
Papah Tio memutuskan untuk pulang tidak lama setelah Mamah Ceri menutup ponselnya, bukan hanya Papah Tio tetapi Bunda Sella dan Ayah Dimas, serta Naira dan keluarganya. Kabar kehamilan Kaira menghebohkan keluarga. Mereka begitu cepat meluncur dan kini memenuhi ruang tengah.
Mereka menyambut dengan bahagia, haru dan takjub. Bagaimana tidak jika Regan sejak tadi diacungkan jempol oleh ketiga pria yang datang, Papah, Ayah dan Kakak ipar. Ketiganya menganggap Regan hebat karena begitu cepat tancap gas.
"Anak Papah memang hebat, mumpung lahan masih basah ya Re, jadi hajar terus!" ucap Tio dengan bersemangat.
"Tandur Re...Tandur!" sahut Mas Wawan sedangkan Ayah Dimas hanya menggelengkan kepala dengan tertawa kecil.
Namun, hal itu membuat Regan malu bahkan kini wajahnya nampak merona karena mendadak ingat akan aksinya setiap malam. Sebenarnya lebih banyak memaksa sang istri dari pada Kaira menyerahkan diri secara suka-suka tetapi, malah cepat menghasilkan meskipun agak sedikit keras.
"Jangan terus kalian goda menantuku ini! Lihat saja wajahnya sudah memerah." Ayah Dimas membuat Regan semakin di perhatikan, bukan hanya dengan Papah dan Wawan tetapi, para Ibu-ibu yang berada di seberang mereka. Kaira pun melirik sang suami yang kini hanya mengulum senyum dengan menundukkan kepala.
"Tetapi Bunda bangga sama kamu Kai, sepertinya setelah Bunda jarang kesini kamu lebih giat menjaga tubuhmu. Saran Bunda diterima dengan baik dan berhasil dengan adanya adik Kalandra."
Dengan cepat Kaira menoleh ke arah Bunda nya, kini dia paham maksud sang Bunda. Jadi, saran itu agar suaminya semakin sayang dan meminta setiap malam. "Dasar Bunda." Kaira menghela nafas kasar, dengan bibir mengerucut.
"Jangan merajuk! Kamu juga pasti suka kan?"
"Entahlah Bunda," jawab Kaira kemudian membuang muka menutupi pipinya yang tak kalah merona dari sang suami.
"Kalandra pasti tidak akan kesepian lagi ya Sayang, sebentar lagi akan punya teman," ucap Mamah Ceri yang memangku Kalandra. Anak itu nampak ceria karena melihat banyaknya orang yang datang. Kalandra pun sudah mulai aktif, dan mulai belajar tengkurap dengan banyak tingkah yang membuat keluarga nampak gemas.
Sejak tadi pun Nana dan Nunu tidak jauh-jauh dari Kalandra. Kedua bocil itu bilang jika Kalandra lucu dan sangat senang menggodanya.
"Mbak, tolong potongkan buah ya, lidahku agak masam ingin yang seger-seger," titah Kaira dengan menyematkan senyuman.
__ADS_1
"Baik Bu," jawab Mbak Yatni patuh.
"Minta bantuan mas Yanto ya mbak, jangan lakukan sendiri!" seru Kaira lagi.
"Siap Bu."
Kaira nampak lega karena mas Yanto siap siaga membantu istrinya. Mereka selalu bekerja sama dengan baik membuat Kaira salut atas kekompakan keduanya.
"Mbak Yatni sudah berapa bulan Kai?" tanya Bunda yang tadi sempat memperhatikan perut Mbak Yatni.
"Sudah menginjak tujuh bulan Bun, tetapi kerjanya masih rajin. Suami istri itu saling membantu, Alhamdulillah Kaira tidak kelelahan selama ini."
"Syukurlah, nantinya juga bisa main sama anak-anak," sahut Mamah Ceri.
"Iya, ramai rumah Kaira nantinya Mah," sahut Kaira.
Beruntung di kehamilan kali ini, kaira tidak banyak mengeluh. Mengidam pun masih di batas aman dan tidak merepotkan sang suami. Di tambah lagi Kalandra yang super anteng dan jarang rewel, banyak main dan terlihat begitu sehat.
Kini di usia setengah tahun, Kaira sudah mulai kewalahan dengan Kalandra yang mulai pintar merangkak dan sedang belajar duduk. Harus benar-benar mengawasi karena sedang sangat aktif.
"Kalandra ini nggak boleh di makan Sayang! Aduh anak Mamah ini." Kaira melepaskan mainan yang sudah basah karena sempat digigit oleh Kalandra, mungkin karena gusinya mulai gatal dan ada beberapa yang sudah terlihat putih.
Kaira memutuskan untuk mengambil cemilan untuk Kalandra agar bisa memakannya sendiri dan melupakan mainan yang ia gigit tadi. Namun, saat Kaira tengah menyiapkan makanan itu, Kaira melihat mas Yanto nampak kelimpungan menyiapkan barang dengan berlarian kesana kemari.
"Mas, ada apa? Kenapa seperti orang panik begitu?" tanya Kaira yang penasaran.
__ADS_1
"Istri saya mau melahirkan Bu, sudah mulas katanya. Permisi Bu," ucap Mas Yanto kemudian kembali masuk ke dalam kamar dengan tergesa-gesa.
Kaira pun segera menengok ke kamar mereka setelah memastikan jika Kalandra aman di tinggal sebentar.
Kaira berdiri di ambang pintu, dia melihat ke arah ranjang, ada Mbak Yatni yang tampak kesakitan. Air ketubannya sudah pecah dan Kaira dengan cepat melangkah menuju kamar untuk mengambil kunci mobil.
Kaira melangkah dengan hati-hati hingga kembali lagi ke kamar pembantunya. "Mas, ini pakai mobil saya saja! Dan cepat bawa Mbak Yatni karena itu air ketubannya sudah keluar."
"Baik Bu, terimakasih." Mas Yanto meraih kunci mobil yang Kaira berikan dan segera membantu istrinya untuk berjalan keluar.
"Jangan panik Mas, Mbak, hati-hati di jalan ya!" seru Kaira yang melihat suami istri itu sudah berjalan semakin menjauh menuju mobil yang terparkir di garasi.
Kaira segera kembali mendekati Kalandra, anaknya nampak sibuk mengigit makanan yang Kaira berikan. "Pintarnya anak Mamah, di tinggal sebentar nggak nakal ya Sayang..." Kaira membuai dan mengecup wajah Kalandra dengan sayang. Mungkin setelah ini dia sedikit kerepotan karena Mbak Yatni yang sedang melahirkan dan butuh waktu untuk kembali bekerja.
Kabar akan lahirnya anak mbak Yatni dengan jenis kelamin perempuan membuat Kaira nampak begitu senang. Kaira segera mencari pakaian dan segala kebutuhan bayi perempuan di online shop. Dia berencana akan menyiapkan semuanya sebelum Mbak Yatni dan baby nya di bawa pulang.
Pernak-pernik dan pakaian serba pink kini telah Kaira tata rapi di kamar Mbak Yatni. Dengan di temani Kalandra yang main di karpet bulu yang Kaira gelar, membuat Kaira nampak leluasa menghias kamar itu. Dia pun tidak terganggu dengan keadaannya yang sedang hamil. Kaira begitu senang dan bahagia dengan rasa syukur yang melimpah.
"Sayang, lagi ngapain di sini?" tanya Regan yang baru pulang.
"Mas, sudah pulang, maaf tidak menyambut mu. Aku begitu senang menghias ini semua." Kaira memperlihatkan hasil dari kerjanya membuat Regan tertegun melihatnya. Di saat hamil begini dan masih sibuk mengurus Kalandra sendirian, Kaira begitu aktif dan sehat. Regan tersenyum kemudian menoleh ke arah istrinya.
"Apa kamu menginginkan anak perempuan?" tanya Regan, karena dia melihat senyum Kaira yang berbeda. Senyum Kaira begitu lepas dengan mata berbinar.
"Sebenarnya iya, tetapi sedikasihnya saja Mas. Yang penting lancar dan sehat."
__ADS_1
"Jika yang lahir jagoan lagi berarti kita harus lebih giat lagi sampai mendapat anak perempuan," ucap Regan yang kemudian mengecup perut Kaira dan meraih tubuh Kalandra untuk di ajak keluar kamar.
"Giat dia bilang, modusnya kamu aja Mas."