Jodoh Misterius

Jodoh Misterius
Eps 28


__ADS_3

"Saya iklas membantu anda tanpa mengharapkan apa pun tuan yang terhormat" tegas ku dengan jengkel bahkan sangat jengkel dengan laki-laki yang sedang berstatus pasien ini.


"Ayolah kamu minta saja hanya perlu sebutkan saja" katanya santai seolah tanpa beban saat bicara dengan ku.


"Saya sudah bilang tidak meminta imbalan apa pun" jawab ku dengan nada tinggi.


"Kenapa kamu naif sekali" ejeknya.


"Baik kamu ingin saya meminta imbalan bukan ada satu imbalan yang saya minta" kata ku setelah menghela nafas berat.


"Cih kau bilang tidak sekarang sebutkan mau apa?" ucap laki-laki itu santai.


"Saya ingin kamu carikan pendonor ginjal untuk adek saya" ucap ku lirih terdapat kesedihan yang di sembunyikan.


"Mak-sud kamu" tanya dia terbata-bata.


"Iya adek saya sakit dan harus segera mendapatkan donor" jelas ku dengan mata sudah berkaca-kaca.


"Baik lah saya akan membantu kamu" ucapnya dengan rasa menyesal telah berpikiran buruk.


"Iya saya pamit dulu pulang" ucap ku karna sudah tidak bisa membendung air mata ku lagi.


"Hem" jawab laki-laki itu dan melihat punggung ku pergi dari ruangan rawatnya.


"Rio kamu cari tahu tentang adek yang dia maksud" ucap nya.


"Baik tuan" jawab rio dan mulai menjalankan perintah dari tuannya setelah mendapatkan dia langsung memberikan kepada tuannya.


"Ini tuan yang anda perintah kan" ucap rio sambil menyodorkan map yang berisi perintah tuannya itu.


Di baca teliti oleh laki-laki itu apa yang terdapat di dalam map itu betapa terkejutnya saat melihat wajah gadis manis itu mirip dengan wajah ibunya.


"Kau cari tahu lebih lanjut lagi tentang wanita manis ini saya mau secepatnya" perintahnya tanpa mau di bantah dan hanya di jawab anggukan saja oleh rio dan pergi dari ruangan itu.


*****


Sedangkan di taman rumah sakit ada seorang gadis menangis pilu menginat penyakit adeknya yang membuatnya ikut merasakan sakit juga entah dia harus mencari kemana donor dan dana untuk oprasi bahkan untuk berobatnya.


"Hiks.... Hikss..... Bagaimana ini aku bingung harus seperti apa" ucapnya pilu beban yang tidak pernah dia lihatkan kepada siapa pun itu. Entah kenapa rasa sayangnya kepada adeknya itu sangat dalam walau hanya sebatas adek angkat seolah ikatan batin itu terpaut sangat erat.


"Tuhan tolong hamba mu ini" katanya lirih.


Di hapus air mata dan menuju pulang karna harus memulai mencari dana untu berobat adek tersayangnya. Sampai di rumah aku di sambut dengan senyuman desya.


"Assalamualaikum adek" ucap ku.


"Walaikum salam kak" jawabnya sambil meraih tangan ku dan menciumnya.


"Gimana sekolah hari ini dek?" tanya ku setelah kami duduk di dalam rumah.

__ADS_1


"Seru kak dan mereka sangat baik dengan ku" jawabnya antusias dan terlihat kebahagian disana.


Tuhan tolong jangan hilangkan senyuman itu. Ucap ku dalam hati.


"Alhamdulillah kalo gitu kamu sedah makan dek?" tanya ku lagi.


"Sudah kak. Kak sudah makan belum?" tanya dia balik.


"Belum dek kakak bersih-bersih dulu baru makan" jawab ku sambil melangkah menuju kamar ku letakkan tas di atas meja belajar dan menuju kamar mandi membersihkan diri lalu menyantap makanan yang sangat enak.


Ku cari desya ternyata dia di teras depan sedang duduk di ayunan sambil mengerjakan tugas sekolah. Ku hampiri dan ku temani sesekali membantu mengerjakan tugasnya kami sambil tertawa bersama.


"Hore selesai kak" ucap nya kegirangan saat sudah selesai mengerjakan semua tugas.


"Iya dek yuk kita jajan es cream karna kamu sudah bisa mengerjakan tugas sekalian kita main ketoko ayah" ajak ku kepada desya agar dia tetap semangat menjalani hidup.


"Ayo kak aku mau" ucapnya sambil membereskan buku-buku itu lalu berlari ke dalam meletakkan tasnya di ruang keluarga dan menuju aku yang menunggu dideoan pintu. Setelah di kunci kami berjalan menuju toko dan tidak lupa mampir di warung penjual es agar tidak terlalu terasa haus saat menuju toko.


"Assalamualaikum bunda ayah" ucap kami saat sudah tiba di toko.


"Walaikum salam nak" jawab ayah.


"Kok kalian kesini nak naik apa tadi?" tanya bunda baru datang entah dari mana.


"Jalan kaki bun" jawab ku santai.


"Kamu gimana sih wi pasti capek adek kamu ajak jalan kaki" marah bunda.


"Dasar kalian ini" kata bunda menggelengkan kepala. Desya duduk dengan ayah aku membantu di saat ada pembeli yang datang hingga sore hari.


"Bun yah kami pulang duluan" pamit ku pada mereka.


"Iya nak hati-hati jangan keluyuran paham" perintah ayah.


"Siap komandan" jawab kami terkekeh lalu pergi meninggalkan toko menuju rumah tiba di depan rumah ada mobil yang teparkir di sana yang membuat ku bertanya siapa kah pemilik mobil itu.


"Dek kamu masuk ya kakak mau samperin mobil itu dulu" ucap ku sambil mengusap kepala desya dengan lembut.


"Iya kak aku masuk" jawabnya dan pergi masuk rumah setelah memastikan desya benar-benar masuk baru aku pergi menghampiri mobil itu.


Tok... Tok... Tok...


Saat kaca mobil itu turun terlihat laki-laki bermuka tembok dan sikap dinginnya.


"Ada apa tuan kesini?" tanya ku pada laki-laki kemaren yang menghina harga diri ku.


"Boleh kita bicara sebentar" ucapnya dingin.


"Baik kita bicara di teras rumah saya saja" kata ku setelah berpikir sebentar.

__ADS_1


"Hem" jawabnya singkat yang membuat ku kesal rasanya aku ingin memukul kepala laki-laki itu.


"Anda ingin bicara apa tuan?" tanya ku saat kami sudah di teras rumah dan duduk di kursi dengan minuman di atas meja.


"Apa yang anda bilang kemaren adek kandung?" tanya dia dengan wajah datar.


"Bukan dia adek panti yang saya adopsi" jawab ku jujur.


"Bolehkah saya memastikan sesuatu" ucapnya pada ku yang membuat ku bingung.


"Memastikan apa" tanya ku dengan kening berkerut.


"Boleh aku melihat adek yang kamu maksud itu" tanya dia serius.


"Boleh" jawab ku singkat dan memanggil desya agar keteras menemui laki-laki itu.


Saat desya berhadapan dengan laki-laki itu dan tiba-tiba saja dia langsung memeluk desya dan itu sukses membuat desya ketakutan.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2