
"Kamu kenapa Kai?" tanya Bunda yang sejak tadi memperhatikan putrinya. Sejak bergabung di meja makan Bunda melihat wajah masam Kaira yang begitu ketara.
Kaira menggelengkan kepala sedangkan yang lainnya hanya diam melirik sambil melanjutkan makan. Regan yang tentu tau saat ini istrinya sedang bad mood hanya bisa diam dengan menghela nafas berat.
Setelah makan Kaira bergegas membantu membersihkan kemudian masuk kamar, Regan yang masih menunggu di ruang keluarga bersama dengan Ayah hanya diam memperhatikan. Regan menundukkan kepala dengan mengulum senyum.
Malu andai kedua mertuanya tau jika ia gagal merayu, sampai Kaira terus merajuk.
"Ikut lah ke kamar, dia hanya butuh di sayang dan di manja! Ayah yakin kamu bisa meluluhkan hatinya."
"Baik Ayah." Regan segera pamit dan menyusul Kaira ke kamarnya, beruntung Kaira ingat jika ada suami yang masih di luar sehingga pintu tak di kunci dari dalam.
Regan masuk namun tak menemukan Kaira di sana, kemudian duduk di ranjang menunggu istrinya yang kemungkinan sedang berada di dalam kamar mandi.
Dan benar saja, tak lama pintu kamar terbuka. Kaira telah melepas hijab dan melangkah melewati menuju sisi ranjang yang masih kosong. Melihat Kaira mulai memejamkan mata, Regan pun ikut naik dengan merapatkan posisi.
"Mau tidur siang?" tanyanya dengan tangan yang mulai ingin memeluk namun secepatnya Kaira membalikkan tubuhnya hingga membelakangi Regan.
Gemas, itulah yang Regan rasakan saat ini. Kaira benar-benar menguji nyali. Membuatnya ingin menarik tubuhnya lalu mengunci rapat agar tak bisa bergerak. Namun kali ini Regan tak berani bertindak semaunya, mengingat ngambeknya Kaira lumayan lama.
"Aagghh...." tubuh Kaira tersentak merasakan tengkuknya yang terlihat di sesap dengan pria yang ada di belakangnya.
"Regan! kamu pikir lagi mengawini kucing!" kesal Kaira yang kemudian memberinya dan segera berbalik menatap Regan yang hanya diam dengan wajah memerah.
Ada saja ulah pria itu, baginya jika Kaira tak dapat diluluhkan dengan kata-kata maka perlu tindakan yang tiada duanya. Dan berhasil, kini Kaira menghadapnya meskipun ia harus menahan sesuatu yang menyiksa.
"Re!"
"Apa sayang?" lirih Regan dengan menatap Kaira dengan sorot berbeda. Namun ia tak mau membuka kegiatan di siang menjelang sore seperti ini. Akan tidak aman dan takut ada lagi gangguan.
"Muka kamu kenapa?" tanya Kaira yang ingin marah namun tidak jadi di teruskan setelah melihat wajah Regan seperti tomat.
__ADS_1
Kini justru Regan yang hanya diam menggelengkan kepala dan membelakanginya. Kaira mengernyit bingung dengan sikap Regan yang tiba-tiba kalem dan berhenti merusuh. Padahal jelas tadi suaminya menggoda, tapi justru kini diam menghindar.
"Aneh..." Kaira pun tak memusingkan, ia kembali dengan posisinya membuat keduanya beradu punggung.
Hingga sore keduanya tertidur dan kembali bangun dengan posisi yang sudah berbeda. Kaira membuka mata dan menatap mata Regan yang juga terbuka. Ia baru sadar akan posisinya yang memeluk Regan dengan begitu erat, bahkan dengan nyaman singgah di dada bidangnya.
Regan tersenyum tipis melihat wajah panik Kaira dan menghentikan pergerakan Kaira yang ingin melepaskan.
Cup
Regan mengecup pipi Kaira dengan gemas dan segera beranjak dari ranjang. "Sudah sore sayang!"
Sontak Kaira melihat jam dinding yang kini sudah menunjukkan pukul setengah lima sore.
"Belum sholat ashar," Kaira segera beranjak dan mencari hijab, merusuh ke kamar mandi nya akan sangat tidak mungkin. Kemudian dia memutuskan untuk keluar kamar.
"Nyaman banget sampe nggak berasa udah sore!" celetuk Haidar saat Kaira keluar dari kamar mandi dengan wajah basah. Tadi dia di buat terkejut dengan kedatangan kakaknya yang tiba-tiba membuatnya hampir terjatuh saat beranjak selesai sholat.
"Loh dari mana?" Tanya Regan yang sedang melipat sarung dan mendekati Kaira. Tanpa di minta Kaira mencium tangan Regan dengan takzim dan segera melepas hijab yang kini tampak basah karena rambutnya yang sudah di keringkan.
"Mandi di kamar Haidar," jawabnya kemudian meraih hairdryer untuk mengeringkan rambutnya.
"Sudah sholat?" tanyanya lagi dengan tatapan berbeda.
"Sudah di kamar Bunda."
Regan menganggukkan kepala dan duduk di pinggir ranjang dengan mengamati wajah istrinya dari pantulan cermin. "Lain kali jangan mandi di kamar Haidar!"
Kaira tak menjawab namun cukup paham dengan maksud dari ucapan suaminya. Kemudian segera mengambil pakaian ganti serta hijab yang senada.
Menjelang makan malam Kaira dapat panggilan dari Pak Dito, ia segera melepas mukenah dan beralih duduk di kursi meja rias.
__ADS_1
"Assalamualaikum Pak."
"Wa'allaikumsalam Bu Kaira, maaf jika saya mengganggu. Hanya ingin mengingatkan jika tiga hari lagi sudah kembali mengajar."
Kaira menganggukkan kepala, " Makasih Pak Dito sudah mengingatkan. Mungkin lusa saya sudah sampai sana."
Regan menyimak, dia yang masih memegang tasbih masih terus bergumam sampai Kaira selesai berbicara dan meletakkan kembali ponselnya di atas nakas.
Regan tersenyum dan melipat sajadah lalu keluar kamar tanpa sepatah kata pun membuat Kaira tercengang melihatnya dengan tatapan heran. "Dia kenapa?" Kaira segera merapikan hijabnya dan segera keluar kamar.
Setelah makan malam, Regan ikut Ayah Dimas duduk di ruang keluarga. Kemudian Kaira dan Bunda pun ikut mendekati. Duduk di samping Bundanya dengan menyalakan televisi.
"Ayah, maaf sebelumnya. Regan mau ijin sama Ayah untuk membawa Kaira ke rumah yang telah Regan siapkan."
deg
Kaira yang sedang makan salak sampai kewalahan karena hampir saja bijinya ikut ia telan.
"Pelan-pelan Kai!" sentak Bunda yang sempat terkejut dengan kelakuan putrinya.
Kaira tak menjawab, ia segera menoleh ke arah Regan yang sedang serius berbicara dengan Ayahnya. Tak ada pembicaraan sebelumya namun dengan mudah ingin memboyongnya.
"Regan, Kaira saat ini sudah menjadi tanggung jawabmu. Ayah sudah menyerahkan Kaira padamu, jadi bimbing dia menjadi istri Sholehah dan tempatkan dia di tempat yang layak dengan selimut agama yang menjaga rumah tangga kalian. Agar terus terlindungi dari apapun yang akan menghancurkan."
"Terima kasih Ayah..."
Sampai di kamar, Regan masih senantiasa dengan diamnya. Kaira di buat geregetan karena sebelumya ia yang sibuk di rayu namun malam ini ia yang sibuk memikirkan sikap Regan yang berubah. Hingga Kaira tidak sabar dan segera mendekati Regan yang sudah mulai menempati sisi ranjangnya.
"Kenapa ingin pindah tidak bilang dulu sebelumnya?" Tanyanya setelah duduk di samping Regan.
Pria itu kembali membuka mata, melihat Kaira yang kini tengah menatapnya dengan tatapan kesal.
__ADS_1
"Lalu bagaimana kamu yang ingin kembali ke Jogja dan bekerja tanpa meminta ijin dari ku? Lebih baik mana dengan aku yang sudah lebih dulu meminta ijin dengan walimu?"