
"Kenapa Adek mau ta'arufan sama Mas? kan kemarin pas di acara tantemu kan kamu bilangnya tidak mau dan udah punya someone. Dan pula acaranya mendadak juga. Apa kamu benar-benar ingin hidup sama Mas?", ucap Dosen Hafidz.
Deg.. Pertanyaan yang males dijawab bagi Maryam. Pasalnya Maryam gak mau bohong. Dan jika berkata jujur pasti membuat sakit hati Dosen Hafidz. "Tuh kan udah ku duga. Pasti pertanyaannya seputar itu, gimana nih jawabnya", batin Maryam.
Emm..emm.. hanya itu yang bisa dilakukan Maryam.
Dan bunyi nada dering Hp nya Shinta menghentikan jawaban Maryam.
"Eh Mbak Maryam, Mbak Mela nelpon nih. kira-kira ada apa ya", ucap Shinta.
"Tumben dia nelpon. Dan sejak kapan kalian saling save nomornya Mela", ucap Maryam.
"Ya sejak Mbak kalo dihubungin lama bales nya dan lama ngangkatnya", ucap Shinta.
"Pantes dia selalu kasih info tentang lo", ucap Maryam.
"Angkatlah siapa tahu penting", ucap Maryam.
Shinta kemudian kebelakang untuk mengangkat telponnya. Karena takut mengganggu.
"Mela itu siapa", tanya Dosen Hafidz.
"Mela itu bestieku", ucap Maryam.
"Oh.. Mela itu yang kembar bukan? Yang satu kelas sama kamu?", ucap Dosen Hafidz.
"Yups benar sekali", ucap Maryam.
"Jadi kemarin mereka bertiga bestie mu?", ucap Dosen Hafidz.
"Iya.. Sebenarnya sahabatku 5 termasuk aku", ucap Maryam.
"Trus yang satunya", ucap Dosen Hafidz.
"Satunya namanya Indah, dia mahasiswi kampus lain dan dia baru wisuda kemaren lusa", ucap Maryam.
"Kog bisa punya temen dari kampus lain? Apakah rumah kalian berdekatan?", ucap Dosen Hafidz.
__ADS_1
"Nggak dekat si dan mayan jauh. Kita sahabatan dari MTs", ucap Maryam.
"Awet juga ya persahabatan kalian", ucap Dosen Hafidz kagum.
"Iya dong", jawab Maryam dengan bangga nya mempunyai sahabat seperti mereka.
Muncullah Shinta yang habis mengangkat telpon Mela.
"Eh Mbak.. Mbak dapat salam dari Mbak Mela. Katanya disuruh datang ke alamat ini", ucap Shinta.
"Hah.. Ngapain Mela nyuruh datang kesitu. Rumah siapa ini" ucap Maryam yang bingung. Pasalnya Maryam gak tahu rumah itu. Yang ternyata rumah Zainal.
"Mana gue tahu", ucap Shinta.
"Mungkin penting", lanjut Shinta.
"Tapi kog gak nelepon Mbak ya", ucap Maryam.
"Coba check hp Mbak", ucap Shinta.
Maryam pun langsung berdiri, karena tidak mau terjadi sesuatu dengan sahabat nya.
"Aku pamit dulu ya Mas", ucap Maryam.
"Mau saya antar?", ucap Dosen Hafidz.
"Nggak perlu", tolak Maryam.
"Aku takut terjadi sesuatu denganmu seperti tadi", ucap Dosen Hafidz.
"Nggak perlu khawatir kan ada 2 adikku", ucap Maryam.
"Tapi" ucap Dosen Hafidz yang belum selesai di potong oleh Maryam.
"Kumohon biar aku sendiri kesana. Ini masalah sahabatku", ucap Maryam.
"Aku juga ingin kenal sahabatmu. Kamu gak ingin memperkenalkan ku sebagai calon suamimu", ucap Dosen Hafidz
__ADS_1
"Bukannya gak mau ngenalin ya. Besok ada waktu sendiri. Ini benar-benar sangat penting. Jadi stop untuk ikut campur ya Mas. Aku tahu kita mau serius. Tapi jangan maksa kehendak ku. So don't meddle in my personal affairs. You understand", ucap Maryam dengan nada agak ditekan. Karena Maryam pribadinya gak suka ada orang yang ikut campur dengan urusannya.
"Yes understand. Mas hanya khawatir saja", ucap Dosen Hafidz.
"Gak perlu khawatir aku udah besar dan ada dua adikku yang siap menjagaku", ucap Maryam.
"Ya udah oke hati-hati dijalan ya", ucap Dosen Hafidz.
"Nanti biar aku ikutin aja ah", batin Dosen Hafidz.
"Dan jangan ikutin aku", ucap Maryam yang seakan-akan tahu apa yang di batin oleh Dosen Hafidz.
"Kog dia tahu ya, keren nih", batin Dosen Hafidz.
"Awas kalo mas Hafidz buntutin aku. Aku bakal marah dengan Mas dan bahkan lebih", ucap Maryam dengan penuh penekanan.
"Baik tuan putri", ucap Dosen Hafidz dengan pasrah.
"Mungkin aku harus kasih kepercayaan buat Maryam. Itung-itung latihan saat menikah nanti", batin Dosen Hafidz.
"Ya udah kami pergi dulu assalamualaikum", ucap Maryam.
"Waalaikumsalam", ucap Dosen Hafidz.
Pergi.. pergi.. Maryam pergi dari hadapan Dosen Hafidz.
"Kog Kakak bisa tahu ya kalau Dosen Hafidz mau ngikutin kita", pertanyaan polos Amel.
"Nggak tahu, feeling aja", ucap Maryam sambil buka pintu mobil.
"Hebat Kakak gue", ucap Amel sambil mengasih jempol ke Maryam. Dan berjalanlah mobil sesuai dengan map yang dikirim Mela.
.
Akankah dosen Hafidz mengikuti Maryam? ikuti terus yukk..
Jangan lupa like dan vote biar saya makin semangat update nya, its ok👌. Dan terimakasih udah mampir di sini. Ikuti kelanjutannya ya😊, Selamat membaca🤗
__ADS_1