rumah ku? Dan bagaimana perjuangan ku agar kamu bisa sembuh?. Apa kah kalian sudah introfeksi diri atau belum?" jelas ku dengan pilu rasanya beban di hati ku yang sudah ku simpan kini sudah tidak ada lagi.
Semuanya hening tidak ada yang bicara larut dengan pikiran masing-masing sampai aku lanjutkan ucapan ku.
"Apakah kalian tahu bagaimana rasa sakit yang ku alami? Tidak kalian tidak akan pernah tahu, karna kalian egois hanya memikirkan hati kalian saja" lanjut ku tegas.
"Maaf" ucap mereka.
"Jangan meminta maaf kepada ku karna aku tetap manusia biasa yang tidak bisa memaafkan semudah itu" kata ku lalu menghampiri desya yang sedang berbaring dengan air mata sudah meluncur bebas.
"Sayang kenapa menangis hem?" tanya ku lembut pada desya.
"Aku sayang kakak jangan sedih lagi" ucapnya sendu.
"Tidak kok kakak gak papa sayang, sekarang kamu tidur ya" perintah ku dan di turuti langsung oleh desya. Dia berbaring dan aku duduk di dekat ranjangnya agar bisa mengusap punggungnya.
Maaf dek kamu harus mendengar ini semua. Ucap ku dalam hati.
"Mama benar-benar kecewa sama kamu yas dan aziz sekarang kita pulang" tegas mamanya yasmin.
"Tapi ma" ucap yasmin ingin protes.
"Pulang atau kamu tidak akan pernah melihat mama lagi di dunia" ucapnya lalu pergi keluar setelah cipika-cipiki dengan mamanya mas ragil.
Mereka keluar semua dari ruangan desya dan tinggal kami berempat dengan desya sedang tertidur pulas.
"Nak sini mama mau bicara dengan kamu" panggil mama.
"Ada apa ma?" tanya ku setepah berada di dekatnya dan duduk di samping nya.
"Apakah benar yang kamu ucap kan semuanya nak" tanya mama
"Benar ma aku sudah tidak ingin mengenal cinta lagi sudah terlalu sakit ma" ucap ku lirih.
"Kamu jangan seperti itu nak semua cobaan pasti ada hikmanya" kata mama lembut.
__ADS_1
"Ma aku mau menikahi duwi tapi setelah dia kuliah agar bisa fokus dengan rumah tangga" ucap mas Ragil yang sedari tadi dia diam jadi pendengar yang baik.
"Mama terserah kalian saja mau bagaimana" kata mama yang tidak bisa memaksa kehendak biarkan mereka melakukan yang terbaik.
Setelah kami berunding akhirnya setelah aku selesai kuliah baru menikah dan selama itu kami akan saling mengenal jika cocok akan di lanjutkan dengan pernikahan tapi jika tidak mereka akan berpisah itu lah yang sudah di putuskan.
Setelah seminggu desya di rawat akhirnya boleh pulang kerumah dan hanya perlu pengecekan bekas oprasi saja. Selama seminggu pula aku bolak-balik dari rumah ke kampus dan rumah sakit selalu seperti itu dan setelah desya boleh pulang aku memutuskan akan pindah keluar kota untuk melanjutkan kuliah. Dan itu di dukung oleh ayah dan bunda tinggal pendapat desya yang belum aku bicarakan.
Tiba di rumah besar dan mewah di kediaman ragil kami duduk semua di ruang keluarga disana sudah duduk semua dan menunggu aku berbicara.
"Begini sebelumnya kakak mau minta maaf ke kamu dek karna kakak akan pergi keluar kota besok pagi jadi kamu harus bisa jaga kesetan dan istirahat yang cukup" ucap ku dengan memandang desya lekat.
"Berapa lama kak? Dan kota mana?" tanya desya.
"Mungkin 2 tahun lebih dek" jawab ku santai dan desya melotot mata karna kaget mendengarnya.
"Kakak tega ninggalin aku" ucapnya nangis.
"Disini ada bunda, ayah, mama, dan mas Ragil yang akan jagain kamu" jelas ku lembut.
"Kakak jahat gak sayang sama aku lagi hiks hiks hiks" ucapnya terisak isak. Sungguh aku tidak tega melihatnya seperti ini tapi ini sudah keputusan ku untuk pergi.
"Dek maaf tapi tolong mengerti kakak oke" ucap ku dengan memeluk desya erat.
"Kakak pergi kemana agar aku bisa mengunjungi kakak kesana" tanya desya.
"Baik aku pegang ucapan kakak jika selama 2 tahun kakak tidak pulang jangan salahkan aku jika mas Ragil akan mencari keberaan kakak dan menseret kakak pulang" ancam desya dengan membuat ku dan yang lain ingin tertawa.
"Baik kakak janji" ucap ku dan mengaitkan kelingking kami.
"Kenapa harus pergi nak?" tanya mama sedih.
"Ada yang harus aku urus ma" ucap ku lembut.
"Kenapa tidak bilang kesaya?" tanya mas Ragil marah.
"Maaf saya kira mas tidak peduli" ucap ku lirih.
"Sudah terserah kamu mau apa kamu memang egois" ucapnya pergi dari ruang keluarga. Ternyata dia sudah mulai ada percikan api di hatinya.
"Lebih baik kamu susul Ragil sana tidak baik jika seperti ini" ucap mama. Dan aku pergi mencari keberadaan mas Ragil yang ternyata di ruang kerjanya. Ku buatkan kopi dulu baru menghampirinya di ruang kerja.
Tok tok tok
"Masuk" ucapnya dari dalam dan aku membuka pintu terlihat dia sedang memandang kearah luar dari jendela.
"Mas ini kopinya" ucap ku lembut.
__ADS_1
"Hemm" jawabnya dingin dan membuat ruangan terasa seperti di dalam kulkas.
"Mas aku mau bicara" ucap ku pelan tepat di belakangnya.
"Kenapa kamu lakukan ini? Apa karna mereka kamu jadi ingin pergi?" tanya dia dan membalikan badan menghadap ku. Di tatap mata ku dengan matanya yang tajam.
"Bukan itu mas alasan aku pergi" jawab ku lembut.
"Terus apa wi" ucapnya frustasi.
"Aku ingin memantaskan diri agar bisa bersanding dengan mu" ucap ku sendu.
"Tapi tidak perlu pergi wi" ucapnya tegas.
"Aku tidak ingin kamu melihat aku dengan kasihan mas dan selalu membantu ku" ucap ku tegas karna sudah jengah dengan mas Ragil tidak memahami aku.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Maaf karna jarang UP semoga kalian suka dengan ceritanya
__ADS_1