
Sampai di rumah Kaira segara bebersih lanjut sholat ashar. Kini doa akan di berikannya keturunan yang Sholeh dan Sholehah tersimpan rapi di penghujung kata sebelum salam. Harapan itu mulai ada, mungkin kemarin ia lupa jika menikah anak menjadi yang utama.
Dan adanya ucapan pedas Bu Nola menjadi pengingat untuk dirinya agar serius meminta. "Aamiin....." Setelahnya Kaira segera bergegas turun ke bawah, mulai bebenah lanjut masak. Lelah, tapi bekerja ia yang minta. Mau meminta asisten rumah tangga pun Kaira rasa masih bisa melakukan sendiri.
Suara ketukan membuat Kaira dengan sigap membukakan pintu utama. Tak ada suara mobil tapi ada yang tiba-tiba datang. Kaira membuka pintu, ia melihat ada wanita paruh baya dengan wajah kalem keibuan berdiri membawa tas pakaian.
Kaira sempat ragu ingin bertanya, tapi dengan cepat orang tersebut menjelaskan. "Benar ini dengan Bu Kaira?"
"Oh i...iya benar Bu, ibu ini si_"
"Kenalkan Nyonya, saya Bi Jiah. Saya di pekerjakan oleh Pak Regan untuk menjadi pembantu rumah tangga di sini, kalo kata jaman sekarang mah asi....asa...asu..aduh apa ya?" beliau menggaruk kepalanya dengan wajah bingung.
"Asisten rumah tangga Bi!" ucap Kaira membantu si Bibi yang kebingungan. Lucu sekali wajahnya, ingin tertawa takut dosa. Tapi cukup menghibur meski sedikit ngawur.
__ADS_1
"Nah itu Nyonya, ribet ya kata-kata modelan sekarang. Kalo nggak Inggris nggak enak kali lidahnya ya Nyonya."
Kaira mengulum senyum, tapi ia tak juga cepat percaya. Meminta Bi Jiah untuk menunggu terlebih dahulu dan Kaira segera menghubungi Regan untuk memastikan.
"Bentar ya Bi!"
Kaira menempelkan ponselnya ke telinga, berulang kali panggilan tak kunjung di jawab hingga suara deru mobil sang suami jelas terdengar. Kaira segera mematikan ponselnya, pantas saja tak di angkat. Mungkin karena sudah dekat jadi biar sekalian di rumah.
Kaira melangkah mendekati mobil yang baru saja tiba. Mengulurkan tangannya pada Regan setelah suaminya keluar dari mobil.
Cup
"Eh main cium aja, nggak enak ada orang yang lihat! Sampe lupa salam kan jadinya." Sewot Kaira yang merasa risih karena ada Bi Jiah yang mengamati. "Wa'allaikumsalam..."
__ADS_1
"Orang siapa?" tanya Regan kemudian menoleh ke arah pintu dan melihat Bi Jiah yang mengangguk sopan. "Oh, itu...Iya sayang, aku minta beliau untuk membantu kamu di rumah. Kasian kamu masih kerja terus harus bebenah rumah sendirian. Bi Jiah ini adik dari Bibi yang membantu Mamah di rumah."
Kaira menganggukkan kepala, Regan selalu bertindak apapun tepat saat ia butuh. Sempat mengeluh lelah dalam hati tapi tetiba belum ada satu jam sudah datang apa yang ia butuhkan. Dasar Regantara.... Suami ajaib.
"Mari masuk Bi, saya minta tolong ya Bi, istri saya ini capek banget masih melayani suami terus kerjain tugas rumah juga. Saya minta tolong di bantu ya Bi!" Regan merangkul sang istri masuk kedalam rumah. Dengan patuh Bi Jiah mengiyakan dan segera mengikuti langkah keduanya masuk.
"Tapi Re...aku masih mau masakin kamu loh!" protes Kaira takut Regan benar-benar tak memperbolehkan dirinya bebas untuk keluar masuk dapur karena sudah ada orang yang di tugaskan olehnya.
"Boleh dong sayang, karena nggak ada yang paling nikmat selain masakan istri aku!" Regan mencuri ciuman di pipi Kaira, menimbulkan suara nyaring khas kecupan dan meninggalkan pipi yang merona.
"Re!" Dengan cepat Kaira segara melangkah menaiki tangga menuju kamar meninggalkan Regan yang akan bahaya jika dirinya terus di sana.
"Maklum ya Bi, istri saya cantik kan? gemesin lagi!" ucap Regan sambil terkekeh dan segara menyusul sang istri.
__ADS_1
Bibi hanya bisa menggelengkan kepala dengan tersenyum hangat. "Oalah.... La yo masih baru, ibaratnya kayak ee' ayam. Tapi mudah-mudahan terus awet, langgeng dan hangat." Beliau segera menuju dapur yang ia lirik masih berantakan. Meletakkan tasnya lalu dengan gesit membereskan perabot kotor bekas Nyonya nya masak.