
Dua bulan kemudian.
Gibran tengah duduk di pangkalan, karena dirinya habis melayani pembeli.
"Permisi.." seru seorang wanita dengan nada suara yang lembut.
Gibran menoleh dan berdiri dari duduknya. Keningnya mengerut kala melihat siapa yang ada di depan gerobak nya.
"Selamat siang, Pak Gibran.." sapa wanita cantik dengan rambut panjang yang tergurai indah itu.
"Siang, Bu guru.."
"Em, saya mau pesan lontong nya lima bungkus, sempol dua puluh ribu, sama nasi uduk satu piring makan di sini ya, Pak.." ucap Yasmine.
"Baik, Bu guru. Tunggu sebentar, silahkan duduk dulu." Gibran mempersilakan dengan sopan.
"Terima kasih," Yasmine duduk tak jauh dari gerobak Gibran.
"Tumben Bu Yasmine siang-siang beli makannya di pinggir jalan begini?" tanya Gibran berbasa basi.
"Iya, Pak. Saya lagi mentraktir guru-guru lain, jadi saya berinisiatif untuk beli lontong di pangkalan Pak Gibran. Saya juga ketagihan makan masakan Pak Gibran," ucap Yasmine dengan senyum di wajahnya.
"Akh, Bu Yasmine bisa aja. Alhamdulillah kalau banyak pelanggan yang suka dengan masakan saya.." sahut Gibran sembari meracik pesanan Yasmine.
"Mas Gibran, pesan nasi uduk tiga bungkus dan lontong nya dua bungkus dong.." ucap seorang pembeli yang berada di depan gerobak Gibran.
"Duduk dulu ya, Bu? Sebentar, saya masih membuat pesanan Ibu Guru itu." Gibran menunjuk Yasmine.
Ibu itu langsung duduk di kursi yang tak jauh dari Yasmine.
"Mas, nasi uduk satu dong. Makan disini," ucap seorang pria muda yang berdiri di sebelah gerobak Gibran.
__ADS_1
"Bentar ya, Mas. Duduk dulu,"
Pria muda itu duduk di dekat sang ibu tadi.
Sebuah mobil Avanza berhenti tak jauh dari pangkalan jualan Gibran. Terlihat beberapa orang turun dari mobil itu dan menghampiri gerobak jualan Gibran.
"Mas, masih ada?" lelaki paruh baya bertanya saat sudah berada di sebelah gerobak jualan Gibran.
"Eh, masih Pak.." sahut Gibran sopan seraya terus meracik pesanan Yasmine yang tinggal dua bungkus lagi.
"Jualan apa aja?" tanya Bapak itu.
"Ada nasi uduk, mie pecal, dan gorengan Pak.."
Bapak itu melihat sebuah kertas yang tertempel di gerobak Gibran.
"Lontong nya habis?" tanya Bapak itu lagi.
"Ya udah deh, saya pesan nasi uduk dua, mie pecel dua, dan gorengan nya campur dua puluh ribu ya? Makan di sini aja," ujar Bapak itu memutuskan apa yang ingin dia makan.
"Baik, Pak. Silahkan duduk di sana," Gibran menunjuk sebuah karpet yang dia gelar di bawah pohon siapa tau ada pembeli bersama keluarganya yang ingin makan di tempat.
Bapak itu dan istri serta kedua anaknya duduk di karpet yang Gibran tunjuk.
Dari kejauhan, Yasmine melihat Gibran keteteran.
"Bu Yasmine, ini pesanan Ibu sudah selesai.." seru Gibran.
Yasmine berdiri dari duduknya dan berjalan menghampiri Gibran.
"Apa Pak Gibran kerepotan?" tanya Yasmine saat melihat Gibran yang kerepotan.
__ADS_1
"Oh, tidak terlalu Bu.." Gibran melempar senyum tipis pada Yasmine. Senyum yang mampu membuat wanita manapun klepek-klepek jika melihatnya.
"Boleh saya membantu?"
"Tidak, Bu guru. Tidak perlu, saya tidak ingin merepotkan Ibu.." Gibran masih meracik pesanan Ibu tadi.
"Tidak pa-pa, Pak Gibran. Menurut saya tidak merepotkan sama sekali.." Yasmine tersenyum manis.
"Em, saya akan buatkan pesanan mereka yang makan di sini dulu, nanti Bu guru bisa tolong antar kan ke pembeli.. Maaf sekali lagi jika saya merepotkan Ibu Guru,"
"Saya malah senang bisa membantu Pak Gibran."
Mereka berdua saling melempar senyuman.
Gibran dengan cekatan meracik pesanan pria muda dan Bapak tadi. Setelah itu, Yasmine mulai mengantarkan kepada pembeli.
Dari kejauhan, seorang wanita berjilbab menatap tidak suka ke arah Yasmine.
"Padahal tadi niatnya aku yang ingin membantu Mas Gibran. Tapi udah keduluan!!'' wanita berjilbab itu langsung pergi dari tempatnya berdiri.
•
•
•
**TBC
HAPPY READING..
SAMPAI JUMPA DI PART SELANJUTNYA..
__ADS_1
JANGAN LUPA BERIKAN **LIKE, VOTE, KOMEN, HADIAH, FAVORIT DAN TONTON IKLAN. TERIMAKASIH 😘