
Gibran berdehem, dan itu mampu membuat Nisa serta Rena menoleh.
"Papa...." seru Rena riang dan berlari ke arah Gibran.
Gibran berjongkok dan erentangkan tangan agar sang putri dapat masuk ke dalam pelukannya.
"Papa udah pulang?"
Gibran mengangguk lalu mencium pipi Rena. Mata Gibran beralih menatap Nisa. Sementara Nisa yang tadi menatap Gibran diam-diam langsung tertunduk malu.
"Kalian sedang masak apa?" Gibran berdiri dari jongkoknya.
"Pah, Bu guru masak omelet dan tumis kangkung untuk makan malam. Wangi masakan Bu guru wangi banget, Pah. Rena jadi lapar" Rena mengoceh dengan cerewet nya.
Nisa tersipu malu.
"Terima kasih karena kamu sudah repot-repot memasak makan malam untuk saya dan Rena, Nisa," Gibran berjalan menghampiri Nisa.
"Gak repot kok, Mas. Aku cuma gak tega aja lihat kamu, sepulang jualan harus memasak makan malam." Nisa menatap meja makan sejenak. "Tapi aku hanya masak ini saja, Mas. Karena aku tadi lihat di dalam kulkas yang ada cuma kangkung dan telur"
Gibran tersenyum tipis. "Gak pa-pa. Aku memang belum belanja, karena kebutuhan untuk jualan juga masih ada"
"Ya sudah, kamu mandi aja dulu. Aku akan menyiapkan nasi dulu" Nisa sudah seperti seorang istri yang melayani suaminya.
Tanpa membantah, Gibran langsung berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Beberapa menit kemudian.
Gibran telah selesai mandi dan sekarang dia tampak lebih segar. Gibran mendudukkan diri di kursi meja makan.
"Em, Mas Gibran! Saya aku permisi pulang ya? Ini udah hampir maghrib."
"Pulang? Nanti saja setelah selesai makan malam kamu baru pulang."
"Iya Bu guru. Bu guru makan malam nya di sini aja bareng Rena sama Papa," Rena menimpali.
Nisa jadi bingung dan kikuk.
Suara adzan menggema di penjuru kampung.
__ADS_1
"Nah, tuh udah maghrib. Lebih baik kita sholat berjamaah dulu, setelah itu baru makan" Gibran beranjak untuk mengambil wudhu.
"Tapi, Mas—" ucapan Nisa belum selesai dan Gibran telah masuk ke dalam kamar mandi.
'Astaga.. Apa yang harus aku lakukan? Kenapa jadi deg deg'an gini??' Nisa memelintir ujung jilbab segi empat nya.
"Bu guru! Bu guru gak ambil wudhu? Kita sholat berjamaah bareng Papa," Rena memegang tangan Nisa.
Nisa terkejut dan langsung tersadar dari kegugupannya. "Em, Rena duluan aja. Nanti Ibu menyusul"
Rena langsung pergi meninggalkan Nisa.
•
•
•
Sholat berjamaah telah selesai, sekarang waktunya mengisi perut.
"Rena, Rena mau makan pakai tumis kangkung atau omelet aja? Biar Ibu ambilkan," tawar Nisa tulus.
Gibran hanya menggeleng melihat sang putri yang begitu manja.
Nisa memberikan piring berisi omelet dan sedikit tumis kangkung pada Rena.
"Mas Gibran, kamu mau aku ambilkan juga?" Nisa menatap Gibran.
"Tidak, tidak perlu. Aku bisa mengambilnya sendiri," sahut Gibran segan.
Setelah itu mereka makan malam bersama.
"Pah, Rena senang deh kalau bisa kayak gini tiap hari. Dulu Mama gak pernah makan bareng kita gini,"
Gibran dan Nisa hanya tersenyum mendengarkan kecerewetan Rena.
"Bu guru jadi Mama Rena aja ya? Bolehkan, Pah?" Rena berkata dengan nada polos dan melirik Gibran.
"Uhuk.. Uhuk.." Nisa terbatuk.
__ADS_1
"Nisa, minum dulu." Gibran memberikan segelas air mineral pada Nisa.
"Terima kasih" Nisa langsung menengguk habis air mineral itu. Hidungnya saat ini terasa panas karena tersedak nasi.
"Bu guru, Bu guru gak pa-pa??" Rena menatap wajah Nisa yang terlihat memerah. Entah merah karena malu atau sakit.
Nisa menggeleng.
Mereka pun melanjutkan makan malam dengan keadaan hening dan sesekali Rena yang mengoceh tidak karuan.
Setengah jam kemudian.
"Mas, aku pamit pulang ya?" Nisa sudah berada di ruang tamu bersama dengan Gibran dan Rena.
"Besok kesini lagi ya, Bu guru? Rena mau makan bareng Bu guru lagi"
Nisa hanya tersenyum sembari mengelus kepala Rena. "Insyaallah ya sayang"
Rena pun membalas senyuman Nisa.
"Kamu hati-hati ya, Nis. Terima kasih karena sudah mau membantu saya menjaga Rena dan memasak makan malam."
Nisa mengangguk.
Tangan Nisa memegang handel pintu, dan...
Klek!
•
•
•
**TBC
HAPPY READING..
SAMPAI JUMPA DI PART SELANJUTNYA..
__ADS_1
JANGAN LUPA BERIKAN DUKUNGAN DAN TINGGALKAN JEJAK, TERIMAKASIH 😘**