Jodoh Untuk Gibran

Jodoh Untuk Gibran
#Bab 44


__ADS_3

Fanny terus berlari hingga dia jatuh karena tersandung ranting pohon.


"Argh." Fanny meringis kesakitan.


Suara deru mobil membuat Fanny bingung hingga dia dengan cepat berdiri dan berlari kembali.


"Aku harus cepat sampai di mobil sebelum mereka berhasil menangkap ku." ucap Fanny dengan nafas yang ngos-ngosan.


DOR!


Tembakan di udara membuat Fanny semakin bingung, dia terus berlari dengan sekuat tenaga.


DOR!


"ARGH!!!!" Fanny berteriak panjang dan terjatuh ke tanah.


BRUK!


Darah segar mengalir dari betis Fanny.


"Argh... Sakit sekali" lirih Fanny memegangi kakinya.


Mobil polisi semakin mendekat hingga sampai ke hadapan Fanny.


Fanny mencoba untuk berdiri, tetapi dia gagal karena kakinya terkena tembakan.


Mobil polisi berhenti dan salah satu polisi turun untuk menangkap Fanny. Gibran juga Nisa ikut turun untuk melihat Fanny.


"LEPASKAN AKU!!!" teriak Fanny kencang kala polisi memegang kedua tangannya.


"Seharusnya anda jangan melarikan diri, Bu Fanny."


"AKU GAK MAU DI PENJARA! LEPAS!!!" bentak Fanny sembari berontak.


Gibran memapah Nisa untuk mendekat ke arah Fanny.

__ADS_1


"Mas, Mas Gibran tolong perintahkan padanya agar melepaskan ku..." Fanny memohon.


Gibran meludah. "Jangan mimpi kamu Fanny. Kamu tidak akan bisa lari dari hukuman, kamu akan di penjara."


Fanny menggeleng. "Gak! Aku gak mau di penjara!" polisi membawa tubuh Fanny ke arah mobil.


"Kamu harus minta maaf kepada Nisa!"


"Mas, sudahlah" Nisa berbicara lembut sembari memegang lengan Gibran.


Gibran menoleh ke arah Nisa. "Gak bisa gitu Nisa. Dia harus minta maaf karena sudah menyiksa dan hampir membunuh kamu."


Nisa hanya pasrah.


"Mimpi! Aku gak akan sudi minta maaf dengan perempuan sok suci itu." bentak Fanny kasar.


"Baiklah, kalau begitu selamat menikmati hukumanmu."


Polisi langsung menarik tangan Fanny ke arah mobil.


Gibran hanya menatap Fanny dari kejauhan.


"Semoga dengan ini Mbak Fanny bisa sadar dan tobat ya Mas?"


Gibran mengangguk. "Ayo, aku bawa motor dan letaknya gak jauh dari sini. Kita jalan aja ke sana ya?"


Nisa mengangguk lemah.


Gibran menuntun Nisa. "Pelan-pelan" ucap Gibran lembut.


Sementara mobil polisi, mobil itu telah pergi dengan membawa Fanny dan kedua anak buahnya.



__ADS_1




Satu tahun kemudian.


"Terimakasih banyak Pak, Bu... Semoga kalian berdua murah rezeki, panjang umur, lalu bayi kalian menjadi anak yang sholeh atau solehah. Dan untuk Rena, semoga dia menjadi anak yang pintar juga berbakti kepada orang tua," ucap sekarang wanita paruh baya yang memegang plastik kresek berisi nasi kotak.


"Amin... Terima kasih atas doanya ya Bu?" ucap Nisa lembut.


Wanita paruh baya itu mengangguk lalu permisi pergi dari hadapan Gibran dan Nisa.


Hari ini adalah tujuh bulanan kandungan Nisa sekaligus ulang tahun Rena. Maka dari itu, Gibran dan Nisa mengadakan syukuran kecil-kecil' an dengan membagikan nasi kotak pada semua warga sekitar atau pelanggan setia rumah makan 'Gani'. Ya, warung sederhana milik Gibran telah berganti nama menjadi rumah makan 'Gani' singkatan dari GIBRAN NISA.


Sementara di tempat lain, Fanny yang baru keluar dari penjara langsung berjalan menuju warung Gibran, dia sangat penasaran dengan kehidupan mantan suaminya sekaligus musuhnya yaitu Nisa.


"Bagaimana kabar mereka setelah memasukkan ku ke penjara?" gumam Fanny terus berjalan menyusuri toko-toko menuju warung sederhana milik Gibran.


Setelah jauh berjalan, akhirnya Fanny menemukan warung milik Gibran.






**TBC


HAPPY READING..


SEE YOU NEXT PART, BYE..


JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK DAN DUKUNGAN, TERIMAKASIH 😘😘**

__ADS_1


__ADS_2