
Fanny masih memikirkan tentang apa yang Dion katakan tadi.
"Gak mungkin Mas Gibran iman nya selemah itu. Aku hapal bagaimana sifatnya,"
"Assalamualaikum..." terdengar suara Gibran di depan teras.
"Wa'alaikumsalam!!!" teriak Fanny dari dalam rumah. Dia bergegas untuk menghampiri Gibran.
''Eh, Mas. Kamu udah pulang?" Fanny mencium takzim punggung tangan Gibran.
"Iya. Oh ya sayang, alhamdulillah hari pertama jualan dagangan ku laris manis. Tuh kamu lihat, habis bersih semuanya.." Gibran menunjuk gerobak nya dengan hati bahagia.
"Wah.. Alhamdulillah ya, Mas." sahut Fanny.
"Ini uang hasil jualan aku hari ini," Gibran memberikan tas berisi uang jualan kepada Fanny.
"Jangan lupa untuk di tabung ya, Fan. Dan modal, nanti biar aku sisihkan." ucap Gibran sembari mendudukkan diri di kursi.
"Kamu mandi dulu, Mas. Aku akan menyiapkan makan malam," Fanny segera masuk ke dalam rumah, dan di susul oleh Gibran.
Malam hari.
"Gimana sayang? Lumayan 'kan hasilnya?" Gibran menoleh ke arah Fanny yang tengah berbaring di sebelahnya.
Fanny mengangguk. "Iya, Mas. Kalau tiap hari kayak gini, lumayan juga pendapatan kita setiap bulannya."
"Kamu doain aja, yang penting juga kamu jangan boros." Gibran mengelus kepala Fanny, karena saat ini kepala Fanny sedang berada di dadanya.
"Mas, aku ingin membicarakan sesuatu." Fanny mendongak guna melihat wajah Gibran.
__ADS_1
"Katakan,"
"Setelah melahirkan, aku memutuskan untuk bekerja lagi." ucap Fanny.
Sontak Gibran terkejut dan menghentikan usapan tangannya pada kepala Fanny. Gibran menangkup wajah Fanny.
"Kerja? Terus anak kita gimana?"
"Kita 'kan bisa cari baby sitter, Mas. Gaji ku sebagai model 'kan juga besar. Jadi gak perlu risau untuk gaji baby sitter nanti." ucap Fanny enteng.
"Aku lebih suka kamu yang jaga anak kita, Fan. Bukan orang lain!"
"Mas! Seharusnya kamu senang dong karena aku mau bantu kamu untuk kerja. Ini juga demi masa depan anak kita, kalau cuma ngandelin hasil jualan kamu yang gak seberapa itu aku gak yakin dengan masa depan sekolah anak kita." Fanny terduduk.
"Fan, aku ini adalah tulang punggung, mencari nafkah adalah tugas ku, meskipun penghasilan ku gak begitu banyak tapi 'kan alhamdulillah bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari kita. Siapa tahu rezeki anak kita nanti aku bisa membuka warung atau rumah makan."
"Halah, mimpi!" sahut Fanny ketus.
"Aku pengen hidup ku seperti dulu, Mas.. Shopping, liburan, arisan! Aku kangen sama semua kegiatan itu, kamu harusnya ngertiin aku juga dong," Fanny mengerucutkan bibirnya.
"Huft! Terserah kamu deh." Gibran menghela nafas berat dan membaringkan badannya. Kemudian dia tertidur dengan memunggungi Fanny.
Fanny hanya berdecak kesal melihat Gibran yang seperti itu. Dia memilih tidur dengan membelakangi Gibran juga.
•
•
•
__ADS_1
Enam tahun kemudian.
"Rena!!!" teriak seorang wanita cantik dengan memakai jilbab memanggil seorang gadis kecil berusia enam tahun yang sedang bermain.
Gadis kecil itu menoleh.
"Sayang!! Udah sore, waktunya mandi!!" teriak sang wanita.
"Iya, Mbak!! Tunggu sebentar lagi!" teriak sang gadis.
Wanita yang di panggil Mbak pun berjalan menghampiri Rena.
"Lagi main apa sih? Kok kelihatannya sibuk banget?" ujar sang wanita kepada Rena
"Rena lagi main masakan, Mbak. Mbak Hilma mau ikut?" ucap Rena pada Hilma.
"Masak apa coba? Kita mandi dulu yuk? Sebentar lagi Papa sama Mama Rena pulang loh. Ntar kalo Rena belum mandi, Mbak Hilma yang dimarahin. Memang Rena mau kalau Mbak Hilma dimarahin sama Mama??" ujar Hilma dengan nada sedih.
Rena menatap Hilma. "Ayo kita mandi.." Rena berdiri dan berjalan masuk ke dalam rumah meninggalkan Hilma.
Hilma tersenyum dan menyusul Rena masuk ke dalam rumah.
•
•
•
**TBC.
__ADS_1
HAPPY READING 🌹
SEE YOU NEXT PART BYE.JANGAN LUPA UNTUK MENINGGALKAN JEJAK DAN DUKUNGANNYA ,TERIMAKASIH 😘**