
Delapan bulan sudah Gibran menjalani hidup susah, jatuh-bangun dalam pekerjaannya, harus menjual mobil, rumah, serta harta benda lainnya.
Ceklek!
Pintu rumah terbuka.
Fanny berjalan melihat seisi rumah kecil nan sederhana miliknya dan Gibran saat ini.
"Mas, kamu yakin kita mau tinggal di tempat kayak gini?" raut wajah Fanny tidak suka.
"Iya. Fan. Lumayan ada tempat berteduh, daripada harus menumpang saudara itu lebih memalukan.." sahut Gibran sembari meletakkan barangnya di kamar.
"Huft!" Fanny menghela nafas kasar dan duduk di kursi.
Flashback off.
Gibran tengah mengantar sang penumpang. Ketika di tengah perjalanan pulang, seseorang menghubunginya.
📲"Halo, Mas. Mas kamu cepetan pulang deh, ada orang yang ngaku dari pihak bank mau menyita rumah kita. Cepetan pulang ya, Mas!" Fanny berbicara dengan nada gemetaran.
"Baik, aku akan segera pulang. Kamu tunggu di rumah, lima belas menit lagi aku sampai."
📲"Ya udah, cepetan ya Mas."
Sambungan langsung terputus.
"Maaf, Pak. Suami saya sebentar lagi pulang, Bapak-bapak berdua tunggu saja suami saya. Saya tidak tahu menahu soal hutang bank yang Bapak katakan." ucap Fanny pada kedua pria berjas itu.
Lima belas menit kemudian.
__ADS_1
Mobil Gibran telah sampai di halaman rumah. Dia segera turun dan bergegas menghampiri Fanny.
"Sayang," seru Gibran saat sudah berada di dekat Fanny.
"Mas! Akhirnya kamu pulang. Ini tuh, mereka berdua mau menyita rumah kita. Emang kamu beneran ada hutang di bank??"
Gibran hanya menghela nafas dan menatap ke arah dua orang berjas itu.
"Maaf, Pak. Saya terlambat membayarnya, tolong beri saya waktu beberapa hari lagi, Pak." ujar Gibran mengiba.
"Maaf, Pak Gibran. Kami tidak bisa lagi memberikan toleransi kepada Bapak. Kami sudah memberikan waktu selama dua minggu untuk pembayaran tunggakan milik Bapak, tetapi sampai sekarang belum Bapak bayar juga. Jadi mohon maaf, rumah ini harus kami sita." ujar salah satu pria berjas itu.
"Tapi, Pak—" ucapan Gibran terpotong.
"Sebaiknya Bapak cepat tinggalkan rumah ini, dan kemas'i pakaian Bapak dan juga Ibu."
Gibran bersedih dan menatap ke arah Fanny. "Ayo sayang, kita kemas'i pakaian dulu. Kita harus meninggalkan rumah ini," Gibran langsung melangkah masuk ke dalam rumah guna mengemasi pakaiannya.
"Mas! Kamu kok diam aja sih? Jawab aku dong, kenapa kamu—"
"DIAM LAH FAN!!!" Gibran membentak Fanny saat mereka sudah berada di dalam kamar.
"INI SEMUA KARENA KAMU, KARENA KAMU!" teriak Gibran dengan menekan ucapannya.
Fanny menautkan kedua alisnya. "Aku?" Fanny menunjuk dadanya.
"Iya kamu! Jika kamu tidak terlalu boros, maka kita pasti tidak akan seperti ini. Sudah berapa kali aku mengatakan bahwa kamu harus belajar mengerti situasi, jangan sama kan seperti aku menjadi Manager dulu dan kamu menjadi model!!!" urat leher Gibran menegang.
"Kenapa kamu malah menyalahkan aku, Mas! Kenapa?" Fanny berjalan mendekat ke arah Gibran. "Dulu setelah menikah aku masih ingin bekerja kamu tidak memperbolehkan nya, dan sekarang sudah begini kamu malah menyalahkan ku." Fanny merasa tidak terima.
__ADS_1
"Fan, kamu udah bersuami.. Jadi untuk apalagi kamu kerja jika sudah ada aku yang menafkahi?" suara Gibran mulai melembut.
"Tapi jadinya sekarang begini, kita hidup susah dan sebentar lagi bakalan jadi gelandangan."
"Kamu gak boleh ngomong gitu. Aku akan menjual mobil dan perhiasan kamu, untuk hidup kita ke depannya. Sebentar lagi anak kita juga akan lahir, pasti akan sangat banyak biaya.."
Fanny menggeleng. "Enggak, Mas. Aku gak mau perhiasan ku di jual. Gimana jika nanti aku kumpul-kumpul arisan bareng teman ku gak memakai perhiasan, pasti mereka akan mengejekku."
"Fan, sudahlah. Jangan menambah beban pikiran ku semakin banyak. Mulai sekarang stop kumpul atau arisan bareng teman-teman kamu itu. Ayo, cepat bantu aku membereskan barang-barang ini. Dari pada petugas bank itu yang menyeret kita keluar, lebih baik kita keluar sendiri dari rumah ini." Gibran memasukkan pakaian ke dalam koper, dan dibantu oleh Fanny yang mengutip perhiasannya.
'Hiks.. Selamat tinggal berlian, emas-emas ku.. A!!! Rasanya aku gak sanggup untuk melepas kalian.' batin Fanny sedih.
Flashback on.
Disinilah mereka sekarang, di rumah sederhana dan hanya memiliki dua kamar.
Fanny tidak bisa berkata apapun lagi, intinya setelah melahirkan dia akan bicara pada Gibran dan memutuskan untuk berkerja kembali.
•
•
•
•
**TBC
HAPPY READING..
__ADS_1
SAMPAI JUMPA DI PART SELANJUTNYA.
JANGAN LUPA UNTUK MENINGGALKAN JEJAK DAN DUKUNGANNYA, TERIMAKASIH 😘**.