
"Wah boleh tuh saran kamu" katanya tante sasmita kegirangan.
"Ma aku mau main sama kak duwi boleh" tanya santi meminta izin.
"Boleh nak" jawab tante sasmita. Lalu kami pergi keruang keluarga duduk sambil bercerita.
"Kak" panggilnya sambil menatap sendu.
"Kenapa dek?" tanya ku lembut.
"Bisakah kakak jadi istri kakak ku" memohon pada ku.
"Kenapa kamu bicara seperti itu dek?" tanya ku penasaran.
"Aku tidak ingin kakak ku tambah terpuruk dengan keadaannya sekarang" kata santi.
"Memang kakak kamu kenapa dek?" tanya ku lagi sambil mengelus tangan santi.
"Kakak itu sakit dan sudah tidak mau berobat kak aku sudah capek bujukin tapi tidak mau" menyampaikan keluh kesahnya di dalam dadanya.
Ku elus punggungnya agar lebih tenang setelah tenang aku melihat eki ke taman samping lalu ku hampiri dia dan duduk di sampingnya tanpa mengeluarkan satu kata pun. Hingga dia memecahkan keheningan di antara kami.
"Kamu kenapa disini santi mana?"tanya eki tapi memandang lurus kedepan.
"Dia ketiduran di ruang keluarga" jawab ku tanpa menoleh ke eki.
"Apa yang kalian bicarakan tadi sepertinya seru sekali?" ucapnya.
"Biasalah bergosip ala-ala wanita" jawab ku terkekeh kecil mengingat yang kami bicarakan tadi.
"Wi ada yang ingin aku katakan" ucapnya serius sambil menatap ku.
__ADS_1
"Katakan saja" jawab ku sambil menatapnya.
Deg jantung kami memacu dengan cepat.
"Permintaan santi jangan di hiraukan anggap angin lewat saja" ucapnya dingin.
"Kenapa kamu tidak mau berobat" tanya ku penasaran.
"Untuk apa berobat aku sudah tidak akan sembuh lagi" ucapnya lirih.
"Kamu tidak bisa beranggapan seperti ini itu akan menyakiti keluarga mu" kata ku sambil memberikan pengertian.
"Aku sudah tidak mau menanggung sakit lagi jadi lebih baik aku mati saja agar berhenti juga penderitaan keluarga ku" ucapnya dengan kata-kata yang tajam.
"Apa dengan meninggalkan mereka akan membuat mereka bahagia kamu salah kalau beranggapan seperti itu mereka akan tambah terpukul" jelas ku dengan nada tinggi.
"Ayo berobat lagi aku akan menenani kamu" ucap ku dengan tegas dan menatap tajam ke laki-laki di depan ku ini.
"Tapi.. " ucapnya terpotong karna ucapan ku.
"Baik aku berobat keamerika apa kamu akan nenemaniku?" tanya eki.
"Aku belum bisa memberikan jawaban sekarang nanti aku akan bicara kepada bunda dan ayah dulu" jelas ku karna tidak mungkin aku pergi tanpa izin dari mereka.
Kami masuk karna sudah malam dan terasa semakin dingin. Kami duduk di samping kedua orang tua kami tanpa santi yang masih terlelap di ruang keluarga.
"Ayah" panggil ku pelan.
"Kenapa nak" tanya ayah.
"Apakah boleh aku pergi menemani eki berobat keluar negeri" tanya ku dengan kepala tertunduk.
__ADS_1
"Tidak" ucap ayah tegas.
"Tapi kalau kamu menikah dengan eki ayah mengizinkan" lanjut ayah dengan senyuman.
"Ayah aku" tiba-tiba lidah ku kelu untuk berbicara dan bingung harus mengambil tindakan yang mana.
"Mas kapan kamu berobat?" tanya ku pada eki.
"Satu minggu lagi dek" jawab nya lirih.
"Baik beri aku waktu berpikir dulu" kata ku kepada mereka.
"Betapa lama nak?" tanya tante sasmita.
"3 hari tante disaat malam keempat Silahkan kalian datang kesini dan mendengarkan jawaban ku" kata ku tegas dan mereka menyetujuinya.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
.