Jodoh Untuk Gibran

Jodoh Untuk Gibran
#Bab 37


__ADS_3

Gibran dan Nisa semakin akrab setiap harinya, hingga hal itu membuat Fanny cemburu bahkan kesal jika bermain ke warung Gibran guna melihat Rena.


Seperti sekarang, Fanny tengah mencuci piring di dapur, dia ingin terlihat rajin agar Gibran tidak jadi menikahi Nisa dan kembali padanya.


Dari kejauhan Fanny melihat Gibran dan Nisa yang tengah mengobrol sembari becanda riang.


"Lihat saja, aku pastikan kamu gak akan jadi menikah dengan Mas Gibran, Nisa! Jika aku tidak bisa memiliki Mas Gibran, maka orang lain juga tidak akan bisa." gumam Fanny sambil memegang erat piring yang dia bilas. Fanny tersenyum sinis kala memikirkan ide liciknya.


Prang!


"Akh!!!'' teriak Fanny berpura-pura karena dia membanting piring kaca di lantai, lalu pecahan piring itu mengenai jari tangannya.


Gibran dan Nisa menoleh ke arah dapur, lalu dengan cepat Gibran berlari menghampiri Fanny.


"Fanny!" seru Gibran kala sudah berada di dapur dan melihat banyak pecahan kaca di sana.


"Aww.. Mas, tangan ku sakit" rengek Fanny manja sambil memegangi jarinya yang terluka.


Gibran menuntun Fanny dan mendudukkan di kursi yang ada di dapur. Dia mengambil ember kecil lalu mengisinya dengan air dan mencelupkan jari Fanny kedalam air tersebut agar darah berhenti mengalir.


"Kenapa bisa sampai seperti ini?" Gibran menatap Fanny yang meringis kesakitan.

__ADS_1


"Akh, tadi piring nya licin Mas. Maka itu jatuh"


"Nisa! Tolong ambilkan Betadine di laci itu," Gibran menunjuk laci yang biasa dia gunakan untuk menyimpan uang setelah selesai jualan.


Nisa langsung melakukan apa yang Gibran perintah.


"Ini, Mas" Nisa memberikan betadine itu pada Gibran.


"Tahan ya? Mungkin ini akan sedikit perih," Gibran meniup jari Fanny dan mulai meneteskan Betadine itu di jari Fanny yang terluka.


"Akh... Mas, perih" Fanny memegang erat pergelangan tangan Gibran.


Nisa yang melihat sang calon suami hanya diam saja, mau mencegah pun bagaimana. Nisa belum resmi menjadi istri Gibran sepenuhnya. 'Jujur aku sangat cemburu jika melihat Mas Gibran memperlakukan Mbak Fanny seperti itu, bagaimanapun Mbak Fanny pernah menjadi wanita yang di cintai oleh Mas Gibran. Aku takut jika cinta itu akan tumbuh lagi di hati Mas Gibran,' batin Nisa sembari menunduk.


"Sudah." Gibran telah menempelkan hansaplast di jari Fanny. Dia berdiri dari duduknya. "Lain kali hati-hati ya, Fan?"


Fanny mengangguk. "Maafkan aku, Mas. Karena kecerobohan ku, piring kamu jadi pecah" ucap Fanny lirih.


"Tidak apa, piring bisaa beli yang baru. Jangan merasa bersalah seperti itu" sahut Gibran, lalu dia menoleh ke arah Nisa.


Gibran pun berjalan menghampiri Nisa yang berdiri di ambang pintu.

__ADS_1


"Ayo," Gibran menggenggam jemari Nisa dan mereka pergi meninggalkan Fanny yang ada di dapur.


Setelah Nisa dan Gibran pergi, Fanny tersenyum puas. "Haha... Kamu harus banyak-banyak bersabar, Nisa! Aku akan terus menarik perhatian Mas Gibran dan akan membuat Mas Gibran benci padamu. Tapi sebelum itu, aku harus membalaskan dendam terlebih dahulu pada Dion dan Mega. Kedua orang yang sudah membuat hidupku melarat!" gumam Fanny pelan sambil mengepalkan erat tangannya. Dia sama sekali tidak ingat dengan penyakit yang di deritanya, bahkan dia lupa jika ajal bisa datang kapanpun itu tanpa melihat situasi.






**TBC.


HAPPY READING..


SAMPAI JUMPA DI PART SELANJUTNYA.. JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK SERTA DUKUNGANNYA, TERIMAKASIH 😘😘.


🍎🍎🍎🍎🍎


Mampir ke karya temen Othor yuk 🤗**

__ADS_1



__ADS_2