Jodoh Untuk Gibran

Jodoh Untuk Gibran
#Bab 18


__ADS_3

Pukul 17.30 Wib.


Gibran baru pulang dari berdagang, dia segera meletakkan gerobak nya di samping rumah.


"Papa..." Rena bersorak riang kala melihat sang Ayah.


Gibran tersenyum dan menghampiri Rena yang berdiri di teras rumah.


"Assalamualaikum, sayang.."


"Wa'alaikumsalam, Papa.." sahut Rena.


Gibran memeluk tubuh Rena dan mencium pipi putri sematawayang nya itu. "Eum, anak Papa udah wangi. Kamu udah mandi ya?".


Rena mengangguk.


"Apa Mama sudah pulang?"


Rena menggelengkan kepala. "Belum. Rena tadi mandi sama Mbak Hilma,".


"Mbak Hilma belum pulang?".


"Selamat sore, Pak." Hilma keluar dari dalam rumah.


"Eh, selamat sore Hilma. Saya pikir tadi kamu sudah pulang,".


Hilma tersenyum tipis. "Belum, Pak. Saya memang sengaja menunggu Bapak atau Ibu pulang. Biasanya saya pulang cepat 'kan karena Ibu juga sudah pulang kerja,".


"Tumben jam segini Fanny belum pulang," Gibran merogoh saku dan menghubungi Fanny.


📲"Halo, Mas.." suara Fanny terdengar berteriak.


"Halo assalamualaikum. Fanny, kamu dimana? Kenapa berisik sekali?"


📲"Aku lagi di tempat karaoke sama teman-teman." sahut Fanny.


"Karoke? Kamu gak mikirin aku sama anak kamu yang di rumah?". Gibran terlihat marah.


📲"Udah deh, ntar lagi aku pulang. Aku matiin dulu teleponnya,".

__ADS_1


Sambungan pun langsung terputus.


Gibran menghela nafas sembari menatap layar ponsel yang berada di tangannya.


"Pah, Mama dimana?" Rena menarik ujung baju Gibran.


Gibran berjongkok agar dirinya sejajar dengan sang putri. "Mama masih kerja, sayang.. Sebentar lagi juga pulang,''.


Rena yang belum mengerti apapun hanya mengangguk.


'Kasihan sekali Pak Gibran. Bu Fanny juga gak punya perasaan banget, gak mikirin anak dan suaminya di rumah.' batin Hilma iba melihat Gibran yang pulang kerja harus mengurus anaknya.


"Em, Pak. Saya pulang dulu ya?" Hilma mendekat ke arah Gibran dan Rena.


Gibran berdiri dari jongkoknya. "Terimakasih ya, Hilma. Biasanya kamu jam lima kan udah pulang, ini udah lewat jam kerja..".


"Gak pa-pa, Pak. Saya juga senang bermain dengan Rena. Ya kan sayang?" Hilma mengelus kepala Rena.


Rena mengangguk dan tersenyum ke arah Hilma.


"Em, Hilma. Saya mau bilang, berhubung Rena udah besar dan bisa bermain sendiri, saya rasa kamu gak perlu lagi bekerja mulai besok. Saya ingin Fanny lebih dekat dengan Rena, dan tidak lebih mementingkan teman daripada keluarga."


Hilma sepertinya tidak rela untuk berpisah dengan Rena. "Em, baik Pak. Tapi jika saya kangen dengan Rena, dan ingin bermain dengan Rena boleh ya saya datang kemari?".


"Rena sayang, Mbak Hilma pulang dulu ya?" Hilma menangkup wajah Rena.


Rena mengangguk dan tersenyum.


"Pak, saya permisi. Assalamualaikum,"


"Wa'alaikumsalam.." sahut Gibran dan Rena bersamaan.


Setelah Hilma sudah jauh.


"Sayang, kita masuk yuk? Papa mau masak untuk makan malam kita," Gibran dan Rena masuk ke dalam rumah.


Gibran membersihkan diri terlebih dahulu, sementara Rena dia mengerjakan Pr di ruang tamu.


Selesai membersihkan diri, Gibran segera menuju dapur. Dia ingin memasak sesuatu, tetapi ketika matanya menatap meja makan, sudah ada beberapa menu masakan di meja.

__ADS_1


"Siapa yang masak ya? Apa Hilma," Gibran berpikir. Gibran keluar dari dapur menuju ke ruang tamu.


"Rena sayang.. Tadi Mbak Hilma masak makan malam ya?" Gibran duduk di sebelah Rena.


"Iya, Pa. Tadi Rena lihat Mbak Hilma masak di dapur," sahut Rena.


Gibran hanya mengangguk.


Cklek!


Pintu rumah terbuka, dan terlihat Fanny berjalan masuk ke dalam rumah.


"Kenapa pulangnya lama sekali?" Gibran berdiri dari duduknya dan mulai mengajukan pertanyaan kepada Fanny.


"Ck! Aku baru pulang kerja, Mas. Jangan terus di tanyai gitu ngapa sih." Fanny ingin melangkah ke dalam kamar.


"Mama.. Nanti ajarin Rena mengerjakan pr ya?" Rena berdiri dari duduknya.


"Duh.. Mama capek Rena, mending kamu minta ajarin Papa aja tuh. Mama mau istirahat," Fanny langsung melangkahkan kaki masuk ke dalam rumah.


Gibran hanya menggeleng dan dia memeluk tubuh Rena.


"Nanti setelah makan malam, Papa aja yang ngajarin Rena ngerjain pr ya?" Gibran menangkup wajah Rena.


Rena pun hanya mengangguk dan menatap nanar ke arah pintu kamar sang Mama.


'Kenapa Mama gak pernah mau nemenin aku belajar, atau main?? Mama selalu aja sibuk kerja,' batin Rena bersedih.






**TBC.


HAPPY READing..

__ADS_1


SEE YOU NEXT PART BYE....


JANGAN LUPA UNTUK MENINGGALKAN JEJAK SERTA DUKUNGANNYA, TERIMAKASIH 😘🙏🏻**.


__ADS_2