Jodoh Untuk Gibran

Jodoh Untuk Gibran
#Bab 32


__ADS_3

Di apartemen milik Dion.


Fanny tengah mengemasi barang-barang nya untuk pergi dari apartemen itu. Dia menggeret koper keluar dari apartemen tersebut, tetapi saat ingin melangkah ke parkiran tiba-tiba kepala Fanny pusing.


"Akh, kepalaku.." Fanny memegangi kepalanya. Dunia seakan berputar hingga membuat Fanny hilang keseimbangan.


Brugh!


Fanny jatuh pingsan.


Beberapa orang yang kebetulan lewat menolong Fanny dan membawa ke rumah sakit.


Beberapa jam kemudian.


"Argh... Kepala ku sakit sekali," lirih Fanny dengan mata yang mengerjab pelan.


Fanny melihat ke sekeliling. "Dimana aku?" Fanny duduk di atas ranjang.


Mata Fanny terhenti di pergelangan tangannya, saat ini selang impus terpasang di tangan Fanny.


Ceklek!


Pintu ruangan terbuka.


"Selamat sore, Bu Fanny" sapa seorang Dokter yang kala itu masuk ke dalam ruangan Fanny.


Fanny hanya mengangguk. "Kenapa saya ada di sini, Dokter?"


"Bu Fanny tiba-tiba pingsan di parkiran apartemen, dan ada beberapa warga yang membawa Ibu kesini,"


"Ada apa dengan saya, Dok? Apa saya mengalami penyakit yang serius? Kepala saya sering pusing dan badan saya lemas,"

__ADS_1


Dokter telah selesai memeriksa keadaan Fanny. "Maaf jika saya harus menyampaikan kabar tidak meng'enakan ini, Bu"


"Katakan, Dok! Ada apa??"


"Dari hasil pemeriksaan Bu Fanny mengalami kanker"


JEDER!!!


Bagai tersambar petir di siang bolong ucapan Dokter itu bagi Fanny. Dengan cepat Fanny menggelengkan kepalanya.


"Kanker? Gak mungkin Dok, gak mungkin. Dokter pasti salah periksa, gak mungkin saya punya penyakit mengerikan seperti itu...."


"Bu, tapi pemeriksaan memang tidak salah. Ibu hanya bisa berdoa agar Allah mengangkat penyakit Ibu dan Ibu harus bisa sabar menghadapi semua ini," ucap Dokter menenangkan Fanny.


"ENGGAK! SAYA GAK MAU PENYAKITAN SEPERTI ITU, GAK MAU!" Fanny berteriak histeris.


"Bu, Bu Fanny sabar Bu" Dokter memegang kedua pundak Fanny.


"LEPAS! DOKTER PASTI SALAH PERIKSA, GAK MUNGKIN SAYA PUNYA PENYAKIT SEPERTI ITU, ARGHHH!!!!!!"


Dokter kewalahan menenangkan Fanny, dengan cepat Dokter mengambil suntik berisi obat bius dan menyuntikkan ke lengan Fanny. Fanny menjadi lemas dan tertidur.


Dokter menghela nafas dan meletakkan kepalanya Fanny di atas bantal. Setelah itu Dokter langsung pergi dari ruangan Fanny.


Di kontrakan Nisa.


Gibran dan Rena tengah berkunjung di rumah Nisa. Saat ini jam masih menunjukkan pukul tujuh malam.


"Nisa, saya ingin membicarakan sesuatu dengan kamu" ucap Gibran yang kala itu duduk di seberang kursi Nisa.


Mereka saat ini duduk di kursi yang berada di teras rumah.

__ADS_1


"Katakan, Mas. Ada apa?" Nisa menjawab sambil memperhatikan Rena yang mengerjakan tugas sekolah.


"Saya satu minggu lagi berencana untuk membuka warung."


"Apa modal Mas Gibran sudah cukup untuk membuka warung?" Nisa melirik Gibran sekilas.


"Alhamdulillah sudah. Maka dari itu saya kemari sekalian mau meminta bantuan agar kamu membantu saya di warung nanti,''


Nisa mendongak dan menatap wajah Gibran dengan jangka yang lama. "Bantuan di warung? Maksud Mas Gibran?" Nisa tidak paham.


''Iya, kamu 'kan pintar masak, terus rajin, bungkus-bungkus pasti kamu juga bisa 'kan?? Jadi saya mau kamu menolong saya dalam mengelola warung nanti,'' ucap Gibran tulus.


Nisa hanya diam saja, dia serasa seperti seorang istri yang menemani suaminya dalam merintis usaha.


"Baiklah, aku mau. Tapi sepulang mengajar ya, Mas? Karena kamu juga taukan kalau aku seorang guru." Nisa tersenyum.


"Tidak masalah, kamu juga pulang ngajar cepat 'kan?"


Nisa mengangguk. "Jam makan siang aku sudah pulang, ya semoga saja tidak ada rapat guru nanti.." Nisa tertawa pelan.


Gibran pun ikut tertawa mendengar ucapan Nisa.


"Bu guru, yang ini bagaimana caranya?" Rena menggoyangkan tangan Nisa.


Nisa menoleh dan mulai mengajari Rena mengerjakan tugas sekolah.


Nisa tidak mungkin meninggalkan tugasnya sebagai guru, karena dia belum menikah. Jika sudah menikah, maka Nisa akan meninggalkan profesinya sebagai guru dan lebih memilih menjadi Ibu rumah tangga yang baik. Ya, tergantung sang suami nanti bagaimana.


TBC


HAPPY READING..

__ADS_1


SEE YOU NEXT PART.


JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK SERTA DUKUNGANNYA, TERIMAKASIH 😘


__ADS_2