
Keesokan paginya.
Nisa terbangun dari pingsannya.
"Argh..." Nisa memegangi kepalanya yang terasa pusing.
Dari kejauhan Nisa melihat dua orang pria berbadan besar berjalan ke arahnya dengan Fanny yang ada di depan mereka.
Fanny tersenyum remeh kala sudah berada di depan Nisa.
"Mau apa lagi kalian? Jika kalian ingin aku mati maka cepat bunuh aku. Jangan menyiksaku seperti ini" ucap Nisa lirih dengan mata yang masih berkunang-kunang.
"Gak semudah itu, Khairunnisa. Memang ini yang gue inginkan, menyiksa elo sebelum lo mati!" Fanny mencengkram dagu Nisa lalu menghempaskan kasar.
Nisa hanya diam saja, dia sangat lemas sekali.
Fanny mundur sejenak lalu dia memberi kode pada suruhannya agar mendekat ke arah Nisa. Fanny menoleh ke sana-sini, dia tersenyum kala melihat sebuah besi yang tidak terlalu panjang. Fanny berjalan mengambil besi itu dan memberikannya pada salah satu pesuruhnya.
"Bunuh dia!" perintah Fanny tegas
Pria itu mengangkat besi tersebut dan...
DOR!!!
Suara tembakan terdengar di udara.
Kedua pria berbadan besar itu menoleh begitupun dengan Fanny.
"Polisi!" seru pria itu melepaskan besi yang ada ditangannya hingga berbunyi dentingan.
"JANGAN BERGERAK!" seru polisi itu dengan memberikan tembakan selanjutnya di udara.
Kedua pria itu diam di tempat dengan kedua tangan berada di atas kepala. Dua orang polisi berjalan ke arah Nisa dan kedua pria tersebut.
"NISA!!!" seru Gibran berlari ke arah Nisa.
__ADS_1
Nisa tersenyum syukur.
Gibran segera membuka tali yang mengikat tangan Nisa.
"Sayang..." Gibran memeluk tubuh calon istrinya itu dari samping.
"Mas, akhirnya kamu datang tepat waktu" lirih Nisa lemah.
Gibran melepaskan pelukan dan menatap wajah pucat Nisa. Terlihat bekas robekan di sudut bibir milik Nisa.
"Apa mereka menyakitimu?"
Nisa mengangguk.
Gibran mengepalkan kedua tangannya dan berjalan cepat ke arah dua pria berbadan besar yang tak jauh dari tempatnya berdiri.
BUGH
BUGH
"Tenang, Pak. Sabar, biar kami pihak berwajib yang akan memberikan hukuman pada mereka" jelas polisi itu.
Gibran menurunkan tangannya dan menatap pria bertindik dengan tatapan tajam. "Siapa yang menyuruh kalian menyakiti dan menculik calon istriku?"
Kedua pria itu hanya saling pandang.
"JAWAB!" bentak Gibran kuat hingga kedua pria tersebut terlonjak kaget.
"F..Fanny" ucap pria bertindik gugup.
Mata Gibran semakin memerah. "Fanny" Gibran mengepalkan kedua tangannya. "Dimana perempuan ular itu?"
"Dia, dia sudah lari. Mungkin belum jauh dari tempat ini"
"Sial! Kenapa aku tidak melihatnya?" gumam Gibran merutuki kelalaiannya. "Apa kalian bawa mobil?"
__ADS_1
Kedua pria itu mengangguk. "Mobil kami berada di ujung jalan masuk gedung ini"
"Ayo pak! Kita harus menangkap perempuan itu sebelum dia jauh"
Gibran menghampiri Nisa, dia memutuskan untuk menggendong tubuh Nisa karena Nisa terlihat lemas. Kedua polisi pun mengikuti Gibran dari belakang dengan memegang tangan kedua pria berbadan besar itu.
Sementara Fanny, dia terus berlari ke arah mobil.
"Gue harus segera sampai di mobil sebelum mereka mengejar gue"
"Aw..." Fanny terjatuh dan terdengar suara mobil yang tak jauh dari pandangannya.
"Polisi." Fanny bergegas berdiri dan berlari kembali.
DOR!
Suara pistol peringatan terdengar di udara.
Fanny ketakutan dan terus berlari.
DOR!
•
•
•
•
**TBC
HAPPY READING.
SEE YOU NEXT PART BYE..
__ADS_1
JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK DAN DUKUNGANNYA, TERIMA KASIH 😘**