
Keesokan siang nya, saat nya jam istirahat makan siang. Fanny memutuskan untuk makan siang di warung sederhana milik Gibran. Ya, saat ini Fanny telah bekerja di salah satu toko sembako sebagai kasir.
Fanny hanya perlu berjalan beberapa menit sja untuk sampai ke warung Gibran. Dia bisa bekerja di toko sembako itu juga karena bantuan Gibran.
Sesampainya di depan warung Gibran, Fanny melihat dulu keadaan di dalam warung.
"Tumben masih sepi?" gumam Fanny sembari menginjakkan kaki nya di lantai teras warung itu.
"Assalamualaikum," teriak Fanny dari luar.
"Waalaikumsalam" sahut Nisa keluar dari dapur. Nisa tersenyum tipis kala melihat siapa yang datang. "Mbak Fanny? Silahkan masuk Mbak." ucap Nisa sopan.
'Cih! Sok baik, jijik banget gue liat sikapnya itu'' batin Fanny kesal, dia melangkahkan kaki masuk ke dalam warung.
Fanny duduk di kursi, kebetulan hanya dialah yang saatnya ini makan di warung itu.
"Mbak Fanny pasti mau makan siang ya? Makan apa Mbak? Biar saya siapkan" Nisa tersenyum ramah.
"Em... Buatin soto aja ya? Sama nasi putih terus kasih tempe orek"
Nisa mengangguk dan mulai mempersiapkan pesanan Fanny.
Beberapa menit kemudian, Nisa kembali dengan membawa talam berisi nasi beserta tempe orek dan soto di mangkuk.
Tetapi baru juga ingin meletakkan mangkuk berisi soto panas di atas meja Fanny, tiba-tiba mangkuk itu mengguling dan kuah soto pun tumpah mengenai kaki Fanny.
"AWWW...." teriak Fanny merasakan panas dikakinya.
__ADS_1
"Masya'allah, Mbak Fanny!!" Nisa berseru kaget kala soto itu tumpah dan mengenai kaki Fanny.
"Argh.. Panas banget kaki ku" Fanny mengibaskan kakinya yang sedikit melepuh.
"Mbak, ya ampun maaf Mbak! Saya gak sengaja," Nisa berjongkok ingin memeriksa keadaan Fanny, tetapi Fanny dengan cepat mengibas tangan Nisa kasar.
"Jangan sentuh aku! Kamu pasti sengaja 'kan Nisa? Iya 'kan!" bentak Fanny marah.
Nisa menggeleng dan memeluk talam.
Gibran yang baru pulang dari membeli plastik langsung berlari masuk ke dalam warung.
"Ada apa ini?" Gibran langsung bertanya karena raut wajah Nisa seperti orang ketakutan.
Fanny menoleh ke arah Gibran. "Lihat lah kelakuan calon istrimu itu, Mas. Dia menumpahkan kuah soto di kaki ku!" Fanny menunjuk kakinya.
"Gak usah sok polos deh Nisa! Kamu cemburukan karena aku tiap hari datang ke warung ini, iya 'kan?" Fanny tetap nyolot.
"Mbak, Mbak Fanny bicara apa? Untuk apa saya cemburu? Saya bener-bener gak sengaja, tadi itu tiba-tiba seperti ada yang menyenggol tangan saya dan mangkuk yang saya pegang miring lalu kuahnya tumpah mengenai kaki Mbak Fanny." ucap Nisa jujur.
"Oh.. Jadi maksud kamu aku yang nyenggol tangan kamu supaya kuah panas itu tumpah, iya? Mas, lihatlah! Dia udah salah, malah memfitnah aku lagi. Masa aku sengaja numpahin kuah itu agar kena kaki ku. Gak masuk akal banget" titah Fanny mencoba terus menyudutkan Nisa.
Nisa menatap Gibran yang hanya diam saja. Dia berjalan menghampiri Gibran dengan tatapan sendu.
"Mas, aku gak bohong. Tolong percayalah Mas aku mohon" lirih Nisa dengan memegang pergelangan tangan Gibran.
Gibran menoleh menatap Nisa dengan tatapan datar. Dia menarik tangan Nisa ke arah dapur. Sementara Fanny, dia tersenyum senang kala melihat wajah Gibran yang terlihat dingin.
__ADS_1
'Semoga aja rencana ku kali ini berhasil , untuk membuat Mas Gibran perlahan menjauhi Nisa.' Fanny tersenyum puas dan berdiri dari duduknya.
"MAS!! JAM MAKAN SIANG KU SUDAH SELESAI, AKU BALIK KE TOKO DULU!!!" teriak Fanny dari tempatnya berdiri.
"YA!!!" sahut Gibran berteriak dari arah dapur.
Dengan tertatih, Fanny berjalan keluar dari warung Gibran.
Sesampainya di luar. "Huft! Semoga aja Mas Gibran memarahi Nisa dan percaya pada ucapan ku. Ssh!! Perih banget lagi nih kaki," Fanny melihat kakinya yang memerah dan melepuh. Dia kembali berjalan menuju toko.
Sepulang dari bekerja Fanny akan membeli salep agar kakinya tidak semakin melepuh.
•
•
•
•
**TBC
HAPPY READING..
SEE YOU NEXT PART.
JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK SERTA DUKUNGANNYA, TERIMAKASIH 😘**
__ADS_1