Jodoh Untuk Gibran

Jodoh Untuk Gibran
#Bab 10


__ADS_3

Tiga bulan sudah Gibran bekerja di perusahaan PV Jaya.


"Pak Gibran," Nada melambaikan tangannya pada Gibran yang berjalan sembari mengedarkan pandangan.


Ya, Nada mengajak Gibran untuk makan siang bersama di restoran yang tak jauh dari kantor.


Gibran berjalan ke arah meja Nada.


"Halo, Bu." sapa Gibran sopan dan duduk di kursi yang berseberangan dengan Nada.


"Kenapa lama sekali?" tanya Nada sembari menatap wajah Gibran.


"Tadi istri saya menelepon, Bu. Maaf jika membuat ibu menunggu lama," ujar Gibran tidak enak hati.


"Sudahlah, tidak masalah. Kita pesan makan saja, saya sudah lapar." balas Nada dengan senyum manis nya.


Makanan pesanan mereka pun sudah datang. Gibran dan Nada mulai menyantap makanan mereka.


"Oh, ya Pak Gibran. Boleh saya bertanya sesuatu?" Nada bertanya sembari menyeruput Jus buah Naga nya.


"Ada apa ya, Bu?" sahut Gibran sambil mengunyah makanannya.


"Pak Gibran sudah lama menikah?"


Gibran menghentikan kunyahan nya dan menatap Nada.


"Akh, maaf jika saya bertanya hal pribadi seperti ini." Nada menjadi salah tingkah.


Gibran tersenyum dan menyeruput Jus nya. "Tidak pa-pa, Bu. Saya menikah baru empat bulan."


Nada mengangguk. "Apa sebelumnya Bapak memang bekerja sebagai Manager di sebuah perusahaan stasiun televisi?"


Gibran mengangguk. "Istri saya juga dulu adalah model terkenal di perusahaan stasiun televisi itu."


"Pasti istri Pak Gibran cantik."


"Alhamdulillah.." jawab Gibran

__ADS_1


"Bu Nada sendiri, kenapa belum menikah?"


"Saya belum siap aja, Pak. Belum ada yang cocok," Nada tersipu malu, yang mana semakin membuatnya menjadi sangat menggemaskan.


Mereka pun kembali mengobrol.






Di tempat lain, seorang wanita membolakan matanya setelah melihat sebuah pesan yang masuk ke dalam ponselnya.


"Kurang ajar! Lihat saja kamu, Mas." geram wanita itu yang tak lain adalah Fanny, dengan menggenggam erat ponselnya.


****


Mobil Gibran sudah sampai di halaman rumah. Gibran bergegas masuk ke dalam rumah karena sudah sangat rindu dengan istrinya.


"Sayang!!!" Gibran berteriak sembari menaiki anak tangga.


Ceklek!


Pintu kamar terbuka, dan terlihat Fanny yang sedang berdiri menghadap ke arah balkon kamar.


"Sayang," seru Gibran lembut sembari memeluk tubuh Fanny dari belakang.


Fanny hanya diam saja, tidak ada respon sama sekali.


Gibran pun yang merasa ada perubahan pada Fanny langsung melepaskan pelukannya.


"Sayang, kamu kenapa?" Gibran membalikkan badan Fanny.


Terlihat wajah sendu Fanny.

__ADS_1


"Kamu sudah pulang?" akhirnya Fanny bersuara.


"Ya, seperti biasa. Aku pulang jam segini, meskipun terkadang lembur ."


"Benarkah selama ini kamu lembur, Mas?" Fanny menatap Gibran dengan tatapan sedih.


"Kamu kenapa sih sayang? Kok sedih gini?" Gibran mengerutkan dahi sembari memegang kedua pundak Fanny.


Fanny memberikan Gibran ponsel. "Lihat ini. Apa kamu bisa menjelaskannya?" Fanny meletakkan ponsel di telapak tangan Gibran.


Dengan cepat Gibran melihat apa yang membuat istrinya berubah. Betapa terkejutnya Gibran saat tahu bahwa di dalam ponsel itu ada fotonya dan sang Bos yang sedang makan bersama.


"Sayang, ini—" ucapan Gibran terpotong.


Fanny mengangkat sebelah tangannya. "Sudahlah! Semuanya sudah jelas, Mas. Kamu lembur selama ini pasti karena perempuan itu, kan. IYA KAN!" teriak Fanny emosi.


"Sayang, kamu ini bicara apa. Dia itu Bos aku, dan aku sama sekali gak ada hubungan apapun dengannya. Percayalah, aku mohon.." Gibran menangkup kedua tangan di dada.


"Hiks.. Kamu—"


"FANNY!!!!" teriak Gibran histeris.






**TBC.


HAPPY READING 🌹


see you next part..


jangan lupa berikan dukungan dan tinggalkan jejaknya, terimakasih 😘**

__ADS_1


__ADS_2