Jodohku Cinta Monyetku Di Masa MTs

Jodohku Cinta Monyetku Di Masa MTs
Bingung Dengan Pilihannya (eps 34)


__ADS_3

"Iya-iya Kak, kayak Kak Maryam yang bingung milih siapa kan?", ucap Amel.


"Amel", ucap Shinta tanda bahwa ia menegur sang adik yang bilang begitu. Sedangkan Dosen Hafidz bingung akan hal itu dan mengangkat satu alis tanda ia butuh jawaban.


"Jangan dengarkan Amel. Biasa Amel itu suka ngawur", ucap Maryam yang tahu maksud Dosen Hafidz kalau butuh jawaban.


"Amel kamu jadi pesan apa?", ucap Maryam mengalihkan perihal tersebut.


"Cappucino sama seblak sajalah", ucap Amel dengan pasrah.


Kemudian Dosen Hafidz mengulang pesanan yang mereka pesan tersebut. Setelah kepergian pegawai cafe Dosen Hafidz malah mempertanyakan kembali kenapa tadi bisa telat.


"Tadi kamu benar-benar tidak apa-apakan?", tanya Dosen Hafidz.


"Aku nggak apa-apa", ucap Maryam.


"Sungguh?", ucap Dosen Hafidz.


"Iya benar", ucap Maryam.


"Kalau tidak percaya tanya saja sama adik-adikku", lanjut Maryam.


Dosen Hafidz menatap kedua adik Maryam, sebagai tanda bertanya apakah benar yang dibilang sang kakaknya itu. Dan ya salah satu adiknya menjawab.


"Benar yang dibilang Kakak, tadi Kakak hampir menabrak nenek-nenek yang mau menyebrang, untung saja tidak terjadi apa-apa. Cuman tadi lama itu mengantarkan nenek tersebut pulang ke rumah dulu", penjelasan Amel adik Maryam.


"Hah.. Kog bisa hampir kecelakaan. Kamu mikir apa dek? Tapi kamu nggak apa-apakan?", khawatir Dosen Hafidz lagi dan lagi.


"Kenapa kamu cerita Amel", ucap Maryam sambil menyenggol lengan Amel.


"Hehe maaf Kak. Kelepasan", ucap Amel sambil menutup mulutnya.


"Alhamdulillah tidak kenapa-kenapa dan tidak ada yang aku pikirkan", ucap Maryam.

__ADS_1


"Benar?", sidik Dosen Hafidz.


"Emm.. Mas ngajak ketemu mau bicara perihal apa ya?", ucap Maryam yang mengalihkan pertanyaan tersebut.


"Ini mau menunjukkan cincin. Kamu milih model yang mana? Soalnya mas bingung. Modelnya bagus-bagus semua si", ucap Dosen Hafidz.


Maryam malah melamun. Pasalnya ia bingung. Bukan perihal model cincin yang dibawa dosen Hafidz, melainkan pilihan dia. Apakah benar pilihannya. Pilihan untuk menjadi suaminya, imamnya dan ayah dari anak-anaknya.


"Dek.. Dek Maryam", Dosen Hafidz memanggil Maryam sambil mengibaskan tangannya. Karena yang dilihat itu Maryam sedang melamun. Dan faktanya benar, Maryam sedang melamun. Dan sama sekali Maryam mendengar panggilan Dosen Hafidz. Berhubung Maryam tidak mendengarnya maka dari itu Amel selaku orang yang dekat dengan Maryam menyentuh tangan Maryam agar ia sadar dengan hal yang di lamunkan tersebut. Akhirnya membuahkan hasil, Maryam sadar juga.


"Oh iya Mas apa? Maaf", ucap Maryam.


"Kamu mikir apa sih Dek?", tanya Dosen Hafidz.


"Emmm.. Tidak. Hanya mikir nenek tadi. Khawatir saja kalau beliau kenapa-napa", ucap Maryam penuh dengan alasan.


"Alasan", ucap Shinta didekat telinga Maryam, sedangkan Maryam menginjak kakinya Shinta. Si pemilik kaki hanya menggigit giginya agar masalah tidak semakin ribet.


"Owalah. Sudahlah jangan terlalu khawatir, waktu kamu tinggal tadi keadaannya baik-baik saja kan?", ucap Dosen Hafidz.


"Mas Hafidz tadi tanya apa ya, maaf boleh diulang pertanyaan tadi", lanjut Maryam.


"Iya.. Apa sih yang gak boleh buat kamu. Tadi itu Mas mau menunjukkan cincin. Kamu milih model yang mana? Soalnya Mas bingung. Modelnya bagus-bagus semua si", ucap Dosen Hafidz.


Pasalnya Maryam juga bingung milih yang mana, Maryam tidak suka semuanya. Bukan modelnya melainkan orangnya. Maryam ragu dengan pilihannya.


"Bingung Mas", ucap Maryam. Satu kata yang mewakili kegunduhan dalam hatinya. Dan kedua adiknya tahu betul akan kegunduhan kakaknya, yang bingung bukan perihal model cincinnya akan tetapi pilihannya.


"Coba dipakai dulu Dek, kira-kira suka yang mana?", ucap Dosen Hafidz.


Maryam pun menuruti perintah Dosen Zainal dengan memakai cincin tersebut. Dan pilihan itu dijatuhkan dengan cincin yang simpel menurutnya. Pilihan yang asal dan tidak terniat.


"Ini Mas, kelihatan simpel dan elegan", ucap Maryam.

__ADS_1


"Ternyata kamu lebih suka yang simpel ya, dibandingkan yang mewah", ucap Dosen Hafidz yang baru menahu tentang kesukaan Maryam yang menyukai perihal barang-barang simpel.


"Hehe iya", ucap Maryam.


Prov Indah dan Mela


Ttok.. tok.. tok... Indah mengetuk pintu rumah Maryam dan Mbak Icha lah yang keluar


"Assalamualaikum Mbak Icha", ucap Indah kemudian dilanjut dengan berjabat tangan dan diikuti Mela.


"Waalaikumsalam. Mau bertemu Maryam ya?", tanya Mbak Icha yang sudah tahu maksud kedatangan teman-teman Maryam.


"Hehe iya Mbak. Maryam nya ada kan Mbak?", ucap Indah.


"Sayang sekali, tadi Maryam baru saja keluar", ucap Mbak Icha.


"Kemana ya Mbak?", tanya Indah lagi.


"Tidak tahu ya, tadi si saya dengar mau bertemu dengan Hafidz, tapi Mbak tidak tahu tempatnya dimana", penjelasan Mbak Icha.


"Dosen Hafidz?", ucap Mela. Memastikan bahwa yang dimaksud Mbak Icha adalah Dosen Hafidz.


"Iya benar, Dosen Hafidz dosen kamu Mela", ucap Mbak Icha.


"Ya udah Mbak, terimakasih atas informasinya. Kami pamit dulu ya Mbak. Assalamualaikum", ucap Indah dilanjutkan berjabat tangan.


"Iya hati-hati. Waalaikumsalam", ucap Mbak Icha. Kemudian Mbak Icha masuk kedalam rumah lagi.


Sedangkan Indah dan Mela masuk mobil dan saling bertanya satu sama lainnya.


"Kira-kira kemana ya mereka pergi", itulah kata-kata yang keluar dari mulut Mela.


.

__ADS_1


Jangan lupa like dan vote biar saya makin semangat update nya, its ok👌. Dan terimakasih udah mampir di sini. Ikuti kelanjutannya ya😊, Selamat membaca🤗


__ADS_2