Jodoh Untuk Gibran

Jodoh Untuk Gibran
#Bab 6


__ADS_3

Di studio.


Seorang pria tengah membisikkan sesuatu kepada seorang wanita.


Terlihat wanita itu mengangguk paham dan tersenyum. Mereka berdua pun melakukan tos.


"Saya harap semuanya berjalan dengan lancar." ucap pria itu


"Kamu tenang saja, aku sudah ahli dalam hal seperti itu." wanita itu tersenyum licik


Terlihat Gibran tengah duduk di ruangannya sembari memeriksa beberapa dokumen kerja sama.


Tok!tok!tok!


Pintu ruangan Gibran di ketuk.


"Masuk!!!" teriak Gibran tanpa mengalihkan pandangan dari kertas di mejanya.


"Permisi, Pak." seorang wanita cantik nan seksi, dengan tubuh yang bo*hai berjalan berlenggak-lenggok ke meja Gibran.


"Katakan ada apa?" tanya Gibran tanpa menghentikan tugasnya.


"Saya ingin menyerahkan dokumen kerja sama dari perusahaan televisi sebelah." wanita itu meletakkan map berwarna merah di meja Gibran.


"Ada lagi?"


"Tidak pak. Saya permisi," wanita itu langsung pergi dari meja Gibran, tetapi saat dirinya baru melangkah beberapa jengkal, tubuhnya sudah terjatuh.


"Argh!" teriak wanita itu.


Gibran sontak menoleh ke arah sang wanita. "Mega," Gibran segera bangkit dari duduknya dan berjalan menghampiri Mega.


"Aww," rintih mega sembari memegangi pergelangan kaki nya.


"Kamu kenapa?" Gibran berjongkok di sebelah Mega.


"Aduh, Pak. Kaki saya keseleo, sakit banget.." Mega mengurut-urut pergelangan kakinya.


"Saya akan memanggilkan seseorang untuk membantu kamu," Gibran ingin bangkit dari jongkoknya, tetapi Mega dengan cepat menarik tangan Gibran.


"Tidak perlu, Pak. Saya minta tolong agar Bapak menggendong saya dan duduk kan saya di sofa itu saja." Mega menunjuk sofa

__ADS_1


Gibran terkejut. "Kenapa harus saya?"


"Karena hanya Bapak yang ada di dalam ruangan ini. Tolong saya, Pak. Setelah saya mengurutnya sebentar pasti kaki saya akan segera sembuh."


Gibran terdiam, dia langsung memapah tubuh Mega dan membantu Mega duduk di sofa.


"Saya kembali ke kursi dulu." Gibran membalikkan badannya.


Mega dengan cepat menarik pergelangan tangan Gibran. Gibran yang kala kaget, tubuhnya langsung jatuh menimpa Mega.


Mega menatap mata Gibran dengan seksama, tetapi Gibran melotot marah ke arah Mega.


"Anda sangat tampan, Pak.." Mega ingin mengusap rahang kokoh milik Gibran, tetapi Gibran dengan cepat mencekal tangan Mega dengan kuat.


Mega meringis menahan sakit di tangannya, karena cekalan Gibran begitu kuat.


"Lepaskan tangan saya, Pak." ucap Mega terbata.


"Kenapa? Kamu mau menggoda saya? Hm!" Gibran menatap tajam mata Mega.


"Tidak, Pak. Tolong lepaskan tangan saya.." Mega mencoba melepaskan cekalan tangan Gibran.


Mega tersenyum licik. Dia merobek pakaiannya sendiri, lalu menampar pipinya dengan keras, dan mengacak-acak rambutnya.


Gibran yang mendengar suara robekan baju pun langsung menoleh. Matanya melotot tidak percaya setelah melihat keadaan Mega.


"Mega! APA YANG KAMU LAKUKAN?" teriak Gibran emosi


"TOLONG!!! TOLONG!!! PAK GIBRAN INGIN MEMPERKOSA KU!!!" teriak Mega histeris dengan air mata yang bercucuran.


Gibran menggeleng dan langsung panik. "HEI! APA YANG KAMU LAKUKAN? DASAR GILA!"


Mega berlari ke arah pintu. Namun sebelum pintu di buka oleh Mega ternyata seseorang dari luar sudah terlebih dahulu membuka pintu ruangan Gibran.


Terlihat Doni, Direktur utama, para produser, dan kru-kru lainnya masuk ke dalam ruangan Gibran.


"Tidak, ini tidak seperti yang kalian lihat dan pikirkan. Dia, dia merobek pakaiannya sendiri.." Gibran gugup dan bingung.


"Halah! MALING MANA ADA YANG MAU NGAKU!" teriak Doni menjadi kompor


Isak tangis keluar dari mulut Mega, Mega berlari dan langsung mendekap tubuh Doni.

__ADS_1


"Dia ingin melecehkan ku, aku tidak terima. Pecat dia, Pak!" Mega menunjuk Gibran


Gibran menggeleng, dia tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan. "Pak Bowo, Pak. Dia berbohong," Gibran berjalan menghampiri Pak Bowo.


"PECAT AJA DIA, PAK. HUUUU!!!!" ejek para kru kepada Gibran.


"Gibran, ikut ke ruangan saya sekarang!" perintah Bowo sembari membalikkan tubuh dan pergi ke ruangannya.


Gibran langsung mengikuti Bowo dari belakang.


"HUUUU!!!!!" teriak para kru.


Setelah para kru bubar, tinggallah Doni dan Mega.


Mega segera menghapus air mata buaya nya. "Bagaimana dengan akting saya, Don?"


"Perfect!" sahut Doni dengan acungan jempol.


Mereka berdua tertawa jahat secara bersamaan.


"Don, kamu harus mengganti pakaian yang robek ini. Dan jangan lupa bayaran ku," ucap Mega sembari mencubit pinggang Doni.


"Tenang saja, aku sudah mengatur semuanya." Doni mengedipkan sebelah mata.


Lalu Doni dan Mega pergi dari ruangan Gibran.





**TBC.


HAI-HAI APA KABAR SEMUANYA..


HAPPY READING..


SEE YOU NEXT PART, BYE..


JANGAN LUPA UNTUK MENINGGALKAN JEJAK DAN DUKUNGANNYA.. TERIMAKASIH 😘**

__ADS_1


__ADS_2