
Warung milik Gibran terlihat sangat ramai, sudah satu bulan warung itu berdiri.
"Mas, saya mau capcai sama tempe orek ya? Makan disini" ucap seorang pembeli.
"Iya, sabar ya? Silahkan duduk dulu" Gibran mempersilahkan customer nya untuk duduk.
Begitu banyak orang yang mengantri untuk makan di warung milik Gibran, penghasilan Gibran dari warung sehari bisa mencapai satu juta. Betapa bersyukur nya dia karena warungnya selalu ramai, apalagi Nisa selalu membantu dengan telaten.
"Mas, ini aku udah masakin lagi sayur lontongnya" Nisa meletakkan dandang berisi kuah sayur lontong di atas meja.
"Kamu taruh aja disitu. Nis! Tolong bungkus 'kan pesanan Ibu Itu," Gibran menunjuk Ibu-ibu yang duduk di kursi. "Lima porsi lontong sayur ya?"
Nisa mengangguk dan mulai mengerjakan tugas nya.
"Wah, Mas Gibran hebat ya? Punya istri yang bisa diajak merintis usaha" ucap salah seorang Ibu yang mungkin belum mengenal Gibran dan Nisa.
"Eh, Bu. Mereka itu bukan suami-istri, perempuan itu namanya Nisa, dia guru dan cuma membantu Mas Gibran di warung ini" sahut tetangga Gibran yang kebetulan beli makan siang di warung Gibran.
"Oh, saya pikir suami-istri. Habisnya mereka kelihatan cocok" ucap Ibu tadi.
Gibran dan Nisa hanya diam saja sembari saling pandang.
'Jika diperbolehkan, maka aku sangat ingin menjadi istri Mas Gibran. Dia adalah pria pertama yang mampu mencuri hatiku, tetapi apalah daya, jodoh sudah ada yang ngatur' batin Nisa pasrah.
Waktu terus berlalu hingga waktu makan siang telah usai. Berhubung warung Gibran berada di pinggir pasar besar, jadi banyak orang lewat mampir ke warung tersebut guna istirahat sekaligus makan.
Warung sudah sepi, sekarang tinggallah Gibran dan Nisa di dalam warung itu. Sementara Rena, dia mengerjakan tugas di dapur.
Gibran menatap Nisa yang sedang menyapu. "Nisa?"
__ADS_1
Nisa mendongak karena Gibran memanggilnya. "Ya, Mas?" sahut Nisa sembari meletakkan sapu dan berjalan duduk di kursi sebelah Gibran.
"Saya ingin berbicara penting padamu." ucap Gibran serius.
Nisa mengerutkan dahi. "Katakan ada apa? Sepertinya Mas Gibran tampak serius"
"Apa kamu menja—"
"Mas Gibran..."
Kompak Nisa dan Gibran menoleh ke arah luar.
•
•
•
"Dengan keadaan ku yang seperti ini, mana mungkin aku bisa jadi model lagi" ucap Fanny sambil terus berjalan di lorong toko.
Saat ini Fanny memakai rambut palsu(Wik). Rambutnya sudah habis karena setiap hari rontok, Fanny sangat ingin memeriksakan keadaannya ke Dokter tetapi apalah daya uang nya tidak cukup.
"Huft! Aku hanya punya uang dua ratus ribu. Ini juga sisa dari penjualan barang-barang branded ku." Fanny jadi pusing sendiri.
Dia memegangi perutnya yang sakit. "Duh, mana lapar lagi." Fanny mengedarkan mata ke penjuru toko. "Itu sepertinya ada warung sederhana, aku ke sana aja deh siapa tau harganya murah" Fanny melangkah ke warung sederhana itu.
Setelah tiba di dekat warung tersebut, Fanny terlebih membaca dahulu spanduk yang terbentang lebar di atas pintu masuk.
"Gibran Barokah" eja Fanny kala dia membaca spanduk tersebut.
__ADS_1
"Kenapa nama spanduknya harus Gibran sih? Jadi teringat dengan Mas Gibran." Fanny menunduk lemah.
Dia berjalan lebih dekat agar bisa melihat seisi warung, tetapi matanya tebelalak kala melihat seseorang yang dia kenal dan rindukan.
"Mas Gibran...." seru Fanny.
•
•
•
•
**TBC
HAPPY READING..
SAMPAI JUMPA DI PART SELANJUTNYA..
JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK SERTA TEBAR BUNGA 😘.
terimakasih ❤**
🍏🍏🍏🍏🍏
Mampir ke karya temen Mom Othor yuk ❤
__ADS_1