
Gibran dan Nisa menoleh keluar warung. Berapa terkejutnya Gibran kala melihat sang mantan istri berdiri di depan warungnya.
"Fanny," Gibran berdiri dari duduknya. Hal penting yang ingin dia katakan pada Nisa jadi terlupakan.
Fanny menatap Gibran dengan mata berembun.
"Mas Gibran...." lirih Fanny saat Gibran sudah ada di depannya.
Fanny mendekat ke hadapan Gibran, hingga jaraknya dan Gibran hanya beberapa senti. Fanny mengangkat kedua tangan lalu menagkub wajah mantan suaminya itu. Air mata bercucuran di pipi Fanny, dia merasa menyesal dan rindu pada Gibran.
"Hiks....." Fanny menghambur kedalam pelukan Gibran.
Gibran terdiam, entah mengapa saat ini mulutnya begitu sulit dibuka hanya untuk menyapa Fanny saja.
"Mas.. Aku sangat merindukanmu.." Fanny terisak.
Pelukan terlepas, Fanny merasa Gibran tidak membalas pelukannya.
"Apa kabar mu Fanny?" tanya Gibran cuek.
"A-aku baik, Mas. Bagaimana denganmu? Dan.. Dan mana Rena??"
"Dia sedang mengerjakan pr di dalam''
Fanny menatap wajah Gibran dengan senyum bahagia, akhirnya setelah beberapa bulan dia dapat melihat sang mantan suami.
Gibran memperhatikan Fanny dari atas sampai bawah. "Aku lihat sepertinya ada yang sedikit berubah darimu, Fan."
__ADS_1
Fanny terdiam dan melihat tubuhnya sendiri. Dia menghapus air mata dan mencoba untuk tersenyum.
"Berubah? Berubah bagaimana maksud kamu, Mas?".
"Aku lihat kamu seperti sedikit kurus, kantung matamu pun begitu terlihat, lalu kulitmu juga tidak seperti biasanya," Gibran menjelaskan.
Fanny terdiam dan menangis lagi.
Gibran merasa bahwa Fanny seperti mengalami tekanan ataupun ada sesuatu yang di sembunyikan.
"Ayo masuk," Gibran mengajak Fanny masuk ke dalam warung.
Nisa tersenyum ramah kala melihat Fanny yang menatapnya.
Mereka bertiga duduk di kursi yang bersebrangan.
"Apa kamu ada masalah? Bicaralah Fan," Gibran mencoba melawan kebenciannya pada Fanny.
"Tipu? Siapa yang menipumu?" Gibran menatap Fanny.
"Dion."
Gibran terdiam, dia berpikir bahwa perpisahannya dan Fanny pasti karena hasutan Dion.
"Dion berjanji akan menikahi ku setelah aku bercerai darimu. Jujur aku malu untuk menceritakan semuanya, Mas.. Tapi sepertinya aku harus mengeluarkan segala unek-unek di dalam hati dan pikiranku," Fanny menunduk.
"Jadi kamu meminta pisah karena desakan dari Dion?" Gibran penasaran.
__ADS_1
Fanny mengangguk. "Dion yang sudah memasukkan ku ke dalam dunia model lagi, hingga aku mendapatkan gaji yang begitu banyak. Dia berkata bahwa setengah gaji ku harus di sisihkan untuk membuka usaha jika kami sudah menikah nanti. Aku juga dulu udah bosan hidup miskin, aku ingin punya kehidupan yang menjamin untuk masa depan..." Fanny menjeda ucapannya. "Aku pun setuju dengan ide Dion dan aku mengajukan perceraian padamu, karena sangat mempercayai Dion aku tidak menaruh curiga sedikitpun pada dia. Aku selalu memberikan setengah gaji ku padanya, hingga pada tanggal kami akan melangsungkan pernikahan, aku mendapat kabar bahwa Dion sudah menikah dengan wanita lain, yaitu Mega. Kamu kenal dengan Mega 'kan, Mas? Kamu juga Nisa, kamu pasti kenal Mega 'kan?"
Nisa mengangguk.
"Aku datang ke pernikahan Dion dan meminta uang ku kembali, tapi dia malah berkata tidak mengenalku, bahkan Mega menuduh ku sebagai pelakor. Uangku habis di makan Dion, dan aku sekarang sudah jatuh miskin, Mas..." Fanny terisak. "Ada lagi yang harus kamu ketahui," Fanny mendongak dan menarik rambut palsu nya.
Begitu terkejutnya Gibran dan Nisa kala melihat kepala Fanny yang rambutnya hanya tinggal sedikit.
•
•
•
•
**TBC.
HAPPY READING..
SAMPAI JUMPA NANTI..
JANGAN LUPA UNTUK MENINGGALKAN JEJAK SERTA HADIAHNYA 😘
terimakasih 🙏🏻❤
🍏🍏🍏🍏🍏
__ADS_1
Jangan lupa mampir juga ke karya temen Mom**.