
Beberapa minggu kemudian.
Fanny baru pulang ke rumah, setelah Rena sakit tempo hari dia sama sekali tidak pulang. Gibran berulang kali meneleponnya, tetapi ponsel Fanny tidak bisa di hubungi.
"Fanny!" Gibran berseru kala melihat Fanny yang baru masuk ke dalam rumah.
Fanny menoleh dan hanya menghela nafas kasar.
"Dari mana saja kamu?" Gibran duduk di kursi sembari menatap Fanny.
Fanny tidak menghiraukan pertanyaan Gibran, dia terus melangkah masuk ke dalam kamar.
"Pa, Mama kenapa??" Rena yang ada di sebelah Gibran bertanya dengan polosnya.
"Mama mungkin lagi capek. Kamu ke kamar dulu ya? Papa mau nyamperin Mama.." Gibran mengelus kepala Rena dan tersenyum.
Rena mengangguk, dia beranjak dan pergi ke kamarnya.
Setelah Rena pergi, Gibran langsung menatap pintu kamar nya. Dia beranjak berdiri dari duduk lalu berjalan ke arah kamar.
"FANNY!!!" teriak Gibran marah.
Mata Gibran terbelalak saat melihat Fanny yang sedang memasukkan pakaiannya ke dalam koper. Dengan cepat Gibran berjalan ke arah Fanny.
"Fan! Apa yang kamu lakukan?" teriak Gibran saat sudah berada di samping Fanny.
Fanny diam saja. Dia langsung menutup koper dan menurunkan kopernya dari atas ranjang. Fanny mengambil tas jinjingnya dan mengambil sebuah amplop berwarna cokelat.
"Apa ini?" tanya Gibran heran saat Fanny meletakkan amplop itu di tangannya.
__ADS_1
"Kamu lihat saja sendiri."
Deru nafas Gibran memburu cepat, matanya memerah dan tangannya menggenggam erat kertas yang sudah keluar dari amplop tersebut.
"Apa maksudnya ini, Fanny!!!" Gibran merobek kertas tersebut.
"Ya! Aku tidak tahan hidup susah terus bersama mu, Mas. Aku ingin kita cerai!" teriak Fanny tak kalah kencang.
Gibran menggeleng. "Kamu jangan main-main, Fan. Hentikan candaan mu ini," Gibran memegang kedua tangan Fanny.
Fanny mengibaskan tangan Gibran dengan kasar. "Meskipun kamu bertekuk lutut di hadapan ku aku akan tetap meminta cerai, Mas! Aku tidak mencintaimu lagi!!!"
"Fan! Fanny, tolong pikirkan lagi.. Aku sangat mencintaimu, kamu boleh kerja dan bersenang-senang dengan temanmu, tetapi aku mohon jangan meminta cerai." Gibran tidak peduli harga dirinya sebagai seorang suami jatuh di mata Fanny.
"CUKUP MAS CUKUP!!! Aku tetap gak akan berubah pikiran, kita akan tetap bercerai!!" Fanny memegang kopernya dan langsung keluar dari kamar.
Fanny tidak peduli, dia tetap berjalan keluar dari rumah. Tetapi sebelum keluar dari rumah, Gibran sudah mencekal lengan Fanny.
"Fan, kami gak boleh pergi. Kita sudah berjanji akan membesarkan Rena bersama-sama, apa kamu lupa akan hal itu???"
Fanny menatap tajam mata Gibran. "LEPAS! Kamu saja yang membesarkan anak itu, aku tidak peduli mau jadi apa dia besarnya nanti."
Gibran menggeleng. "Kamu keterlaluan, Fan.. Dia itu anak kandung kamu, apa kamu tidak punya perasaan berkata seperti itu tentang anak kamu sendiri??"
"UDAHLAH, MAS!!! Pokoknya kamu harus datang ke persidangan cerai kita nanti. Awas aja kalau kamu gak datang, jangan jadi laki-laki yang terlihat murahan di depan ku."
Fanny langsung pergi meninggalkan Gibran yang diam mematung.
Rena mengintip dari pintu ketika kedua orang tuanya bertengkar.
__ADS_1
"Mama.." gumam Rena pelan.
Saat melihat Fanny pergi, Rena langsung berlari keluar kamar.
"MAMA!!!!!!!!" teriak Rena berlari.
"Sayang..." dengan cepat Gibran menarik tubuh Rena agar tidak mengejar Fanny.
"Pa.. Mama, Mama pergi.." rengek Rena dengan air mata yang mengucur deras di pipi.
"Sst... Sayang, jangan menangis.. Mama nanti pasti akan pulang," Gibran memeluk tubuh Rena.
"Hiks.. Mama..." lirih Rena di dalam pelukan Gibran sambil terus menatap keluar rumah.
'Aku yakin kamu pasti akan menyesal karena sudah mengambil keputusan ini, Fanny. Baiklah, aku akan datang ke pengadilan untuk sidang perceraian kita. Dan aku akan perlihatkan padamu bagaimana lelaki murahan ini bisa hidup tanpamu. Aku akan mengurus Rena sendiri,' batin Gibran yakin.
•
•
•
**TBC
HAPPY READING 🌹
SEE YOU NEXT PART..
JANGAN LUPA UNTUK MENINGGALKAN JEJAK SERTA DUKUNGANNYA, TERIMAKASIH 😘**
__ADS_1