Jodoh Untuk Gibran

Jodoh Untuk Gibran
#Bab 19


__ADS_3

Keesokan paginya.


"Mas! Aku berangkat kerja ya?" Fanny telah siap untuk pergi bekerja.


Dengan memakai gaun sebatas lutut berwarna hijau muda, dan rambut di gerai serta polesan make-up yang tidak terlalu tebal sangat membuat Fanny tampak memukau dan cantik. Apalagi kulit Fanny sangat putih, jadi gaun yang dia pakai sangat kontras dengan kulit putih nan mulusnya.


"Kamu pergi kerja naik apa?"


"Taksi." sahut Fanny singkat. "Ya udah, aku berangkat ya Mas? Takut kesiangan."


Fanny beralih menatap Rena. "Rena sayang, Mama pergi dulu ya?" Fanny mencium kedua pipi Rena. "Kamu yang pinter sekolahnya,".


Rena mengangguk.


Fanny mencium takzim punggung tangan Gibran, lalu setelah mengucapkan salam dia langsung keluar dari rumah.


Fanny menunggu jemputan di ujung gang rumahnya.


Sebuah mobil Pajero berwarna putih berhenti tepat di depan Fanny. Fanny segera masuk ke dalam mobil tersebut.


"Kamu udah sarapan?" pengendara mobil Pajero itu bertanya pada Fanny setelah mobil melaju.


"Belum," sahut Fanny sembari menatap sang sopir.


"Gimana kalau kita sarapan dulu? Di depan ada tukang jualan bubur ayam, rasanya enak banget. Itu tempat langganan ku, kalau kamu mau kita bisa berhenti sebentar."


Fanny mengangguk. "Boleh, aku pengen mencoba seberapa tingginya level kesukaan mu."


Sang pengendara dan Fanny saling tatap sembari melempar senyum.



__ADS_1




Sementara di rumah.


"Sayang, ayo kita berangkat." ujar Gibran sembari mulai mendorong gerobak jualannya.


Rena pun mengikuti Gibran dari belakang.


"Mas!!" teriak seorang wanita dari kejauhan.


Gibran berhenti dan menoleh. "Nisa?" gumam nya pelan.


Nisa berjalan ke arah Gibran dan juga Rena.


Ya, beberapa bulan lalu Nisa juga pindah ke desa yang sama dengan Gibran karena dia mendapatkan pekerjaan sebagai guru di desa itu.


"Assalamualaikum.." sapa Nisa saat sudah berada di dekat Gibran dan Rena.


"Rena mau ke sekolah 'kan? Bareng Ibu Nisa aja yuk?" tawar Nisa pada Rena.


Rena mendongak dan menatap Gibran guna meminta izin.


"Memang gak pa-pa, Nis? Kalau Rena pergi bareng kamu?".


"Ya gak pa-pa dong, Mas. Yang penting Rena nya mau,".


"Rena mau kok Ibu guru. Tapi harus izin Papa dulu," Rena menatap Gibran dan Nisa bergantian.


"Ya sudah. Jika memang tidak merepotkan, Rena boleh kok pergi ke sekolah bareng Ibu guru." Gibran memberi izin.


"Yeay asyikkk.." sorak Rena gembira.

__ADS_1


"Ayo sayang.." Nisa menggandeng tangan Rena.


"Kamu belajar yang pinter ya nak?" Gibran mengusap kepala Rena.


"Iya, Pa.." sahut Rena dengan tersenyum.


"Terimakasih ya, Nis karena sudah mau mengajak Rena pergi bersama. Saya jadi bisa langsung ke pangkalan kalau gini."


"Sama-sama, Mas. Tiap hari bareng sama Rena juga aku mau kok," Nisa tersenyum ke arah Rena.


"Ya udah, kami berdua pergi dulu ya? Takut kesiangan. Semoga jualan kamu laris manis, assalamualaikum.."


"Amin.. Wa'alaikumsalam,"


Nisa dan Rena pergi meninggalkan Gibran.


"Meskipun Fanny seperti tidak peduli dengan Rena, tetapi alhamdulillah masih banyak orang yang sayang dan perhatian kepada anak hamba..." gumam Gibran pelan sembari menatap Nisa dan Rena yang sudah menjauh.


Gibran mulai mendorong gerobak nya ke pangkalan. Saat ini dia jarang berjualan keliling, karena sudah mendapatkan tempat jualan yang dekat dengan jalan raya. Jadi alhamdulillah jualan Gibran laris manis karena beberapa pengendara yang berhenti guna istirahat, sarapan, ataupun makan siang. Gibran juga tidak hanya berjualan lontong saja, dia sekarang jualan nasi uduk dan nasi biasa dengan lauk Ikan nila goreng, ayam kalasan, dan telur dadar serta tempe orek. Gibran bersyukur karena dagangannya selalu laris manis, meskipun terkadang suka tersisa sedikit juga.






TBC.


HAPPY READING.. 🌹


SEE YOU NEXT PART..

__ADS_1


JANGAN LUPA UNTUK DUKUNG KARYA MOM AL ❤.


__ADS_2