
"Hiks... Hiks.... Hikss..." tangis ku sudah tidak tertahan lagi.
"Hiks maaf kak aku janji tidak membuat kawatir lagi" ucap desya sambil memeluk ku. Masih ku tumbahkan semua kekesalan dan kemarahan ku tadi dengan tangis ku hingga setelah jam baru aku sudah menangis dan melihat desya sudah terlelap karna terlalu lama menangis.
Ku pandang wajah teduh itu ku benarkan posisi tidurnya agar tidur dengan nyaman. Setelah itu ku duduk di sopa sambil menunggu azan magrib. Hingga magrib aku mengambil air wudhu. Selesai solat dokter masuk dan meriksa keadaan desya dan demamnya sudah turun.
"Besok sudah bisa pulang pasien" jelas dokter.
"Alhamdulillah kalau begitu dok" ucap ku penuh sukur dan kelegaan.
" ini obat jangan lupa di minum jika sudah makan nanti nona" ucap suster itu.
"Terimakasih dok sus" ucap ku tulus.
"Sama-sama kami permisi dulu" pamit mereka dan keluar dari ruangan desya.
Ku hampiri ranjang dan ku lihat desya tidur dengan terlelap. Entah kenapa rasanya sakit sekali melihatnya terbaring lemah seperti ini tapi aku tidak tau kenapa.
"Sayang bangun yok" ucap ku membangunkan sambil mengelus pipi cabinya.
"Iya kak" katanya serak.
"Ayo kita bersih-bersih dulu" ajak ku sambil menggendong dan membawa kekamar mandi. Setelah selesai ku bawa kembali keranjang dan ku sisir rambutnya yang bergelombang itu.
"Makan dulu ya dek" ucap ku sambil mengambil piring makanan yang di antar suster tadi.
"Iya kak tapi suapi" jawabnya manja dan membuat aku gemas jadi ku cubit kemas pipinya.
Ku suapi sesendok demi sesendok hingga habis. Ku rapikan tempat makan dan mengajak desya ngobrol dan sesekali bermain. Hingga mengantuk dan kami tidur di ranjang saling memeluk.
__ADS_1
*********
Pagi menjelang setelah dokter mengizinkan pulang kami pulang mengunakan taxi hingga sampai di panti kami di sambut oleh ibu panti dan juga anak-anak yang lain.
"Assalamualaikum" ucap aku dan desya.
"Walaikum salam" jawab mereka serempak.
"Bagaimana keadaan kamu nak" tanya ibu pantu sambil mengelus pipi desya.
"Alhamdulillah sudah sehat ibu" jawabnya antusias dengan senyuman.
"Sukur lah ibu sangan takut kamu kenapa-kenapa" ucap ibu sedih.
"Aku sudah tidak apa-apa ibu kan ada kak duwi yang jaga desya" kata desya menenangkan ibu panti dengan menampilkan giginya.
"Sudah bu biarkan dia istirahat dulu" ucap ku kepada ibu panti. Dan setelah memastikan anak-anak yang lain istirahat baru aku memasuki ruangan ibu panti.
"Masuk lah nak" jawab ibu dari dalam. Ku masuki ruangan dimana ibu panti sedang merenung.
"Ibu" ucap ku lirih menahan sesak di dada.
"Kenapa nak?" tanya ibu lembut.
"Desya kata dokter harus rutin mengecek ginjal takut tambah parah bu" ucap ku dalam tangis.
"Astagfirullah kenapa kamu tidak bilang dari awal nak? Dan kenapa kamu bawa pulang?" tanya ibu panti panik.
"Kata dokter tidak apa-apa bu hanya kita harus menjaga pola makan desya agar tidak makan sembarangan dan membuat sakit lagi" ucap ku menenangkan.
__ADS_1
"Tapi bagaimana dengan ginjalnya nak?" tanya ibu dengan derai mata.
"Kita harus mencari donornya bu" ucap ku lirih.
"Malang sekali nasipnya" kata ibu panti sambil nangis tersedu-sedu.
"untuk sejauh ini kita harus menjaga pola makannya bu agar tidak tambah parah" kata ku menerangkan.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.