Jodoh Untuk Gibran

Jodoh Untuk Gibran
#Bab 15


__ADS_3

Selesai beberes rumah. Gibran akhirnya memutuskan untuk memasak tempe dan tahu goreng.


Fanny yang baru saja selesai mandi menghampiri Gibran. "Mas, kamu masak?"


Gibran mengangguk.


"Kenapa gak pesan go food aja sih? Atau beli di warung."


"Huft! Kamu kan ngerti kalau kita harus menghemat, Fan. Aku juga cuma masak tahu dan tempe goreng." Gibran menunjukkan hasil gorengan nya yang berada di piring kepada Fanny.


"Cuma ini doang? Makanan apaan ini, Mas.." Fanny beralih berjalan duduk di meja makan.


Gibran mengikuti Fanny sembari membawa piring berisi tempe dan tahu itu.


"Yang penting kita makan, Fan. Kamu syukuri aja, daripada seperti orang di luaran sana. Masih banyak yang sulit untuk mendapatkan makanan, mereka sampai harus mencari di tempat sampah terlebih dahulu baru bisa makan." Gibran meletakkan piring di meja.


"Aku gak mau makan." ketus Fanny.


"Sayang.. Jangan gini dong, kamu gak kasihan sama bayi kita?" Gibran mengelus lembut perut Fanny yang sudah membuncit. "Aku suapi ya?" bujuk Gibran. Dia sadar dan tahu, bahwa Fanny pasti akan sulit hidup susah seperti ini.


Gibran adalah anak yatim piatu, begitupun dengan Fanny. Sebenarnya Fanny ingin tinggal di rumah Om nya yang berada di luar kota. Tetapi Gibran menolak, karena semua itu bisa menjatuhkan harga dirinya sebagai seorang suami. Sementara apartemen Fanny, apartemen itu telah di jual lama setelah Fanny menikah dengan Gibran.


Dengan kesabaran Gibran membujuk sang istri, akhirnya Fanny mau membuka mulut.


Gibran dengan cekatan menyuapi Fanny, sambil sesekali bergurau supaya Fanny tersenyum.


'Perlahan tapi pasti, aku yakin kamu akan terbiasa hidup seperti ini, Fan..' batin Gibran.


Malam harinya.


Sepasang suami-istri itu sudah berada di atas tempat tidur. Fanny bergerak tidak nyaman karena kasur yang di gunakan tidak seperti dulu.


"Mas, kenapa kasurnya keras sekali?"

__ADS_1


"Ya gimana lagi, sayang.. Aku cuma bisa beli ini, jika beli yang mahal aku takut uang kita gak cukup untuk kedepannya." jelas Gibran.


"Ck! Mana panas banget lagi." Fanny mengibas wajahnya menggunakan tangan.


"Ya udah, aku kipas- in supaya kamu bisa tidur.." akhirnya Gibran mengalah dan mengipas Fanny menggunakan kertas koran.


Fanny mulai memejamkan mata dan tertidur.






Keesokan paginya.


Jam sudah menunjukkan pukul lima subuh.


Fanny yang merasa berisik pun terbangun dari tidurnya. "Eugh!! Berisik banget sih Mas Gibran. Ngapain pagi-pagi gini udah di dapur,"


Fanny pun beranjak dari ranjang dan mulai berjalan ke arah dapur.


"Mas," seru Fanny berdiri di ambang pintu dapur.


"Eh, sayang.. Kamu kok udah bangun?" Gibran yang masih mengupas telur rebus pun menoleh ke arah Fanny.


"Kamu ngapain pagi-pagi udah masak banyak begini?" Fanny memperhatikan beberapa menu masakan yang berada di meja.


"Oh iya, aku lupa kemarin bilang sama kamu. Aku hari mulai jualan,"


Fanny mengerutkan dahi. "Jualan? Jualan apa?".

__ADS_1


"Lontong. Lontong sayur," sahut Gibran.


"Hah! Kamu mau jadi pedagang lontong sayur?" Fanny bertanya dengan nada terkejut.


Gibran mengangguk, untungnya dia sudah pandai membuat lontong atau masakan apapun karena Gibran dulu berasal dari orang susah. Almarhumah sang ibu dulu berjualan sebagai penjual mie pecel, nasi uduk, soto dan lontong sayur. Gibran selalu memperhatikan sang Ibu dikala memasak, setelah Ibu mengajari Gibran bagaimana cara memasak lontong sayur dan masakan lainnya. Maka dari itu Gibran sudah pandai dan tidak terlalu bingung.


"Kenapa harus jadi penjual lontong sayur sih, Mas? Apa kamu gak cari kerjaan lain aja?"


"Sepertinya aku lebih memilih berjualan dibandingkan kerja di tempat lain, Fan."


"Tapi jika berjualan gini pasti penghasilannya sedikit kan, Mas?"


"Tergantung, sayang.. Kamu doain aja supaya jualan ini ramai, pasti penghasilan ku juga akan banyak.." jawab Gibran masih dengan mengupas telur.


Fanny hanya diam saja dan pasrah.


"Kamu kok diam aja di situ? Bantuin aku sini biar cepat selesai," Gibran menoleh sejenak ke arah Fanny.


Mau tidak mau Fanny menghampiri Gibran dan mulai duduk di sebelah Gibran. Dia membantu mengupas telur rebus itu.






**TBC.


HAPPY READING..


SAMPAI JUMPA..

__ADS_1


JANGAN LUPA UNTUK MEMBERIKAN LIKE, VOTE, KOMEN, HADIAH DAN FAVORITNYA.. TERIMAKASIH 😘**


__ADS_2