Jodoh Untuk Gibran

Jodoh Untuk Gibran
#Bab 23


__ADS_3

Nisa dan Yasmine telah sampai di rumah sakit. Mereka segera bergegas untuk mencari ruang rawat milik Rena.


"Nah, ini ruangannya." Nisa menghentikan langkah sembari menunjuk ke gang ruang rawat yang bertuliskan Anggrek.


Yasmine dan Nisa berjalan cepat menuju ruangan Rena.


Ceklek!


Pintu ruang rawat terbuka.


Terlihat Hilma menoleh ke arah pintu, keningnya mengerut ketika melihat dua wanita yang berprofesi sebagai guru itu berjalan ke arah ranjang Rena.


"Assalamualaikum, Mbak." sapa Nisa sopan.


"Wa'alaikumsalam.." sahut Hilma.


Nisa segera duduk di pinggir ranjang Rena. Dia menatap wajah Rena dan menggenggam tangan Rena.


"Apa yang Dokter katakan tentang keadaan Rena, Mbak? Apa dia baik-baik saja?" tanya Nisa khawatir.


"Dokter mengatakan bahwa Rena terkena gejala DBD." sahut Hilma.


"DBD?" seru Yasmine


Hilma mengangguk. "Masih gejala, untung saja Rena cepat di tangani Dokter."


"Apa badannya masih panas, Bu?" tanya Yasmine pada Nisa.


Nisa memegang kepala Rena. "Tidak terlalu, mungkin Dokter sudah memberi obat pada Rena,"


Beberapa menit kemudian.


Gibran masuk ke dalam ruangan sang putri. Saat sudah di dalam, dirinya terkejut ketika melihat tiga wanita yang sedang menjaga putrinya itu.


"Nisa!" seru Gibran sembari berjalan ke arah ranjang.


"Mas, setelah mendapat telepon dari kamu aku langsung datang ke sini. Aku khawatir dengan keadaan Rena," Nisa menoleh ke arah Gibran.


"Maaf jika sudah merepotkan dan membuat mu khawatir," sahut Gibran ketika dirinya telah dekat dengan ketiga wanita cantik itu.


"Nisa, ini siapa?" Gibran menunjuk Yasmine.

__ADS_1


"Oh, ini Bu Yasmine. Guru Rena juga di sekolah,"


"Halo, Pak. Saya Yasmine," ucap Yasmine memperkenalkan diri sembari menunduk hormat.


"Saya Gibran, Papa nya Rena.."


'Kenapa mereka berdua harus datang kesini sih?' batin Hilma tidak terlalu suka dengan kedatangan dua guru Rena itu. Entah kenapa perasaan nya tidak rela jika melihat orang lain yang begitu perhatian dengan Rena dan Gibran.


"Kenapa Fanny tega sekali meninggalkan Rena kerja, sementara keadaan Rena sakit begini, Mas?"


"Entahlah, Nis. Aku juga tidak tahu dengan cara berpikir Fanny. Dia hanya mempedulikan ego dan kesenangannya sendiri." Gibran bersedih jika mengingat Fanny.


"Pak Gibran yang sabar ya? Semoga pintu hati Bu Fanny bisa terbuka, dan dia tidak lagi mementingkan kepentingan pribadi nya aja." balas Yasmine yang ikut bicara.


"Terimakasih atas doa nya Bu Yasmine,"


"Oh ya, saya tadi beli nasi bungkus cuma dua, saya gak tau kalau kamu dan Bu Yasmine mau datang kemari."


"Gak pa-pa, Mas. Kami juga gak lapar kok, ya kan Bu?" Nisa menatap Yasmine sejenak.


Yasmine hanya mengangguk.


"Em, Pak Gibran. Berhubung disini sudah ada Bu Yasmine dan Bu Nisa, saya mau pamit pulang." ucap Hilma.


"Saya ada urusan sebentar," alasan yang Hilma lontarkan. Padahal dia tidak ingin berlama-lama di ruangan itu karena suasana hatinya yang tiba-tiba berubah menjadi terbakar.


"Nasi bungkusnya gimana, Hilma? Kamu bawa pulang aja, kamu 'kan dari pagi udah bantuin saya jaga Rena."


Hilma menggeleng. "Berikan saja pada Bu Yasmine atau Bu Nisa, Pak. Saya permisi, assalamualaikum.."


"Waalaikumsalam," sahut mereka bertiga serempak.


Hilma keluar dari ruangan Rena, dia langsung pergi dari depan ruangan itu untuk pulang ke rumah.





Di apartemen Dion.

__ADS_1


"Kamu kenapa lama banget sih?" Fanny menghela nafas kesal.


"Maaf, sayang.. Aku tadi ada urusan sebentar," jawab Dion berbohong.


'urusan ranjang.' batin Dion.


"Aku kangen sama kamu," Fanny memeluk tubuh Dion dengan manja.


"Ya udah, ini 'kan kita udah ketemu." Dion mengelus kepala Fanny lembut.


Fanny menegakkan badan. Dia merogoh tas jinjing yang harganya sangat fantastis itu, lalu Fanny mengeluarkan amplop berwarna cokelat.


"Dion, ini separuh gaji ku. Kamu bisa menyimpannya untuk kehidupan kita setelah menikah."


Dion menerima amplop itu. Dia tersenyum jahat dalam hati. "Baiklah, aku akan menyimpannya."


Fanny memeluk badan Dion lagi. "Aku sudah mengurus surat cerai, setelah suratnya jadi aku akan memberikan pada Mas Gibran dan kita berdua bisa langsung menikah."


"Ide yang bagus, aku setuju. Aku juga udah gak sabar pengen nikah sama kamu," Dion memeluk tubuh Fanny erat.


Mereka saling berpelukan dengan pikiran dan rencana masing-masing.





•.


TBC.



KHAIRUNISA (NISA)


HAPPY READING..


SAMPAI JUMPA DI PART SELANJUTNYA..


JANGAN LUPA UNTUK MENINGGALKAN JEJAK SERTA KOMENTARNYA 🤗.

__ADS_1


TERIMAKASIH 😘


__ADS_2