
"Aku yakin, kamu pasti sudah pernah istikhoroh kan?", lanjut Indah.
Maryam hanya menganggukkan kepalanya tanda iya.
"Nah pasti udah ada jawabannya kan?", tanya Indah.
Lagi dan lagi Maryam hanya menganggukkan kepalanya.
"Jawabannya apa kalo boleh aku tahu", ucap Indah.
Maryam diam dan bingung mau jawab apa. Seperti biasa Maryam takut menyakiti hati sahabatnya.
"Jangan khawatir hatiku sekuat baja kog, aku mau tau jawabannya. Kita kan sahabat, tadi juga udah janji kalo tidak ada perlu yang disembunyikan lagi", ucap Indah untuk menyakinkan Maryam.
"Iya.. Jawabannya adalah taman waktu MTs itu jawaban istikharah pertama. Yang kedua jawabannya seragam MTs. Dan yang terakhir adalah", ucap Maryam yang nanggung banget banget.
"Adalah siapa?", tanya Indah.
"Adalah...", ucap Maryam yang masih nanggung ya bestie.
"Adalah Zainal", ucap Indah.
Maryam hanya diam seribu bahasa. Indah mengulang kembali jawabannya.
"Zainal kan?", tanya Indah.
"Emm... Iya Zain orangnya", ucap Maryam sambil menunduk kebawah.
"Tuh kan benar, berarti Zainal adalah jodoh yang dikirim Tuhan yang diberi petunjuk oleh jalur langit", ucap Indah.
"So.. Apa yang kamu ragukan", ucap Indah kemudian.
Tak disangka Zainal menghampiri mereka berdua, karena ini adalah saatnya Zainal menyelesaikan masalahnya. Duduklah Zainal didepan mereka berdua. Dan betapa terkejutnya Maryam. Maryam melihat Indah. Indah pun hanya tersenyum.
"Apa Zain dari tadi dibelakang? apa dia mendengarnya? Haduh gas wat ini kalau Zain mendengar semuanya. Gimana nih", itulah batin Maryam dengan wajah kebingungannya.
"Assalamualaikum Maryam, ketemu lagi kita", ucap Zainal.
__ADS_1
"Waalaikumsalam.. Iya hehe", ucap Maryam.
"Sebentar-sebentar jangan bilang ini rumah Zainal?", tanya Maryam.
"Iya, selamat datang di gubuk ku", ucap Zainal.
"Hah lo bilang ini gubuk? Gubuk yang sebesar ini?? Ini tuh rumah ya bukan gubuk", ucap Maryam.
"Iya kan cuman pribahasa", ucap Zainal.
"Oke.. Ku ulangi lagi deh. Selamat datang di rumah ortuku", ucap Zainal.
"Terserah lo dah. Btw makasih lho ya udah di undang dirumah ortumu", ucap Maryam sambil tersenyum.
"Eh.. Gue pamit undur diri dulu ya", ucap Indah sambil berdiri.
"Gak Lo harus nemenin gue bestie", ucap Maryam.
"Gue kebelet nih bestie", ucap Indah.
"Ndak bisa, lo pasti alasan kan, mau ninggalin kita berdua", ucap Maryam.
"Hah lo bilang gue setan. Parah lo sebagai bestie", ucap Indah.
"Dah bodo amat gue mau pergi. Dadaaaaa", ucap Indah sambil lari kesamping.
"Indah.. Indah.. Ih jahat banget si lo Indah", ucap Maryam dengan muka yang sebel.
"Jangan bilang ini rencana elo", tuduh Maryam.
"Jangan su'udhzon begitu, ndak baik", ucap Zainal.
"Habisnya si kita ditinggal berduaan", ucap Maryam dengan pasrah.
Hening.. hening.. dan hening... Setelah beberapa menit kemudian Zainal mencairkan suasana.
"Aku mencintaimu karena Allah", ucap Zainal.
__ADS_1
Deg.. Satu kalimat yang membuat jantung Maryam berhenti berdetak beberapa detik dan berdetak kencang, sekencang putaran bumi. Eak..
"Maaf aku gak bisa. Besok aku mau ta'arufan", ucap Maryam dengan senyuman palsunya. Karena Maryam juga mencintai Zainal. Tapi Maryam sudah ambil keputusan. Dan tak mungkin membatalkannya. Pasti membuat kecewa dan malu ortunya.
"Kamu udah yakin dengan keputusan mu?", ucap Zainal.
"Insyaallah yakin", ucap Maryam tapi penuh dengan keraguan.
"Aku tahu kamu ragu dengan pilihanmu", ucap Zainal yang benar-benar tepat apa yang terjadi.
"Aku harus gimana. Disisi lain aku juga mau bahagia, disisi lain juga aku gak mau nyakiti hati sahabatku", ucap Maryam.
"Bukannya kamu dari udah mendengar jawaban Indah?", tanya Zainal.
"Kenapa harus bimbang", ucap Zainal.
"Bukan hanya itu. Bagaimana dengan ortuku? Keluargaku?. Ya walaupun yang datang hanya keluarga inti. Tapi tetapkan ada rasa kecewa dan malu. Aku gak mau bikin semua itu. bukan hanya keluargaku tapi keluarga Mas Hafidz", ucap Maryam.
"Gini ya mana ada orang tua yang tak mau anaknya bahagia dengan orang yang dicintai. Mana ada si orang tua yang lebih memilih anaknya menikah dengan orang yang tak dicintai. Kecewa dan malu pasti. Tapi orang tua juga ingin melihat anaknya bahagia dengan pilihannya. orang tuamu pasti mengerti", ucap Zainal.
"Tapi ini pilihanku", ucap Maryam.
"Kamu memilihnya karena apa? Terpaksa kan?", ucap Zainal.
"Demi sahabatmu kan?", ucap Zainal kemudian.
Maryam diam seribu bahasa dan tidak menjawab pertanyaan Zainal.
"Kamu boleh mikirin kebahagian orang lain, tapi kamu juga harus memikirkan kebahagiaanmu juga", ucap Zainal.
"Kamu pernah dengar kata-kata gini gak? Bahagiakan dulu diri sendiri baru orang lain. So.. Kamu tahu kan apa yang kamu lakukan", ucap Zainal.
Maryam mencermati kata demi kata. Hanya tersenyum yang bisa ia lakukan.
"Aku udah Istikharah jawabannya kamu. Seperti jawaban sholat istikharah mu", ucap Zainal.
.
__ADS_1
Jangan lupa like dan vote biar saya makin semangat update nya, its ok👌. Dan terimakasih udah mampir di sini. Ikuti kelanjutannya ya😊, Selamat membaca🤗