
Gibran dan Hilma masih berada di rumah sakit. Setelah melakukan pemeriksaan, akhirnya Dokter mengatakan bahwa Rena mengalami gejala DBD (DEMAM BERDARAH).
"Hilma, saya minta tolong agar kamu menunggu Rena dulu di sini ya? Saya mau keluar dulu beli makan. Ini udah jam 12, waktunya makan siang," Gibran berkata dengan Hilma yang sedang duduk di kursi samping ranjang pasien.
Hilma hanya mengangguk. Dia masih betah menatap dan menggenggam tangan Rena yang terbarik lemas di atas ranjang.
Gibran menghela nafas pelan, lalu dia keluar dari ruang rawat Rena.
Setelah memastikan Gibran keluar, Hilma langsung menangis.
"Hiks.. Kenapa Bu Fanny tega sekali membiarkan Rena yang sedang sakit begini? Ibu macam apa dia yang tidak memperdulikan anaknya sendiri. Untungnya Rena memiliki Ayah seperti Pak Gibran, baik, penyayang, dan penyabar. Sungguh berat sekali cobaan anda Pak Gibran, istri seperti itu harusnya tidak pantas dipertahankan." Hilma menjadi emosi kala melihat wajah pucat Rena dan mengingat tentang ketidakpedulian Fanny.
Sementara di sekolah.
Nisa telah selesai mengajar, dia bergegas keluar dari ruangan dengan tergesa gesa.
"Bu Nisa!!" seru Yasmine yang kala itu melihat Nisa terburu-buru.
Nisa menghentikan langkah dan menoleh ke arah Yasmine.
"Bu Yasmine?" gumam Nisa kala Yasmine sudah berada di dekatnya.
"Bu, Bu Nisa kenapa kelihatannya buru-buru sekali?"
"Ini, Bu. Tadi saya dapat kabar dari Papa nya Rena, kalau Rena saat ini sedang berada di rumah sakit." ucap Nisa dengan nada khawatir.
"Apa? Rumah sakit!" pekik Yasmine ikut khawatir.
"Iya. Saya mau ke rumah sakit untuk melihat kondisi Rena,"
"Saya ikut ya, Bu?" Yasmine juga ingin tahu keadaan Rena.
__ADS_1
Nisa terdiam, tak lama kemudian dia mengangguk.
"Ayo, kita naik mobil saya aja. Kebetulan saya juga udah selesai ngajar,'' ajak Yasmine.
Mereka berdua langsung masuk ke dalam mobil Yasmine. Setelah itu, mobil pun langsung melaju ke rumah sakit.
•
•
•
Di sebuah apartemen.
"Sudah aku katakan, aku bisa membuatmu melayang setiap harinya.." sahut sang wanita dengan nafas yang terengah engah.
"Aku selalu ketagihan dengan permainan cantikmu ini.." pria itu melenguh sejadi-jadinya.
Permainan berakhir dengan erangan secara bersamaan yang keluar dari mulut keduanya. Tubuh polos mereka mengkilap dengan keringat yang mengucur di tubuh. Sang wanita ambruk di atas tubuh pria yang kala itu tengah mengatur nafas karena bibitnya telah keluar dan menyembur di rahim sang wanita.
Cup!
Satu kecupan di kening wanita itu.
"Terimakasih sayang, ini sangat membuatku candu." pria itu memeluk tubuh wanita yang saat ini sudah berada di sampingnya.
__ADS_1
"Ya ya.. Aku tau itu. Tapi aku sedikit cemburu dan kesal," ucap sang wanita sembari mencium wangi tubuh pria yang mendekapnya.
"Hm? Cemburu? Cemburu bagaimana?" pria itu menangkup pipi wanitanya.
"Jika kamu bersama dengan wanita itu. Bahkan kamu bilang kamu juga berhubungan badan dengannya, aku terkadang merasa jijik sendiri." sang wanita mengerucutkan bibirnya.
"Sayang.. Hei, tenanglah. Kamu jangan takut, setelah kita berhasil menguras hartanya, maka kita akan segera menikah dan pergi dari negara ini. Kamu tau bahwa dia sumber uang kita 'kan? Aku bisa sering bersamamu, dan kamu belanja ini itu juga uang dari wanita itu." pria tersebut mencoba menyakinkan kekasihnya.
"Janji setelah itu kamu menikahiku? Jangan menikahi wanita gila itu."
"Iya, aku janji.." sahut sang pria.
Mereka berdua berpelukan.
'*Baiklah, demi kebahagiaan dan masa depan aku rela membiarkan mu berhubungan dengan wanita yang menjadi ladang penghasilan kita*.' batin wanita itu licik.
•
•
•
**TBC.
HAPPY READING..
SEE YOU NEXT PART
__ADS_1
JANGAN LUPA UNTUK MENINGGALKAN JEJAK SERTA DUKUNGANNYA, TERIMAKASIH 😘**.