
Nisa memegang handel pintu dan langsung menariknya.
Ceklek!
Pintu rumah terbuka.
Ternyata ada seseorang di depan pintu yang kebetulan ingin mengetuk pintu. Mulut wanita yang tengah berada di luar melongo.
"Hilma?" Gibran membuka pintu dengan lebar, sementara Nisa dia berdiri di samping Gibran.
"Assalamualaikum, Pak Gibran, Bu guru" Hilma mencoba tersenyum.
"Waalaikumsalam" sahut Gibran dan Nisa bersamaan.
"Tumben kamu malam-malam datang ke sini?" Gibran keluar dari rumah diikuti oleh Nisa dan Rena.
"Em, anu Pak.. Saya mau mengantarkan makan malam untuk Pak Gibran dan Rena"
Gibran menatap rantang yang berada di tangan Hilma. Gibran bingung harus bagaimana, mau menolak tidak enak, tapi jika di terima maka makanan yang Hilma bawa tidak akan termakan.
Hilma menatap Gibran yang raut wajahnya terlihat bingung, lalu pandangannya beralih menatap Nisa.
'Aku yakin Mas Gibran pasti udah makan malam. Buktinya ada guru ganjen ini disini, dan raut wajah Pak Gibran juga terlihat bingung.' batin Hilma kesal.
"Apa Pak Gibran dan Rena sudah makan malam?"
Gibran ingin membuka mulut tetapi Rena dengan cepat menjawab pertanyaan Hilma.
"Rena sama Papa udah makan, Mbak. Tadi Bu Guru masakin tumis kangkung sama omelet" sahut Rena senang.
'Benarkan tebakan ku.' Hilma semakin kesal, dia keduluan lagi kali ini.
"Jika Rena dan Pak Gibran sudah makan, kalau begitu makanan ini saya bawa pulang lagi aja"
"Maaf ya, Hilma. Saya tidak bisa menerima makanan dari kamu, daripada saya terima tapi gak saya makan juga pasti akan mubazir"
__ADS_1
"Tidak pa-pa, Pak. Kalau begitu saya permisi, assalamualaikum''
"Wa'alaikumsalam" sahut Gibran dan Nisa bersamaan.
Setelah Hilma sudah menjauh, Nisa juga berpamitan pada Gibran untuk segera pulang.
"Mas, aku permisi pulang juga ya?"
"Bu guru hati-hati ya? Besok kesini lagi, kita masak bareng untuk makan malam" ucap Rena gembira.
"Insyaallah ya sayang. Ibu gak bisa janji" Nisa mengelus kepala Rena.
"Hati-hati ya, Nis. Apa mau aku antar aja?" tawar Gibran.
"Gak usah, Mas. Aku pulang sendirian aja, lagian masih jam tujuh juga" Nisa menolak secara halus.
Setelah mengucapkan salam, Nisa langsung pergi dari rumah Gibran.
•
•
•
"Sayang.." Fanny merangkul leher Dion dari belakang.
"Hai..." sapa Dion sembari mengecup bibir Fanny.
"Em, tabungan kita udah berapa? Apa belum cukup untuk membuka usaha?" Fanny menatap wajah tampan Dion dari samping.
"Sepertinya sudah, sayang. Satu bulan lagi kita akan menikah, aku juga udah dapet proyek baru untuk pemotretan di luar kota" ucap Dion bohong.
Fanny menegakkan tubuh dan berjalan duduk di samping Dion.
"Aku gak sabar pengen nikah sama kamu" ucap Fanny manja dan meletakkan kepalanya di dada bidang Dion yang tanpa alas. Dion saat ini tengah bertelanjang dada.
__ADS_1
"Aku juga" sahut Dion tersenyum sinis.
'Dulu kamu sama sekali tidak melirik ku, Fanny. Sekarang barulah kamu masuk ke perangkap ku, dan kita lihat apa yang akan terjadi nanti' senyum sinis terukir di bibir Dion.
Fanny sangat nyaman dengan wangi tubuh Dion.
"Sayang" seru Fanny dengan suara berat.
"Hm?" Dion menunduk agar dapet melihat wajah Fanny.
"Aku menginginkannya. Sudah berapa hari kita tidak melakukan itu, semenjak aku ke luar kota minggu lalu" Fanny berkata dengan memainkan dada Dion.
"Baiklah.. Aku akan dengan senang hati melakukannya. Ayo!" Dion menggendong tubuh Fanny dan membawanya ke dalam kamar.
Saat ini Fanny tengah berada di apartemen milik Dion. Sesampainya dikamar, mereka langsung melakukan hubungan suami-istri. Sayangnya Fanny dan Dion tidak ingat dosa, mereka bukanlah suami-istri tapi melakukan hal wajib bagi pasangan yang sudah menikah.
•
•
•
•
**TBC
HAPPY READING..
SAMPAI JUMPA DI BAB SELANJUTNYA..
JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK DAN DUKUNGANNYA, TERIMAKASIH 😘😘.
🍏🍏🍏🍏
Mampir ke karya temen Mom Othor juga yuk 🍉**
__ADS_1