
tiga hari berikutnya.
Gibran telah bersiap dengan hanya menggunakan setelan kemeja, Gibran juga tak lupa membawa map yang berisi ijazah sekolah dan CV.
"Fan!" seru Gibran saat melihat Fanny yang sedang mengecat kuku di dekat kolam renang.
"Hm?" Fanny hanya berdehem tanpa menoleh ke arah Gibran ataupun menghentikan aktivitasnya.
"Aku mau pergi ngelamar kerja."
"Ya udah, hati-hati."
"Kamu masak sarapan apa hari ini? Aku mau sarapan dulu sebelum pergi,"
Fanny menghentikan aktivitasnya dan menghela nafas kasar. "Aku hari ini gak masal apa-apa, Mas. Kalau mau makan beli diluar aja ngapa sih, ribet banget." Fanny berdiri dari duduknya.
"Kalau gak kamu cari aja asisten rumah tangga, Mas. Biar aku ribet ngurusin kerjaan rumah. Kamu tau kan, aku itu dulu model dan gak pernah pegang sapu, pel, mesin cuci, ataupun alat-alat dapur untuk memasak. Semua itu yang ngelakuin pembantu di apartemen aku." Fanny berdiri di depan Gibran. Setelah mengatakan itu, Fanny langsung pergi meninggalkan Gibran yang hanya diam saja.
Gibran menggelengkan kepala. "Kok Fanny jadi kayak gitu sih? Semoga aja dia bisa terbiasa dengan status dan kewajibannya saat ini," Gibran segera melangkah keluar rumah.
Di dalam kamar.
Brak!
Fanny menutup pintu dengan kencang. "Huft! Semoga Mas Gibran dapet kerjaan deh. Aku kan udah kangen jalan-jalan, shopping, ke salon, dan liburan. Ck! Kalau begini lama-lama aku pengen kerja lagi kan." Fanny merebahkan tubuhnya di atas kasur.
•
•
•
__ADS_1
Gibran terus berjalan guna mencari perusahaan atau tempat yang membuka lowongan kerja.
"Mas!!" seseorang berteriak memanggil Gibran.
Gibran menghentikan langkahnya.
"Hai, Mas. Assalamualaikum," ujar Nisa.
"Nisa? Waalaikumsalam. Kamu ada disini?" Gibran menatap Nisa.
Nisa mengangguk dan tersenyum. "Mas Gibran kenapa pagi-pagi udah ada di sekitar sini? Memangnya gak kerja?"
Gibran menggeleng dan tersenyum kecut. "Saya di pecat."
Nisa melongo. "Di pecat? Kok bisa?" Nisa menggulirkan mata, dia melihat ada sebuah bangku tak jauh dari tempatnya berdiri.
"Kita duduk di sana aja dulu yuk, Mas? Ngobrol sambil istirahat," Nisa menunjuk bangku tersebut.
"Gimana ceritanya kamu bisa di pecat, Mas?" Nisa bertanya setelah sudah duduk di bangku.
"Huft! Saya difitnah, Sa. Kamu kenal Mega kan?"
Nisa mengangguk.
"Saya difitnah ingin melecehkannya. Padahal nyatanya tidak, kamu tau sifat saya bagaimana kan?"
"Astagfirullah.. Kok tega gitu ya, Mas. Aku gak nyangka Mega ternyata jahat. Kenapa kamu gak tanya aja sama dia, apa motif dirinya memfitnah kamu. Apa kamu pernah ada masalah dengannya?"
Gibran menggeleng. "Saya sudah bertanya padanya, tetapi Mega tetap tutup mulut. Saya rasa ada orang iri dengan saya, maka dia ingin balas dendam pada saya melalui Mega. Saya dan Mega sama sekali tidak ada masalah, bahkan bicara saja tidak pernah." jelas Gibran masih berpikir siapa orang yang mempunyai dendam pribadi padanya.
"Aku turut sedih karena kamu di pecat, Mas.." ujar Nisa lembut.
__ADS_1
"Ya sudahlah, Sa. Namanya juga hidup, pasti selalu ada aja cobaan. Mungkin Allah sedang menguji saya," Gibran berpikir positif.
"Apa kamu disini untuk mencari pekerjaan?" tebak Nisa.
"Ya. Tapi dari tadi saya lihat tidak ada perusahaan atau toko-toko yang membuka lowongan. Sulit sekali rasanya mencari kerja," Gibran menatap lurus ke depan.
"Aku punya teman, dan sepupu teman ku sedang mencari seorang pekerja. Untuk jabatannya sih aku gak tau pasti, dan kalau gak salah nama perusahaannya PV Jaya. Jika kamu mau, kamu bisa coba melamar pekerjaan di sana. Untung-untung bisa di terima." saran dari Nisa.
"Benarkah? Saya akan mencobanya," Gibran berbinar. "Apa kamu tahu dimana letak perusahaan itu?"
"Jaman sekarang canggih, Mas. Kamu tinggal buka maps, dan coba lihat di sana. Gampang kan?"
Gibran mengangguk. "Benar juga ya, kenapa saya gak kepikiran ke sana."
Akhirnya Gibran membuka maps, dan langsung mencari taksi untuk pergi ke perusahaan PV Jaya.
•
•
•
**TBC.
HAPPY READING 🌹
SELAMAT SIANG SEMUANYA..
MOHON BERIKAN DUKUNGAN SEBANYAK-BANYAKNYA DI CERITA GIBRAN YANG PASTINYA SERU 🔥🔥
terimakasih, papay 😘😘**
__ADS_1