
Satu minggu kemudian.
Rena tengah berada di atas tempat tidur dengan menggunakan selimut yang tebal. Badannya menggigil dan dia terus memanggil sang Mama.
"Mama.. Mama..." lirih Rena dengan badan yang gemetar.
Ceklek!
Pintu kamar terbuka.
Gibran masuk ke dalam kamar untuk membangunkan Rena agar sekolah.
"Rena," panggil Gibran saat sudah berada di dekat Rena.
"Ma..Ma.." Rena terus mengigau memanggil Mama nya.
Gibran mengerutkan dahi dan memegang kening Rena. "Astaga, badannya panas sekali."
"Sayang.. Rena, bangun nak.." Gibran menepuk pelan pipi Rena.
Rena membuka matanya, mata sayu itu terlihat menatap Gibran dengan sendu.
"Pa... Mama mana?" lirih Rena dengan wajah yang pucat.
"Sebentar ya nak, Papa panggilkan Mama dulu." Gibran segera keluar dari kamar Rena.
Dia masuk ke dalam kamarnya.
"Fanny!" seru Gibran saat melihat Fanny yang sudah selesai untuk pergi bekerja.
"Hm?" dehem Fanny menjawab panggilan Gibran.
"Aku minta kamu hari ini gak usah kerja dulu ya?" Gibran menghampiri Fanny yang duduk di kursi meja rias.
"Kenapa memangnya, Mas?" Fanny bertanya sembari mengoles bibirnya menggunakan lipstik berwarna pink.
"Rena sakit. Badannya panas, sepertinya dia demam. Dari tadi dia nyebutin Mama-Mama aja. Kamu gak kasihan sama anak kamu?" Gibran berkata lembut dan menatap Fanny dari pantulan cermin.
"Ck! 'Kan ada kamu sih, Mas. Kenapa harus aku coba?? Aku hari ini ada pemotretan penting, jadi gak bisa di tunda gitu aja." Fanny berdiri dari duduknya.
__ADS_1
Gibran mencekal tangan Fanny saat Fanny ingin berjalan keluar kamar.
"Mas! Kamu apa-apaan sih? Lepasin tangan aku, ini udah siang aku bisa terlambat!."
"Kamu keterlaluan, Fan. Bisa-bisanya kamu lebih mementingkan pekerjaan daripada anak kamu sendiri. Ibu macam apa kamu ini!!!" bentak Gibran emosi. Entah kenapa makin hari sikap Fanny semakin melunjak.
Fanny mengibaskan tangan Gibran dengan kasar. "TERUS MAU KAMU APA? HAH! MAS, AKU SEPERTI INI JUGA DEMI MASA DEPAN RENA, SUPAYA DIA BISA BERSEKOLAH TINGGI." teriak Fanny terpancing emosi.
"Ya tapi 'kan gak harus memaksa seperti ini, Fan. Kamu punya tanggungjawab di rumah."
"Argh! Terserah kamu! Aku mau pergi kerja, dan aku hari ini gak pulang karena aku mau nginep di luar kota. Ada pemotretan di daerah sana." Fanny membuka pintu kamar dan segera pergi dari rumah.
"Fan! FANNY!!!" teriak Gibran sembari mengejar Fanny yang sudah menjauh dari rumah.
"Ya Allah.. Kenapa istriku semakin hari semakin seperti itu? Dia sama sekali tidak memperdulikan aku dan Rena.." lirih Gibran menatap punggung Fanny yang sudah sangat jauh.
Gibran menghapus air mata yang menetes di pipinya. Dia kasihan dengan Rena, yang saat ini sedang sakit dan memerlukan perhatian dari seorang ibu tetapi sang Ibu malah tidak perduli.
"Assalamualaikum." suara merdu seorang wanita membuat Gibran mendongak.
"Waalaikumsalam.." sahut Gibran. Untung saja dia tadi sudah menghapus air mata nya.
"Rena sedang sakit, Hilma. Dan dia hari ini tidak masuk sekolah,"
"Sakit?" pekik Hilma khawatir. "Apa saya boleh melihatnya?"
Gibran mengangguk.
Hilma segera masuk ke dalam guna melihat keadaan Rena.
"Rena.." seru Hilma saat dirinya sudah berada di dekat Rena.
Rena masih menggigil, dia juga terus memanggil sang Mama.
"Rena sayang.. Ini Mbak Hilma," Hilma mengelus kepala Rena. Betapa terkejutnya dia saat merasakan panas yang sangat tinggi saat menyentuh kening Rena.
"Pak! Ini panasnya tinggi sekali, lebih baik bawa saja ke rumah sakit." Hilma menoleh ke arah Gibran yang berada di ambang pintu.
"Saya memang ingin membawa Rena ke rumah sakit," Gibran berjalan masuk ke dalam kamar Rena.
__ADS_1
"Oh ya, Pak. Bu Fanny mana??" Hilma bertanya karena sedari tadi tidak melihat Fanny.
"Dia sudah pergi bekerja."
"Kerja? Apa Bu Fanny gak tau kalau Rena sakit?"
"Saya sudah memberitahunya, tetapi dia tetap ngeyel pergi bekerja. Entahlah, saya merasa sikap Fanny semakin hari tidak peduli dengan kami. Dia lebih sibuk kerja dan lebih banyak menghabiskan waktu dengan temannya dibandingkan dengan kami." curhatan Gibran.
"Tega sekali Bu Fanny. Padahal anak nya sedang sakit, tapi dia lebih memilih pergi bekerja.." Hilma tidak habis pikir dengan Fanny.
"Sudahlah, Hilma. Saya bisa merawat Rena sendirian, terserah Fanny mau apalagi setelah ini." Gibran lelah setiap hari menceramahi sang istri.
"Ya sudah ayo cepat, Pak. Saya ikut,"
"Apa kamu tidak kerja?"
"Saya bisa minta izin pada Bu Alya untuk libur dulu. Kasihan Rena, pasti Bapak akan repot jika mengurusnya sendirian. Bukankah Bapak harus berjualan?" ujar Hilma. Dia saat ini bekerja di sebuah tempat laundry yang berada di kota.
"Saya sepertinya libur dulu untuk hari ini. Saya akan fokus mengurus Rena sampai dia sembuh."
Hilma mengangguk, dia sangat salut dengan Gibran. Seorang suami sekaligus orang tua yang penyabar dan penyayang.
Hilma berdiri dari duduknya, dan Gibran mulai menggendong Rena lalu mereka berdua keluar dari kamar. Sesampainya diluar, mereka menunggu taksi terlebih dahulu. Ya, Hilma sudah memesan taksi online untuk pergi ke rumah sakit.
•
•
•
**TBC.
HAPPY READING 🌹
SEE YOU NEXT PART 🤗.
JANGAN LUPA UNTUK TINGGALKAN JEJAK SERTA DUKUNGANNYA.
TERIMAKASIH ❤.
__ADS_1
YUK FOLLOW IG AUTHOR @ningsihartono 🙏🏻😘**