
Fanny menatap Gibran dengan kesal. "Mas, Kamu—" ucapan Fanny terpotong kala dirinya ingin memukul dada Gibran, tiba-tiba Fanny langsung jatuh pingsan.
Gibran dengan cepat menangkap tubuh Fanny, hingga tidak sempat jatuh ke lantai.
"Fan, Fanny bangun! Sayang!" Gibran menepuk pelan pipi Fanny.
Tanpa ba-bi-bu Gibran langsung membopong tubuh Fanny keluar dari kamar menuju mobil. Setelah itu mobil langsung melaju menuju rumah sakit.
Beberapa menit kemudian, mobil Gibran telah sampai di rumah sakit. Gibran segera turun masih dengan membopong Fanny.
"Dok! Dokter!!" Gibran berteriak saat dirinya sudah berada di dalam rumah sakit.
Suster segera menghampiri Gibran.
"Ada yang bisa saya bantu, Pak?" tanya suster itu sopan.
"Panggilkan Dokter, istri saya pingsan." Gibran bicara dengan tergesa-gesa.
"Baik, mari ikut saya."
Gibran dan suster berjalan cepat ke arah ruangan Dokter.
Setelah itu, Fanny langsung di letakkan di atas brangkar. Semetara Dokter, beliau memeriksa keadaan Fanny.
"Bagaimana keadaan istri saya, Dok?" Gibran yang tadi khawatir langsung bertanya pada Dokter kala sang Dokter telah selsai memeriksa Fanny.
"Selamat ya, Pak." Dokter mengulurkan tangan kanannya.
Gibran mengerutkan dahi. "Dok, istri saya sedang sakit dan Dokter bilang selamat? Apa-apaan ini!"
Dokter tersenyum masih dengan tangan yang terulur. "Selamat karena Bapak akan segera menjadi Ayah. Istri Bapak sedang hamil, mungkin beliau pingsan karena banyak pikiran." jelas Dokter itu
__ADS_1
Gibran melongo dan terdiam mencoba mencerna ucapan Dokter.
"Apa Bapak tidak ingin menjabat tangan saya?" Dokter membuyarkan lamunan Gibran.
"Eh," Gibran terkejut dan langsung menjabat tangan Dokter. "Benarkah istri saya hamil, Dok?" Gibran bertanya kembali sembari melepaskan jabatan tangan.
"Tentu, Pak. Mana mungkin saya berbohong. Dari hasil USG, kandungan istri Bapak sudah empat minggu "
Gibran tersenyum ke arah ranjang.
"Argh!!" terlihat Fanny telah sadar dan memegang kepalanya yang terasa pusing.
"Sayang!" Gibran langsung beranjak dari duduknya dan berjalan ke arah Fanny.
"Sayang, apa yang kamu rasakan? Dan kamu pengen apa? Makan apa, atau jalan-jalan kemana?" Gibran langsung bertanya antusias.
"Mas, kamu ini kenapa sih? Kok tiba-tiba nanya kayak gitu. Kepala ku pusing nih,"
"Sayang, Dokter bilang kamu sedang hamil." Gibran memegang kedua pundak Fanny.
Gibran mengangguk, dia terus menatap wajah Fanny yang rautnya terlihat biasa saja. "Apa kamu tidak bahagia, Fan?"
Fanny menatap wajah Gibran. "Tentu saja aku sangat bahagia, Mas.." Fanny memeluk tubuh Gibran.
Gibran pun membalas pelukan Fanny dengan erat.
'Jika aku hamil, maka aku gak bisa kerja jadi model lagi dong? Huft.' batin Fanny putus asa.
"Kita pulang sekarang? Kalau kamu pengen apa-apa bilang aja sama aku. Aku pasti bakalan nurutin kemauan kamu," ujar Gibran tulus.
"Benarkah?" Fanny mendongak menatap Gibran.
__ADS_1
Gibran mengangguk sembari mengelus lembut kepala Fanny.
"Baiklah. Aku hari ini ingin ke Mall, mau shopping,"
"Tapi ini udah mau malam sayang, kalau tunggu aku besok ada libur aja gimana? Atau gak kamu belanja online.." bujuk Gibran.
Fanny melepaskan pelukannya lada tubuh Gibran. Terlihat gelengan kepala dari Fanny. "Aku mau nya sekarang." permintaan Fanny tidak dapat terbantahkan.
"Huft! Ya sudah, kita pergi ke Mall dan shopping." akhirnya Gibran memilih mengalah demi istri dan calon anaknya.
Fanny tersenyum lebar. Dengan perlahan, dia turun dari ranjang. Gibran pun membantu Fanny berjalan.
"Dokter, kami permisi dulu. Terimakasih," ucap Gibran sopan.
Mereka berdua keluar dari ruangan Dokter, setelah Dokter memberikan resep vitamin yang harus di tebus lewat apotik.
•
•
•
•
FANNY ADELIA 🔥
**TBC
HAPPY READING..
__ADS_1
SEE YOU NEXT TOMORROW..
JANGAN LUPA UNTUK BERIKAN DUKUNGAN DAN TINGGALKAN KOMENTAR KALIAN.. TERIMAKASIH 😘**